
Hari gelap lagi,
Mendung.
Langit berjalan dengan tatapan dingin dan kosong. Ia terlihat kurang semangat sebab pertengkaran semalam dengan papa tirinya. Sebenarnya ia selalu memikirkan kesalahan yang ia buat terhadap paruh baya itu. Apa ia terlalu kejam? Entahlah.
Seseorang merangkul bahu Langit "Lang!" Falah mengejutkan Langit
Namun tetap saja, anak es hanya akan membeku "Lang! Kok lo tinggalin kita sih?" Tanya Eri
Arif, mengapa suaranya tak terdengar? Semalam ternyata Lia mematikan ponselnya, hingga ia kesulitan untuk menghubungi gadisnya itu.
"Hm,"
"Langit, Langit.. gak ada nyambung-nyambungnya ngomong sama lo! Gue tanya apa, jawabnya hm-hm," ujar Eri
Falah dengan tatapan khasnya. Begini kali yaa wkwk

Sedikit sinis, Falah menatap Eri "Intropeksi woy! Intro!" Kata Falah menyerang Eri
"Paan sih Lah? Gak jelas." Eri benar-benar tak tahu maksud Falah
"Lo! Lo yang gak jelas!" Falah semakin menekan Eri yang tak tahu apa-apa
Eri hanya menggembungkan pipinya dan menghembuskan nafas. Benar apa yang dikatakan Falah, bahwa setiap kali Eri merespon, pasti tidak ada yang menyambung.
Langit berbelok, teman-temannya kaget seketika. Berbeda arah! "Eh Lang! Kelas kan kesini!" Teriak Falah
"Eh eh ayo! Ayo!" Falah mengajak keduanya untuk mengikuti Langit
Arif, anak itu tak sadar jikalau teman-temannya pergi ke arah yang berbeda.
Oh, loker. Ternyata Langit pergi ke loker untuk mengambil bukunya, karena setiap kali ia pergi ke sekolah, ia tak pernah membawa buku satu pun. Dan tas sekolahnya hanya berisi jaket.
Ceklek.
Langit, Falah dan Eri, mereka bertiga nampak terkaget-kaget. Langit meraih beberapa bukunya lalu membanting pintu lokernya tersebut. Bugh!
Langit pun pergi dengan emosi yang meluap-luap!
****
Aura murungnya luntur ketika seorang gadis lewat dihadapannya. Ia pun mengejar gadis yang membelakanginya. Ia terus memanggil "Lia!" Namun Lia tak sama sekali menoleh. Ia bahkan mempercepat langkahnya.
"LIA!"
Arif terus mengejar Lia. Sampai akhirnya langkahnya hampir sejajar, ia pun meraih lengan Lia dan plak, Lia menampar Arif cukup keras sampai ia memegang pipinya yang merah "Cukup? Apa mau lagi?" Tanyanya
Arif menatap Lia penuh tanya.
"Rif! Aku mau, mulai detik ini, kita selesai!" Ucap Lia yang menekan setiap kalimatnya dan langsung melenggang pergi
Arif semakin bingung, ia bahkan masuk ke dalam kelas gadisnya itu "Aku gak mau!"
"Kenapa tiba-tiba? Aku mau kamu kasih penjelasan ke aku, apa yang terjadi?!" Tanya Arif
Lia semakin mendidih, ia mendongak, menatap Arif yang lebih tinggi darinya "Karena kamu milik orang lain Rif!" Sembari menunjuk-sentuh dada Arif
"Maksud kamu apa sih? Aku gak ngerti!" Lia menangis
"Oliv, Olivia Gracia, bukannya dia tunangan kamu?"
Deg
Mata Arif membulat sempurna, mengapa Lia tahu soal Oliv? Tak sadar bahwa mereka menjadi tontonan segar para siswa dan siswi kelas MIPA, Arif pun menyambar tangan Lia dan membawanya ke suatu tempat "Ikut aku.."
****
Bugh
Buku kotor itu terhempas dari tangan seseorang dan mendarat tepat di wajah lelaki yang tengah bercanda dengan teman barunya itu "Pengecut!" Ujar si pelaku pelemparan buku yang berlumuran air kotor itu, ya, loker Langit telah dikotori oleh Arlan.
Ia terkekeh jahat "Pengecut? Lo yang pengecut! Gue disini! Tapi kenapa lo diem? Gak berani ribut sama gue disini?!" Tanya Arlan
"Bct!" Langit pun melayangkan tinjuan ke pipi Arlan
Teman barunya, Zidan. Ia membantu Arlan, ia pun menghajar Langit. Eri membantu Langit bangkit, "Woy!" Falah membuka suara.
"Gak perlu ikut campur!" Teriak Langit "Lang! Udah Lang!" Falah dan Eri mencoba mencegah Langit yang hendak memukul Zidan.
"Cukup kalian berdua!"
****
Mata Senja memicing, ia menatap Langit yang juga menatapnya dengan tatapan dingin. Kenapa wajah anak baru itu memar?
Mereka berdua di giring menuju ruang BP. Senja yang penasaran itu pun langsung mengikuti ketiga orang itu untuk mengetahui permasalahan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka bertengkar?
Senja mendongak, ia benar-benar mengintip lewat kaca jendela "Bu, Pak! Saya gak salah. Dia tiba-tiba mukul saya." Ujar Arlan
"Betul itu Langit?"
Langit menghela nafas dan membasahi bibir bawahnya "Saya ada alasan untuk itu bu,"
"Apa alasan kamu?"
Arlan lebih banyak berbicara. Anak itu memang licik! Ia yang menciptakan keributan, ia juga yang banyak membela diri. Namun tetap saja, sedikit bicaranya Langit membuat bu Ida percaya "Arlan!"
Senja mematung, ia kaget setelah mendengar bu Ida memanggil anak baru itu dengan sebutan Arlan. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan "Arlan?" Gumamnya
"Masih untung kamu diizinkan untuk masuk sekolah ini, bukankah kamu sudah berjanji tidak akan membuat onar disini?!"
"Sudah bu, lebih baik panggil orang tua mereka!" Pak Surya menyarankan
"Jangan!" Ya, itu Langit, Langit tak ingin mamanya tahu soal ia yang bertengkar
"Kenapa?" Tanya Bu Ida
"Hm, hukum saya bu."
Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang di dalam. Akhirnya Langit yang tak bersalah itu pun diperbolehkan keluar.
Senja bersembunyi di belakang tembok, lalu menyambar lengan Langit yang lewat. "Ikut gue.."
Langit hanya diam. Ia bingung harus bereskpresi seperti apa, karena gadis yang sedang memegang tangannya itu adalah pilihan hatinya.
Dunia saja tahu, bahwa jantungnya sedang berdegub kencang.
****
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Udah tau sekarang?
Langit ternyata suka sama Senja, wah gimana nasib Risa ya?
Adik dari senja ini kan suka sama Langit.