MY PASTINY

MY PASTINY
Chapter 14



"Senja?"-Gumamnya


Langit langsung berlari dan melepas jaket jeansnya, membiarkan gadis itu hangat. Senja menatap Langit Sendu, membuat Langit semakin cemas melihat keadaan Senja.


"Gue takut..." kata Senja


Langit menarik Senja kedalam pelukannya, setidaknya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan gadis itu. "Ada gue."


Senja meregangkan tubuhnya dari tubuh Langit. Lalu menatap mata hitam pekat milik Langit, terlihat keseriusan disana. Walau dingin, tapi ia bisa menenangkan.


"Gue akan anter lo pulang." Ucapan Langit hanya dibalas anggukan oleh Senja


Langit menelusupkan jarinya diantara jari Senja. Menggenggamnya erat, lalu membawanya lupa akan peristiwa tadi.


"Bushet! Lang lo nemu cecan dimana?" Tanya Eri


"Ish, apaan sih loh!" Itu Senja. Ia kembali kepada mode cerewet


"Lo berdua jadian?" Tanya Arif melihat jari Langit yang merekat dijari Senja


Spontan keduanya melepaskan genggaman. Senja maupun Langit berdesir malu, terlihat Langit menggaruk tengkuknya dengan senyum tipis, sangat tipis,


Senja tersenyum "Dia ganteng kalau senyum."-batinnya


"Eh iya, Lo kenapa basah-basahan? Jangan-jangan..." Curiga Falah


"Heh! Awas ya lo, jangan ngeres!" Omel Senja


"Eh iya gue lupa, dia kan mak lampir, ups!" Ucap Falah pelan, sangat pelan


"Gue anter dia pulang, kalian duluan." Kata Langit


"Iya, gue juga gak mau jadi nyamuk kali ah." Kata Arif


Senja terlihat kesal, Langit hanya tersenyum melihat Senja. Benar-benar unik, saat merasa tenang dia kembali menjadi gadis cerewet.


Langit memasangkan jaket jeans miliknya dengan benar ditubuh Senja, membuat pipinya merah sekarang, jantungnya berdegub kencang. Langit terkekeh, ia menatap Senja "blushing."


"Ih apaan sih lo. Orang enggak." Kata Senja salting


"Awas baper, bahaya." Ya seorang Langit bisa berbicara seperti itu wkwk


"Jangan geer, jadi anter gak nih?" Tanya Senja


Langit mengangguk. Ia pun membawa Senja ke motor ninjanya, lalu menarik lengan gadis itu untuk dilingkarkan dipinggangnya. "Pegangan."


Senja hanya diam, ia bahkan tak ingin berbicara, juga tak ada daya untuk melepas lengannya, karena jujur saja, itu nyaman. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sampai di dekat taman mereka berhenti.


"Lang! Berenti! Berenti!" Ucap Senja menepuk-nepuk punggung Langit


"Ada apaan sih?" Tanya Langit


Senja turun di bantu Langit. Saat akan menyebrang, Langit pun membantu, ia tak tahu apa yang akan dilakukan gadis itu. Senja terlihat memilih-milih buah. Lagi-lagi Langit yang membayarkan buah yang dibeli gadis itu. "Terimakasih pak." Ucap Langit


"Udah puas?" Tanya Langit


Senja menyengir kuda "Udah kok. Eum makasih buat semuanya."


Langit menghembuskan nafas dan tersenyum, gadis itu menggemaskan menurutnya. "Eum, gue mau duduk disana." Senja menunjuk bangku ditaman, yang mengarah ke arah barat.


"Gak bisa. Lo harus pulang."


Langit bukannya tak mau, tapi Senja dalam keadaan basah, ia tak ingin gadis itu masuk angin dan sakit.


"Sebentar." Kata Langit datar


"Yey! Ayok." Senja memegang lengan pria itu "Eh tunggu." Kata Langit


"Lo duluan."


"Oh yaudah iya."


Langit berlari ke arah motornya, ia memarkirkan motornya di dekat tempat mereka duduk. Sebelum menemui Senja, ia membeli sesuatu yang anak kecil sukai. Terlihat Senja yang sedang fokus memakan buah yang dibelinya, Langit menyodorkan es krim ke hadapan Senja, Senja hanya memandang es krim itu kemudian menatap Langit yang duduk disebelahnya.


Senja tertawa, membuat Langit bingung "Gue gak suka es krim. Setiap kali badmood, ini nih gue makan pisang."


Langit tertawa, hanya Senja yang seperti ini, bukankah es krim atau coklat yang biasanya perempuan inginkan disaat badmood?


Senja memakan pisang, sedangkan Langit memakan es krim. Keduanya menikmati, apalagi sekarang senja baru saja muncul membuat keduanya terdiam menikmati teduhnya. Saat Senja terpejam, Langit memandangnya. "CANTIK"-batinnya, ya jingga itu menghias wajah Senja yang manis.


Langit berniat untuk mengerjai Senja, ia pun melahap setengah pisang yang sedang Senja pegang. Dan benar saja, gadis itu kaget melihat pisangnya habis setengah.


"Ih Langit, itukan pisang gue." Sembari memukuli Langit pelan


Langit tertawa "Ya, maaf-maaf, besok gue ganti."


Senja mengerucutkan bibirnya, lalu kembali menatap Langit "Kok lo bisa lucu kaya gini sih?"


"Gue manusia."


"Manusia es." Lanjut Senja


"Lo juga bicara panjang..." ucapan Senja terpotong


"Karena gue nyaman."


Senja tertegun, ia tak mengerti maksud dari perkataan Langit tadi. Karena Langit tak mau gadis itu terus bertanya, ia pun lekas membawa Senja pulang.


****


Senja pergi terseret waktu,


Hingga gelap dan dingin


Menyerbu batin.


.


.


.


.


.


.


Langit