
Adam yang sedang menginap di hotel yang tidak jauh dari desa itu benar-benar merasa bahagia ketika sudah menemukan istrinya. Walaupun ia telah kehilangannya tapi ia yakin bisa menemukannya kembali. Tidak mudah jika dirinya sudah mendapatkan lokasi Mira tinggal di mana.
"Kau seperti baru jatuh cinta saja, ck menyebalkan. Kau sudah bertemu dengannya jadi aku kapan bisa memiliki pasangan? Padahal aku adalah sahabat Mira dan kenapa aku bisa berada di pihakmu?" Setiawan sendiri tidak habis pikir dengan dirinya.
Dia dan Mira sudah merasa abad sejak mereka SMP hingga kuliah. Sebelum akhirnya ia bertemu dengan Adam dan wanita itu jatuh cinta kepada Adam. Setiawan memang sempat menyukai Mira dan ia sangat tak menyukai Adam karena membuat hubungannya dengan Mira semakin menjauh.
Namun seiringnya waktu perasaan itu telah hilang dan saat ini ia pun menjadi sahabat Adam.
"Kau tahu betapa senangnya aku? Aku mempunyai anak laki-laki. Anak itu sangat mirip denganku kan tadi?"
"Hm, memang sangat mirip. Tapi sangat disayangkan sepertinya ia sudah benar-benar membencimu. Tidak mungkin Mira tidak mengajarkannya seperti itu. Kan dia sangat marah kepada mu."
Adam menarik nafas panjang. Benar apa yang dikatakan oleh Setiawan. Masuk akal juga bawa Mira akan meracuni otak Narendra. Pasti Mira tidak akan membiarkan Narendra ke tangannya.
"Tidak peduli bagaimana perasaan mereka terhadapku, aku harus bisa membawanya pulang kemari. Aku tidak mau anak-anakku, hidup di tempat yang seperti ini."
Setiawan menghela nafas panjang. Sepertinya memang salah ia merestui Mira menikah dengan Adam. Lihatlah Adam saat ini, ia benar-benar gila dan tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Mira. Tapi yang lebih gila lagi adalah dirinya, jelas-jelas Ia adalah sahabat Mira tapi yang merahasiakan semua tentang perselingkuhan Adam dan membiarkan perselingkuhan tersebut dan sekarang ia hanya bisa membiarkan Adam yang hendak memaksa Mira.
Setiawan berusaha bertengkar dengan pikirannya sendiri. Kenapa ia bisa menghianati Mira. Tampaknya ini hanya karena pekerjaan semata.
"Adam. Kau tidak menyadari orang yang ada di sekitarmu saat ini adalah sahabat Mira. Aku tahu aku juga brengsek, tapi aku tidak seberengsek kau Adam. Jelas-jelas kau yang memulainya lebih dulu, kau yang telah menyakiti perasaan Mira, dan sekarang kau ingin membuatnya merasa lebih sakit lagi. Memaksakan kehendakMu adalah sesuatu yang salah dan kau tak bisa melakukannya," ucap Setiawan yang berusaha untuk mengingatkan Adam.
Karena pada dasarnya otak Adam sudah sangat keras, ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Setiawan. Yang terpenting bagi dirinya adalah bisa mendapatkan Mira.
"Tidak ada artinya kau menasehatiku aku Setiawan. Kau sudah terlambat untuk melakukannya, besok aku akan ke tempat itu lagi dan mencari Mira. Mau bagaimanapun aku harus bisa membawanya pulang. Tapi aku juga harus menyelesaikan permasalah di desa ini. Orang-orang bodoh itu susah sekali untuk mendapatkan hatinya."
Setiawan mendecih. Siapakah orang yang dimaksud oleh Adam? Apakah diri pria itu sendiri?
"Kau juga sama saja bodohnya. Lihat kau tak tahu sama sekali bahwa ada cara yang mudah. Tinggal kau lihat kan yang sangat banyak mereka juga pasti akan luluh."
Jika dipikir-pikir ada benarnya juga. Ia harus melakukan penawaran yang besar agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi.
"Kau benar juga. Besok kita akan ke tempat itu lagi."
________
Besoknya terdengar lagi bawah rombongan Adam kembali datang sambil membawa uang yang cukup banyak.
Uang-uang tersebut akan diberikan sebagai bentuk ganti rugi kepada warga yang diambil lahannya. Warga yang melihat banyaknya tumpukan uang tersebut tiba-tiba berubah pikiran.
Mereka menjadi berpikir bagaimana caranya agar cepat kaya tanpa harus bekerja. Tentu saja mendapatkan uang miliaran adalah sesuatu yang mereka inginkan dari dulu. Kapan lagi mereka akan mendapatkan uang sebanyak itu. Tiba-tiba warga banyak yang ingin menjual lahan mereka.
Sedangkan di rumah, Mira mendengar kabar bahwa para warga mulai menyetujui pertambangan tersebut. Mira benar-benar geram dan mengepalkan tangannya walaupun perkataan dirinya kemarin dituruti oleh Adam yaitu membalas kerugian warga dengan keuntungan yang setimpal.
Namun sekarang dirinya merasa tidak rela. Apakah ia harus pergi dari desa ini? Keberadaannya sudah tidak aman dan terancam. Tempat ini bukanlah tempatnya lagi. Ia harus pergi dari sini secepatnya.
"Aku tidak tahu, bagaimanapun juga aku harus pergi dari tempat ini. Jangan sampai ia menemukanku lagi."
Mira makan masih bajunya dan lalu kemudian mengajak Narendra untuk pergi. Narendra sangat terkejut dengan ibunya yang mendadak tiba-tiba ingin pergi.
Tapi anak itu belum mengerti sepenuhnya dan ia pikir mereka akan berlibur saja. Tidak tahu bahwa mereka akan benar-benar pindah rumah.
Namun saat di perjalanan ia melihat pria itu tengah menghadangnya. Tubuh Mira pun bergetar dan ia tak sanggup lagi untuk melangkah semakin maju. Mira segera berbalik ingin berlari tapi perkataan Adama membuatnya terdiam.
"Sayang, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan dari dulu."
Deg
Perasaan ini kenapa hadir lagi? Datangnya di waktu yang sangat tidak tepat. Mira memejamkan matanya berusaha untuk melawan nalurinya yang sangat bersebrangan.
Adam memanfaatkan rasa kaget Mira untuk menghampiri wanita itu dan memeluk tubuhnya. Narendra, anak itu makin lagi kebingungan dengan situasi saat ini. Ia mengerjapkan matanya dan sebenarnya ada apa.
"Adam?"
"Mama dia siapa?" tanya Narendra dengan bingung. Belum sempat Mira hendak menjawab anaknya akan tetapi Adam telah memberikan jawabannya lebih dulu.
"Sayang, aku adalah Papa mu."
"Papa? Itu artinya aku sekarang punya Papa?"
"Ya kau benar Nak."
"Yey!!" Narendra sangat bahagia dan Mira tak berani merusak kesenangan anaknya tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung saat ini."
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.