MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 22



Sepasang kekasih itu turun dari motor ninja berwarna merah. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah toko kue yang kala itu nampak ramai pengunjung untuk membeli kue mini maupun besar.


Senja membuka pintu toko tersebut, tatapannya beralih pada bundanya yang tengah kewalahan melayani satu persatu pembeli. "Kak, kakak duduk disini dulu. Aku mau bantu bunda."


"Butuh bantuan kakak?"


Senja menggeleng cepat "Enggak. Kakak duduk disini aja ya. Sebentar." Seraya mengisyaratkan tangannya untuk menahan Arkan


Senja berlari menuju pembeli yang mengantri dan mulai membantu ibundanya. Arkan menatap kagum wajah Senja yang terlihat panik kala itu. Segera ia memalingkan wajah pada desain toko tersebut dan beranjak untuk melihat-lihat.


Ia mengulum senyumnya, semakin terkagum pada gadisnya. Ia yakin tembok itu pasti coretan ekstetika dari kuas Senja. Sebab, jingga dan biru yang menghias tembok itu. Semburat-birunya menjadikan toko semakin hangat dan sejuk.


"Keren." Ujarnya


Suara dering telepon mengganggu kegiatan kagumnya. Ia pun dengan segera mengambil ponselnya disaku celana.


Ponsel Arkan


Mama Calling


Arkan mengangkat telepon dari mamanya itu.


"........."


"Hm.. ini Arkan lagi di jalan. Ada apa mah?"


"........."


"Apa??! Iya mah Arkan kesana." Dengan wajah khawatir Arkan langsung keluar dari toko bernuansa jingga dan biru tersebut


Senja melihat Arkan berlari, ia sempat memanggil dan mengejar, namun nampaknya lelaki itu tak memperdulikannya.


"Kak!" Panggilnya


Arkan melaju cepat dengan motornya, tak sedikitpun menoleh pada gadisnya yang terus memanggil.


"Kak!" Teriak Senja


Senja memandangi punggung Arkan yang semakin menjauh. Ada apa dengan lelaki itu?!


****


Arif dan Lia pergi ke suatu caffe kekinian, yang memang isinya hanyalah remaja. Bagi Arif ini adalah jatah untuk Lia-nya. karena pacar pertamanya, Oliv, ia selalu saja meminta untuk bertemu.


Lia terus senyum-senyum malu. Sekuntum bunga mawar putih dipegangnya, dihirupnya. Arif hanya tersenyum melihat itu, baginya Lia menggemaskan. Bagian yang disukai Arif dari Lia adalah pipinya, pipinya yang chubby dan merona.


Arif mencubit batang hidung Lia sembari terkekeh.


"Ar-rif." Bukannya marah, Lia malah semakin malu-malu.


"Udah dong, dimakan dulu."


"Kalau kamu suka bunganya, nanti besok atau bahkan setiap hari aku kasih." Lanjutnya


"Beneran rif?" Tanya Lia berbinar


Arif tersenyum. "Iya sayang. Makan. Nih minum.. cobain."


Lia meminum minuman melalui sedotan bekas Arif. Itu menambah rasa cinta keduanya. Arif merasakan getaran berbeda dengan Lia, yang bahkan tak pernah merasakan itu untuk Olivia Gracia.


"Rif, semasa pacaran, kita belum pernah foto."


"Foto yuk." Lanjutnya sembari menunjukkan melas wajahnya


Arif mengangguk seraya tersenyum. 1! 2! 3! Cheseee. 1, 2, 3, 4. Sekiranya beberapa gambar terabadikan.


"Oke." Lia melihat hasilnya dan mulai memposting fotonya itu di media sosialnya.


Sementara itu..


Tak jauh dari tempat Arif dan Lia duduk. Langit, Falah dan Eri ikut menemani.


"Nih kita cuma liatin mereka pacaran?" Tanya Eri pada Langit dan Falah


Sudah 1 jam lamanya mereka menunggu dan sesekali meneguk minuman dingin.


"Iyalah, kita kan nebeng sama dia. Mau gak mau kita ikut." Ucap Falah seraya menyeruput minumannya


Langit sudah muak dengan penampakan di caffe tersebut. Sana sini gandeng, bukan karena ia cemburu akan semua orang yang berkencan. Ia hanya tak kuat dengan aura yang dikeluarkan oleh mereka.


Langit beranjak dan melangkah. "Eh lang, mau kemana?" Teriak Eri


"Pulang!" Balas Langit yang masih setia berjalan menuju pintu keluar


****


Sudah beberapa kali ia melempar basket ke dalam ring, namun tak satupun yang lolos ke lubang berjaring itu. Begitupun dengan berbelas-belas pesan dan telepon yang ia lempar ke kekasihnya tak kunjung dapat balasan.


