
Mira juga sudah mendengar kabar burung yang disampaikan oleh orang-orang. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan perusahaan tersebut yang terus memaksa rakyat dan bahkan hari ini mereka mendatangi rakyat hanya demi mendapatkan keuntungan semata. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan rakyat setelah ini.
Mira mengepalkan tangannya, tidak mungkin selamanya rakyat akan menjadi buruh tambang. Mereka lebih baik menjadi petani karena rakyat lebih terbiasa dengan pekerjaan itu.
"Mama, aku pulang." Mira Manado ke arah anaknya yang penuh dengan lumpur.
Sudah menjadi kebiasaan sang anak, jika pulang dalam keadaan kotor seperti itu. Wajar saja sebab Ia menghabiskan waktunya hanya untuk bermain dengan teman-temannya. Tentunya Mira tak akan membiarkan sang anak begitu saja.
"Narendra, sudah berapa kali Mama bilang jangan mandi lumpur. Jika seperti ini kau sangat kotor sekali, cepat kau mandi. Jika kau tidak mandi sekarang maka aku akan memandikanmu dan aku tidak mau pedulikan jeritan kesakitanmu lagi."
Mendengar ancaman yang sangat mengerikan dari ibunya membuat Narendra lekas menuju ke sumur. Ia sudah terbiasa membersihkan tubuhnya sendiri. Tapi untungnya hari ini Mira tidak semarah biasanya. Mungkin akibat ia terlalu memikirkan bagaimana perasaan rakyat.
Mira membuka pintu dan melihat ibu-ibu yang berjalan sembari bergosip mengenai orang-orang kota itu. Mirah semakin penasaran, Sebab ia pernah menjadi orang kota dan juga orang kaya.
"Tadi mereka berdua datang banyak banget bawa ajudan. Sudah seperti mau menyerang desa kita aja. Aku melihat wajah mereka juga sangat angkuh, seolah-olah merekalah yang paling hebat dan tengah merendahkan orang-orang di desa kita."
"Benar, bahkan katanya di tempat Pak RT saja tadi sempat terjadi kegaduhan. Mereka terus memaksa agar rakyat menyetujui pertambangan itu. Kita tahu maksudnya baik, pagi dengan didirikannya tas pertemanan tersebut maka akan merusak lahan dan juga desa kita," ucap Ibu Inah yang sembari menggendong anaknya yang baru saja pulang dari bermain.
Mereka berdua adalah tetangganya. Itulah yang terus-terusan yang didengar oleh Mira setiap kali ia membuka pintu. Jujur saja dirinya sangat terkejut saat mendengar bahwa orang-orang itu memaksa agar kepala desa dan juga Pak RT menyetujui perjanjian tersebut.
Mira menarik nafas panjang dan berusaha menetralkan perasaannya. Kemudian, wanita itu pun meneriaki anaknya agar memakai baju. Sebab ia akan pergi ke toko kelontong untuk bekerja.
Mira mendiamkan diri dan ia pun pergi ke toko kelontong tersebut hanya dengan berjalan kaki. Setiap kalinya melewati orang-orang, pasti yang didengarnya hanyalah tentang orang-orang kota tersebut. Seolah-olah telah menjadi topik hangat di desa tersebut.
Akhirnya Mira pun telah sampai di toko tersebut dan ia melihat, bosnya juga sedang bergosip mengenai topik yang sama. Merasa sudah sangat penasaran sekali akhirnya Mira pun ikut bergabung.
"Apakah benar yang diceritakan oleh orang-orang itu?" tanya Mira kepada beberapa orang di sana.
Bosnya itu menatap ke arah Mira. "Benar Mira, mereka bahkan tidak membiarkan kita untuk berpendapat. Apalagi yang paling heboh mereka sampai berkelahi di rumah Pak RT. Aku tidak habis pikir dengan perbuatannya."
Mira pun terdiam.
__________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.