
Double ting!
Kedua gadis imut itu buru-buru menyambar ponsel masing masing. Mata mereka spontan berbinar setelah mendapat balasan dari para pujaan. Bunda Gina yang sedari tadi fokus menonton itupun terganggu karena teriakan kedua gadisnya, bagaimana tidak? Ia duduk di apit oleh Senja dan Risa.
"Bintang-bintangnya bunda, ada apa sih? Kok teriak-teriak?"
"ini bun, KAK..," keduanya kompak berucap kata itu, sampai mereka terbingung sendiri.
Saling tatap sekilas dan bersiap..
"LANGIT!"
"ARKAN!"
Lagi lagi mereka berdua mengujarkan kata secara berbarengan dan dengan oktaf yang sama. Senja ingat akan kata yang keluar dari mulut Risa tadi. "Eh dek! Kita ke kamar aja yuk?" Usul Senja, ia ingin tahu maksud Risa.
"Ayo-ayo!"
Mereka beranjak. Alih-alih lupa akan pertanyaan bundanya tadi, bunda Gina yang masih duduk di sofa itu pun menegur. "Eh mau kemana? Jawab bunda dulu!"
Mereka saling membelakangi. Senja dan Risa saling tatap, itu bersarat makna. Bukan jawaban yang di dapat bunda Gina, melainkan ciuman manis untuk masing-masing pipinya. "Selamat malam bunda!" Kemudian keduanya berlari ke kamar Senja.
Bunda Gina terperanjat, kemudian hanya menggelengkan kepala seraya meraih remote dan memutar saluran Televisi.
****
20.08
Kak Langit
Ada apa?
Langit membalas pesan Risa yang sudah basi. Ia mengirim 3 hari yang lalu, namun Langit baru membalasnya tadi. Meski begitu, Risa selalu bisa memaafkan sikap Langit, karena baginya Langit hanya sedang menunjukkan bahwa dunia nyata dan mayanya seorang Langit adalah sama.
Gak ada kak.
Balas Risa singkat.
Oke.
Tak ingin kalah, Langit pun men skak Risa. "Ih! Kak Langit tuh ya? Spj banget, tanya lagi apa kek? basa basi apa kek gitu, ih ngeselin banget!"
Ponsel Senja
20.10
Kak Arkan
Besok jam 10 pagi, di toko bunda.
Mau apa kak?
Ada yang mau kakak omongin.
Oke. Aku tunggu.
Kemudian Senja menatap Adiknya yang sedang terlihat kesal. "Kenapa dek? Langit gak bales lagi?"
"Aku yang ga..,"
Ting!
Dengan tergesa-gesa ia membuka notif itu. Langit membalas pesan Risa, namun nampaknya Risa malah semakin kesal, sedangkan Senja membulatkan matanya tak percaya setelah membaca pesan yang dikirim Langit.
Kak Langit
Boleh minta id Line Senja?
"Kayanya Kak Langit suka sama kak Senja deh." Ujar Risa sembari berkaca-kaca.
Pendapat macam apa itu?
"Dek, apaan sih. Kamu tanya aja dulu kenapa dia minta id kakak!" Sarannya.
Risa hanya mengangguk pelan dan langsung mengikuti saran kakaknya itu.
Buat apa kak?
Tak perlu menunggu. Send, Read, Typing, Ting!
Kak Langit
Eri minta
Wah ini sih bisa-bisaannya Langit yak! "Eri? Siapa dia kak?"
"Ih itu temennya Langit!" Senja bergidik mengatakan itu.
Risa ber oh ria, di benaknya ada rasa ingin mengerjai Senja. Ia mengetikan sesuatu di kolom chatnya dan langsung mengirimnya kepada Langit. Tidak tahukah sifat dan jari jailnya itu akan membawa ia kedalam kesakitan.
Ini kak
Id Line : senjaapril
Siip. Thank's Risa.
****
"Gue mau pulang!" Eri dengan mata 5 watt-nya.
"Pulang sendiri!" Teriak Arif dan Falah. Sudah menumpang, tak tahu aturan. Dasar Eri.
Karena dikagetkan kedua temannya itu, akhirnya Eri tak lagi merasa kantuk. "Yaudah deh, lanjut mabar yok lah?"
"Let's go!"
Dua curut itu melanjutkan mabarnya. Sedangkan Arif berkutat dengan ponselnya, kekasihnya itu nampaknya tengah mengajak Arif untuk berlibur bersama.
