MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 17



Keringat bercucuran dari dahi Senja, gadis itu benar benar lihai memainkan bola basket. Setelah pemanasan, siswi yang mengikuti eskul tersebut ditanding. Sayangnya Lia tak termasuk tim Senja.


Senja mempermainkan bola basket itu dihadapan Lia. "Risna? Tangkap!" Ia pun melempar bola itu ke arah perempuan yang dipanggil. Bukannya tertangkap, bola itu malah mengenai kepala Risna.


Membuat Risna meringis kesakitan. Bola basket itu keluar lapangan dan pertandingan dihentikan sementara. Senja kelabakan melihat Risna yang terlihat kesakitan. "Duh, ris! Maaf ya, gue gak sengaja."


"Eh Senja! Risna tadi belum siap, kenapa lo malah lempar ke dia!" Omel Tiara yang sembari memegangi temannya, Risna


"Udah ti, gue gak apa-apa kok." Kata Risna memegangi kepalanya


Senja menunduk, ia merasa bersalah "Maaf, gue gak sengaja Ris.."


"Udah ganti Safira aja!" Senja tegak, kata-kata itu benar benar menyayat hatinya.


Tiara memanggil Safira. "Fir sini!" Yang dipanggil pun menghampiri kumpulan siswi itu


"Eh lo gak bisa kaya gini dong! Emang lo siapa main ganti-ganti orang?" Ucap Lia kesal


"Udah Li..." Kata Senja menenangkan sahabatnya yang tersulut emosi itu


"Gue pulang aja.." Lanjutnya


"Enggak! Eh Tiara!" Lia yang langsung menarik lengan Tiara dan membuatnya berhadapan dengan Lia


"Apaa?!" Tiara dengan mata melotot ke arah Lia


"Lo itu.." Lia menjambak Tiara yang kemudian mereka jambak-jambakan


Hanya Senja dan Risna yang mencoba melerai.


"Lo yang mulai DULUAN!" Kata Lia teriak


"Cewek cupu itu yang DULUAN!" Ucap Tiara yang membuat hati Senja perih


"CUKUP!" Teriak Senja yang kemudian mereka benar-benar berhenti


"Gue keluar!." Kata Senja yang langsung menuju tasnya dan pergi keluar lapangan


Lia melakukan hal yang sama. Kemudian ia mengejar Senja yang berlari menuju lokernya dan berniat mengganti baju olahraganya dengan baju seragam.


"Senja? Lo mau kemana? Kan latihannya belum beres. Lo mau ditegur sama pak Hendra?!" Senja menutup lokernya kemudian menatap Lia.


"Gue cuma gak mau nyari ribut Li." Kata Senja, meninggalkan Lia


Lia tahu Senja marah kepadanya. Ia tak henti-hentinya membujuk Senja yang tak kunjung keluar dari salah satu bilik toilet. "Senja? Lo marah ya sama gue?"


"Hiks.. Hiks.." tak ada jawaban, hanya suara tangis yang terdengar


"Eh, lo nangis ya? Please Senja! Jangan nangis! Gue minta maaf." Bujuk Lia


"Gue mau sendiri." Suara menggema itu milik Senja


Lia menghembuskan nafas pasrah "Yaudah gue pulang duluan. Lo pulang hati-hati."


Lia pun meninggalkan toilet. Sedangkan Senja masih sangat kecewa dengan apa yang dikatakan Tiara. Ia berpikir bahwa selama ini, hidupnya tak jauh dari bullyan.


"Kenapa selalu ada orang yang gak suka ke gue?"-Batin Senja menangis


****


Sudah hampir tiga jam Arif, Falah dan Eri mencari keberadaan Langit. Mereka bahkan sudah mencari ke rumah lelaki itu, namun masih belum terlihat batang hidungnya. Ketiga sahabat itu pun memilih untuk ke base camp/markas.