Keringat mengucur deras di wajahnya. Kepanasan. Kebingungan. Khawatir. Kiranya itulah yang menjadi alasan Senja tak fokus memainkan bola memantul itu.


Lemparan terakhir sebelum Senja roboh dan jatuh, bola itu jua meleset dan memantul kemanapun ia mau.


Senja dengan nafas ngos-ngosan. Menghembuskan kasar nafasnya. Diotaknya hanyalah "Ada Apa?"


Senja menoleh "Langit?" Masih dengan nafas terengah, ia bangkit dan menatap lekat Langit yang menghampirinya. "One by One?"


Pertanyaan Langit itu membuat Senja memasang wajah heran. Bukankah Langit bersikap sangat dingin kepadanya akhir-akhir ini?


"Takut?"


"Ta.. takut? Eng, enggak. Ayo aja."


Langit berlari dan mengambil bola yang tadi dilemparnya. Melemparnya kepada Senja. "Ladies First!"


Senja perlahan melupakan kejadian tadi. Senja mulai mendribble bola, Langit masih gagah berdiri di depan tiang ring, sampai akhirnya Senja berlari dan membuat Langit tertarik untuk menghadang Senja.


"Ini ambil kalau bisa." Goda Senja


Langit tersenyum, lalu mencolek pipi Senja. Sukses! Langit mengambil bola itu setelah Senja terpaku.


Ia mendribble sebentar, lalu men shoot ke arah ring. Dan...


"Yeah." Langit dengan kepalan tangan kemenangan


Senja masih terpaku seraya memegang pipinya yang terasa panas. Langit menoleh ke belakang, gadis itu ternyata tengah tersipu malu.


"Tomat rebus." Ujarnya


Senja kemudian sadar dan mulai memukuli Langit, "Ish! Curang!"


"Aw, aw iya maaf-maaf. Hehe." Tawanya terdengar merdu


Senja terus memukuli Langit sampai akhirnya mereka kejar-kejaran. "Lang! Jangan Lari!"


Langit menyerah dan memilih duduk ditengah-tengah lapangan dengan suasana jingga yang sedang menduduki waktu. Senja terlalu lelah untuk berlari lagi dan memilih duduk dengan Langit.


Mereka kemudian tertawa bersama. Lepas! Beban yang tengah bersarang tadi pun lepas. Senja mengambil ponselnya dan mem play salah satu lagu BTS 2! 3! Mereka pun menikmati lagu dan senja yang terpasang indah diantara birunya Langit.


Angin, jangan lupa terbangkan rambut tergerai milik Senja itu.


****


Arkan berlarian dilorong rumah sakit, setelah ia bertanya pada pihak administrasi. Kemudian ia berbelok, menemui kamar bertuliskan "Melati 580". Dengan tergesa ia membuka pintu kamar itu.


Gadis itu terbaring lemah. Mamanya, juga mama gadis itu terlihat sedang menatap gadis yang terbaring. Arkan mendekat. "Ar-" panggil mamanya.


"Dia kenapa mah?"


"Oppi mencoba mengakhiri hidupnya. Beruntung tante Elish ada."


Arkan menghela nafas, ini pasti salahnya. Ia mengabaikan Oppi karena ulahnya sendiri. Oppi frustasi, ia melukai nadinya. Gadis itu memang selalu nekad saat Arkan marah kepadanya. Pernah saat mereka masih berumur 13 tahun, Oppi nekad kabur dari rumahnya hanya karena Arkan lebih dekat dengan temannya yang lain.


"Oppi selalu pulang malam, dia juga gak mau ke sekolah, setiap kali pulang dia mabuk." Mendengar cerita Nyonya Elish, Arkan semakin terpukul.


"Bisa mama sama tante keluar sebentar?"


Saling tatap, kedua paruh baya itu pun mengangguk dan mendengarkan apa yang dikatakan Arkan tadi. Arkan meraih tangan Oppi yang tepat di nadinya terbalut perban dan berkata "Sampai kapan lo bakal kaya gini?"


"Gue memang sayang sama lo, tapi hanya sebatas sahabat, gak lebih. Lo bener-bener udah gue anggap seperti adik gue sendiri."


Arkan sangat tahu jika Oppi menyukainya. Dari tingkah laku Oppi kepadanya, bahkan perempuan yang dekat dengan Arkan selalu menjadi bahan bully an nya. "Itu Obsesi, bukan Cinta."


Ia kemudian mencium lama punggung tangan gadis itu dan menatap matanya yang terpejam.


Arkan menghembuskan nafas. "Maafin gue."


****


Part ini sedikit aneh ya, hhe tapi gimana?


Langit udah kembali jadi Langit yang Senja kenal.


Dan Arkan, dia malah peduli sama Oppi, teman kecilnya.


This klimaks Or Not?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tunggu aja yaa?😁