Langit, jarinya terus bermain dengan mesin ketik ponselnya. "Kirim?" Batinnya. "Jangan! Jangan!"
Gadis itu pasti sudah tidur sekarang, namun itu pointnya! Langit tak akan kaget, karena ia bisa mendapat kejutan di pagi hari nanti. "Lang! Jadi gimana nih? Kalau kita gak liburan bareng, gue sama Lia mau liburan ke villa orang tuanya." Ujar Arif
"Eh rif! Gue ikut dong..!" Pekik Eri yang mata dan jarinya sibuk.
"Enak aja, gak ada! Lang gimana?" Melihat sekilas kepada Eri.
"Eum.. besok gue kabarin."
Arif menghembuskan nafas, "Beneran besok ya!"
"Hm,"
"Ya maaf! Abis nyokap gue nelpon nih!"
Eri ternyata di suruh pulang oleh ibunya. Karena memang jam sudah menunjukkan angka 00.34. Sungguh lelaki memang begitu, bermain sampai larut malam bukan masalah.
"Ini masalah. Di amuk mak gue inimah!" Kali ini ibunya mengirim pesan.
"Rif, ayo pulang!" Rengek Eri.
"Hm, Ayo! Eh Lang, lo juga pulang. Udah berapa malem lo gak pulang." Ucap Arif sembari menepuk bahu Langit.
"Hm, kalian duluan."
"Yaudah, yok bro! Kita duluan." Ucap Arif sambil berjabat tangan.
Setelah mereka semua pergi. Langit kembali memikirkan rencananya. Kali ini sungguh ia mengirimnya!
senjaapril
Senja?
Tak ada balasan. Mungkin gadis itu telah tenggelam dalam mimpinya. Langit hanya menghembuskan nafas, lalu melempar ponselnya ke sofa.
Line!
Awalnya ia hendak membersihkan diri, namun diurungkan, karena ponselnya kedapatan notif line!
senjaapril
Senja?
Langit? Bukannya Eri?
Langit menggaruk tengkuknya sendiri, ia tersenyum malu. Eh gadis itu belum tidur?
Belum tidur?
Belum lah, ini gue bales chat lo.
Oh iya
Kok lo sih? Bukannya Eri?
Bisa tolong di sudahi? Langit sudah berupaya mengalihkan pembicaraan, Senja.
Jangan dibahas.
Oh Oke.
Ada apa?
Tidur!
Langit, ada apa?
Tidur, Senja!
senjaapril
Calling
Langit melempar ponselnya ketika layarnya terdapat foto Senja. Ponselnya masih berdering, deg!
Angkat saja. Ini kesempatan. Sisi perinya keluar dan sisi jahatnya muncul. Jangan! Bicara apa nanti?
Ia menggelengkan kepalanya. Kemudian mengambil ponselnya dan berniat mengangkat telepon dari Senja.
Telat!
"Ah sial!" Umpatnya. Senja mematikan teleponnya dan tak membalas pesan Langit.
Line!
Notif! Langit tersenyum membaca balasan dari Senja.
Udah malem, lo tidur lang!
Telepon
Tadi gak diangkat!
****
Risa menginap di kamar Senja malam ini. Sehingga Senja harus pindah ke kamar Risa untuk sekedar berteleponan dengan Langit.
Kamar adiknya itu monoton, hanya ada poster-poster Bangtan Boys,ย cat kamarnya berwarna pink, meja belajar, lemari, kasur dan satu jendela. Eh bulan!
Langit30
Calling
"Halo?"ย
"Halo, ada apa lang?"
"Lo belum tidur?" Tanyanya. Suaranya terdengar indah dan menggemaskan.
"Eum, i.. iya belum."
"Tidur!"
"Enggak mau, sebelum lo jawab pertanyaan gue."
"Terserah!"
"Langit! Lo ngeselin ya! Jawab gak?"
"Enggak," sembari terkekeh
"Langit! Gue matiin nih teleponnya."
"Matiin aja!"
Tak ada yang tahu kelanjutan dari telepon antara dua sejoli yang dipisahkan ini. Diantara obrolannya, mereka sesekali menyelipkan tawa.
****
Rembulan menjadi saksi bahwa kita semakin dekat, dan entah kemana perginya gemintang, aku rasa ia adalah orang yang saat ini menciptakan dialog bersamaku, juga yang belum menikmati mimpi.
๐๐๐๐