Eri yang sedari tadi diam itu pun membuka suara "Lo sih langsung cabut aja, kita kan belum nyari dikamar jenazah." Katanya yang kemudian mendapat pukulan dibagian kepala


"Lo doain Langit meninggal?" Tanya Arif


"Ya.. eng, gak. Bukan gitu maksud gue.." Kata Eri gugup


Arif dan Falah berdecak. Bagaimana bisa pemikiran Eri sampai sejauh itu?


Tringggg


Notifikasi muncul dari ponsel Arif. "Langit ya Rif?" Tanya Eri semangat


Falah dan Eri kembali mengerucutkan bibirnya.


14.45


Lianiku❤


Rif? Kamu belum pulang?


Udah kok sayang


Jangan bohong! Aku lagi disamping mobil kamu nih.


Arif memukul dahinya sendiri. Ia lupa bahwa mobilnya masih ada disekolah. "Gue balik ke sekolah dulu, lo berdua tunggu disini." Kata Arif berlari keluar


"Eh rif! Jangan lupa tas gue." Teriak Falah


"Jangan lupa tas gue juga." Eri berteriak


****


Senja keluar dari toilet dengan mata yang sembab. Ia berjalan sempoyongan menuju parkiran, berjalan dengan tatapan kosong ke depan. Yang ada dipikirannya hanyalah kata Cupu cupu dan cupu.


Lia terfokus pada ponselnya, sampai tak menyadari Senja yang lewat dan mengambil sepedanya. Senja yang melihat Lia dari kejauhan itupun hanya diam, tak ingin menyapa Lia untuk saat ini. Karena ia benar-benar hanya ingin sendirian.


"Arif mana sih? Lama banget." Ucap Lia bermonolog


Arif turun dari motor ojek online yang dipesannya, kemudian menghampiri Lia yang menunggunya kesal.


"Hai.." Sapa Arif kepada Lia


"Rif! Lama banget sih." Kata Lia dengan bibir cemberutnya. Membuat Arif mencolek dagunya


"Aku minta maaf deh. Udah dong ngambeknya, nanti cantiknya ilang." Goda Arif


"Eh iya, Senja kenapa? Kok dia kaya abis nangis?" Lanjutnya, Arif memang berpapasan digerbang dengan Senja


"Loh kok kamu tau? Senja kan belum keluar?" Tanyanya bingung


"Orang Senja keluar gerbang barusan." Kata Arif


"Yah. Aku gak liat dia tadi. Senja marah sama aku kayanya rif."


"Masalah?" Tanya Arif dengan alis terangkat satu


Lia pun menceritakan kejadian tadi kepada Arif. Arif hanya mengangguk-angguk meladeni setiap ucapan Lia. "Yaudah kamu mendingan minta maaf sama Senja nanti."


"Iya rif." Lia dengan nada tak semangat


"Kamu tunggu disini. Aku ke kelas bentar." Ucap Arif berlari menuju kelasnya


"Loh rif? Ck."


****


Senja melajukan sepedanya sedang. Ia masih dengan tatapan kosong, membuatnya tak fokus pada jalanan. Ia pun berhenti setelah sepedanya hampir menabrak seseorang didekat taman.


"Maaf pak. Maaf." Kata Senja pada bapak-bapak yang hampir ditabraknya


Bapak itu pun terus mengoceh "Kalau naek sepeda itu pake mata! Bla bla bla."


Sedangkan Senja terus menetralnya jantungnya untuk tidak menerima setiap perkataan bapak itu.


Setelah bapak itu meninggalkannya. Ia pun kembali mengayuh sepedanya menuju taman. Untuk menenangkan diri sebentar. Karena hari ini adalah hari yang sial baginya.


Saat menuju bangku favoritnya, ia sudah keduluan oleh seseorang yang memakai jaket kulit.


****


Kira-kira siapa ya yang lagi duduk dibangku favoritnya Senja ditaman?