
Setelah pertengkaran hebat tadi di ruang tamu Mira pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Narendra setelah mengurung diri cukup lama di kamar anaknya.
Ia pun melihat Adam yang tengah menunggunya keluar di ruang tamu. Mira tidak berbicara sepatah kata pun ia langsung pergi ke dapur untuk membuatkan anaknya makanan.
Sadar bahwa Mirama yang melewatinya begitu saja Adam hanya mengenal nafas panjang lalu kemudian mengikuti wanita itu dari belakang. Kemudian ia memeluk tubuh wanita tersebut sembari meletakkan dagunya di bahu Mira.
Mira sedikit kesal diperlakukan seperti itu oleh Adam. Ia pun berusaha untuk menjauhkan pria tersebut dari dirinya. Ia merasa tak terbiasa diperlakukan seperti itu oleh laki-laki tersebut. Mungkin karena rasa bencinya sudah sangat mendalam membuatnya tidak bisa menerima Adam begitu saja dan segala perlakuannya.
"Mira, kali ini aku benar-benar tulus denganmu. Aku sama sekali tidak berbohong dengan perasaanku sendiri. Memang dari awal aku hanya mencintaimu dia hanyalah selinganku tapi sekarang aku sadar Mira dan aku ingin meminta maaf kepadamu." Mira terdiam dan seolah-olah tak percaya dengan kata-kata manis pria itu.
Sudah biasa orang membujuk dengan pujuk kayu seperti itu. Jika di Mira maka iya berjanji tidak akan terkena pujuk rayu laki-laki tersebut.
"Percuma kau terus mengatakannya Adam, aku tidak pernah memaafkanmu. Berhentilah kau berbuat seperti itu, kembalikan aku ke desa. Pasti orang di desa sedang mencari ku."
Adam tak habis pikir dengan Mira. Sudah seperti ini pun Mira sama sekali tidak ingin mendengar ucapannya dan malah lebih mengikuti perasaannya.
"Mira, hubungan kita sudah sejauh ini. Kenapa kau selalu saja bersikap tidak ingin kepadaku. Apakah aku kurang tampan apakah kurang kaya apakah aku masih kurang di matamu apakah ak..."
"Diam!! Bukan itu maksudku Adam. Kau yang memang tidak mengerti diriku. Sudahlah bukan itu yang aku mau. Bahkan untuk memahami perasaanku saja kau tidak bisa," kesal Mira dan lalu kemudian menghempaskan begitu saja piring yang tengah ia cuci.
Adam terdiam melihat piring-piring tersebut yang sudah tak berbentuk lagi dan malah hancur berkeping-keping. Sudah seperti ini pun ia tidak peduli dengan amarah yang tersirat pada Mira. Ia harus bisa meyakinkan wanita itu untuk kembali kepadanya. Jadi tidak semudah itu untuk ia menyerah.
Kenapa tiba-tiba hatinya melemah dan tak seperti biasanya. Benarkah ini dirinya yang beberapa detik lalu? Kenapa cepat sekali berubah. Mira pun tersedak dengan liurnya sendiri.
"Adam, kepalaku rasanya pening. Untuk sesaat jangan mencari masalah denganku." Mira mencoba untuk duduk dan Kemudian istirahat sejenak menahan rasa pening yang sangat sakit di kepalanya.
Melihat Mira yang tengah menahan rasa sakit tersebut lantas membuat hati Adam tergerak untuk menghampirinya dan lalu kemudian memijat kepala Mira.
"Di mana yang sakit? Kenapa bisa seperti ini? Baiklah Mira. Aku akan mengobati rasa sakit mu. Sebentar aku akan mengambilkan obat terlebih dahulu."
Mira menolehkan kepalanya ke arah pria itu yang tengah berlari ke kamarnya. Mira meneteskan air mata karena sejujurnya hatinya masih mencintai pria itu.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Di sisi lain aku juga merasa sakit hati, namun di sisi lain aku masih mencintainya dan berharap seperti dulu lagi. Tapi dia Andini, dia benar-benar keterlaluan."
Mira teridam sembari menahan rasa sesak.
__________
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.