
Suara riuh merdu dari burung menghias pagi Senja yang sejuk. Ia sengaja membawa sepeda kesayangannya ke sekolah, untuk menghemat pengeluaran. Meskipun itu akan menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolahnya.
"Cuma murid kelas bawah yang naik sepeda ke sekolah ini."
"Haha dia gak malu apa bawa sepeda?"
"Disini kan cuma ada tempat parkir mobil dan motor aja. Parkir sepeda dimana yaa? Haha."
Namun baginya, itu sudah biasa. Ia bahkan tak menginginkan sekolah ditempat mahal itu, hanya saja bundanya yang menginginkan Senja untuk bersekolah disana. Alasannya, karena sekolah itu adalah Sekolah Menengah Atas terdekat.
Senja menghela nafas jengah, kemudian seseorang datang merangkul bahu Senja. "DOR!" Lia mengangetkan
"Ih Lia, lo ngagetin tau gak?!"
"Hm, iya maaf deh, maaf. Kenapa sih? Masih pagi udah ditekuk aja tuh muka?" Kata Lia yang melihat Senja murung
"Li? Apa salah ya bawa sepeda ke sekolah?"
Lia terkekeh "Ya enggaklah. Malah itu bagus, sepeda kan kendaraan bebas polusi."
Senja tenang. Ia hanya butuh teman seperti Lia. Meski ia tahu, levelnya dengan Lia sangat berbeda, namun Lia tak pernah memilih-milih dalam berteman. "Eum.. makasih Lia. Lo emang temen paling the best." Kata Senja sembari merangkul Lia
"The best kan? Bukan the beast?"
Senja tertawa "Ya kalau lo mau? Kenapa enggak?" Tanya Senja yang langsung dapat tatapan sinis dari Lia
"Ya masa sahabatku yang manis ini the beast?" Sambil mencubit pipi Lia gemas
Lia meringis "Ih lo yaa? Kenapa sih suka banget cubit-cubit gue?" Sambil memegang kedua pipinya
"Abisnya lo itu..." terpotong
"Permisi?" Seseorang datang menghentikan candaan mereka
"Eh iya, ada apa?" Tanya Senja sopan
"Kantor?" Tanya orang itu
"Spj banget sih."-batin Senja dan Lia
"Dari sini lo lurus udah itu belok kanan, kantor adanya disebelah kanan." Kata Senja mengarahkan
Lelaki itu mengangguk mengerti atas ucapan Senja, tanpa berucap terima kasih. Ia pun meninggalkan Senja dan Lia.
"Apa? Udah gitu doang? Gak makasih atau ngasih uang dulu gitu?" Ucap Lia kesal
Senja menggelengkan kepala. "Udahlah. Yuk ke kelas." Menarik lengan Lia untuk kembali berjalan
Lia masih kesal dengan anak baru itu. "Udah lah Li. Ngapain sih dipikirin!" Kata Senja sembari memainkan ponselnya
"Ya abisnya, udah nanya spj, gak makasih pula. Kenapa sih cowok-cowok disini ganteng tapi gak punya etika!"
"Lah? Berarti Arif juga dong?" Kata Senja yang menyekak Lia
Lia menyengir "Ya tapi.. Arif itu beda."
Senja lagi lagi menggelengkan kepala. Ia memaklumi sahabatnya yang dalam mode kasmaran. "Ya ya ya, terserah lo."
"Eh iyaa, hari ini kan kita ada eskul." Kata Lia mengingatkan
"Hm, emang ada. Basket kan?" Kata Senja
Lia mengangguk mengiyakan. Tak lama guru datang untuk memulai pelajaran pertama.
****
"Sepi ya gak ada Langit?" Tanya Falah kepada Arif dan Eri
Mereka dalam satu meja, namun terasa sepi. Terdapat kejanggalan diantara mereka, Falah dan Arif saling tatap, mereka seakan berbagi rasa bingung, karena Eri diam saja semenjak jam pertama sampai waktu istirahat.
"Eh ri. Kok lo diem aja?" Tanya Falah
Namun Eri masih bungkam. "Udah ri. Kita berdoa aja buat Langit." Kata Arif sambil memegang pundak Eri
"Berdoa buat Langit?" Tanya seseorang yang tak sengaja mendengar perkataan Arif
"Eh.. i.. iyaa. Kita berdoa buat Langit." Ucap Arif salting
"Emang dia kenapa?" Tanya Senja yang duduk disebelah Falah dan Lia duduk disebelah Arif
Kali ini Eri berbicara, "Langit kece.. mph.. mph.." Arif membekap mulut Eri
Arif menyegir ke arah Senja "Maksud dia.. Langit kece, iya kece." Kemudian melepas bekapannya
Sebenarnya Arif sudah gatal ingin memberitahu gadis itu, tapi Arkan melarang ketiganya untuk tidak memberitahu keadaan Langit yang sebenarnya kepada siapapun.
Senja menyerngit "Kalian kenapa sih? Terus berdoa itu maksudnya apa?"
"Iya, emang Langit kenapa sih?" Tanya Lia yang membuat Arif dan Falah frustasi, sedangkan Eri kembali dalam mode diam saat sedang sedih.
Falah menatap Arif, membiarkan Arif yang menjelaskan "Langit.. dia.. " seseorang datang menyapa Senja
"Hai Senja?" Sapa orang itu, membuat Arif dan Falah lega, lalu membuang muka
"Eh, hai kak." Sapa Senja kepada Arkan
"Makan bareng mau?"
Senja menoleh kepada teman-temannya. "Li? Lo sama Arif aja yaa? Gue.."
"Hm, iya santai aja. Udah sana." Arif yang menjawab
Mereka tak menyukai kedatangan Arkan, karena bisa-bisanya ia mengajak Senja makan, sedangkan Langit terbaring dirumah sakit sendirian. Setelah mengantar Lia ke kelas, Arif, Falah dan Eri berencana untuk bolos sekolah dan menemui Langit.
Mereka pun membolos lewat belakang sekolah. Menaiki tembok yang sedikit tinggi, Arif menghentikan taxi yang kebetulan lewat dan bergegas menemui Langit dirumah sakit.
"Loh? Langit mana?" Tanya Arif kepada diri sendiri
Falah mengecek toilet, namun Langit masih tidak ada. Eri semakin frustasi, ia sangat khawatir kepada Langit. "Ri? Kok lo diem aja sih? Bantu cari napa?" Tanya Falah
"A... apa Langit ada di kamar jenazah?" Pendapat Eri ngawur namun berhasil membuat Arif dan Falah kalut
"Ri! Jadi lo diem karena mikirin itu?" Omel Arif
Falah menghentikan perdebatan "Ck, udah rif! Mending kita cari keluar."
Mereka pun pergi keluar untuk mencari Langit.
Namun nampaknya lelaki itu benar-benar tidak ada dilingkungan Rumah Sakit lagi. Arif pun menghubungi Langit.
"Gue coba telpon." Kata Arif, ia pun langsung menempelkan ponselnya ditelinga
"Gimana?" Tanya Falah
"Nomornya gak aktif." Ujar Arif
Itu semakin membuat mereka frustasi, pasalnya Langit semalam belum sadar dari pingsannya. Bisa dikatakan ia mengalami cedera serius, maka dari itu, ketiganya khawatir bukan main ketika menjumpai kasur tempat berbaringnya Langit kosong.
****
Yah? Langitnya kemana yaa? 😔