My Husband Affair With My Friend

My Husband Affair With My Friend
Part 36



Beberapa bulan kemudian


Narendra telah masuk ke sekolah dasar dan sekarang anak itu tak sabar untuk menunggu adik barunya yang beberapa hari lagi akan keluar dari rahimnya. Ia terus bertanya mengenai adiknya.


"Mama, kenapa sekarang dia masih di dalam perut? Kenapa dia belum juga keluar?"


"Itu karena dia belum memiliki waktu yang tepat untuk keluar," ucap Mira menjelaskan kepada anaknya dengan sangat hati-hati agar anak itu mengerti.


Narendra pun menganggukkan kepalanya paham. Tapi ia akan terus bersabar untuk menunggu adik barunya.


"Kenapa masih lama sekali sih? Aku kan tidak sabar," dumel Narendra karena ia melihat teman-temannya memiliki adik sementara dirinya belum.


"Sabar dong sayang. Nanti dia juga bakal keluar, hanya menunggu waktu yang tepat saja bagi dia. Kau tak usah terlalu memikirkannya."


Narendra pun mengangguk dan lalu seperti biasanya ia akan mendekatkan telinganya ke perut Mira dan kemudian akan mendengar tendangan adiknya. Ia sungguh tidak sabar melihat adiknya itu.


"Kata Mama adiknya perempuan?"


"Iya sayang. Nanti kamu akan punya adik perempuan."


"Yey asik. Nanti Narendra akan mengajaknya main robot-robotan dan mobil-mobilan." Mira yang mendengar itu langsung tidak enak hati karena biasanya anak perempuan tidak menyukai barang-barang seperti itu.


Menjelaskan kepada Narendra pun dia tidak akan mengerti karena dia masih kecil. Menurutnya yang paling bahagia itu adalah ketika mempunyai teman untuk bermain dengannya.


"Mama nanti aku akan membeli barang-barang baru untuk adikku."


Mira menganggukkan kepalanya menyetujui yang diinginkan oleh Narendra. Mungkin ia akan memberikan barang-barang wanita juga untuk anak keduanya ini. Gawat jika tingkahnya nanti akan seperti laki-laki barbar dan susah diatur seperti Narendra.


Saat sedang asyik menemani Narendra bermain, tiba-tiba Mira merasa perutnya sangat sakit. Wanita itu berteriak sekencang-kencangnya meminta bantuan kepada orang-orang tersebut agar bisa membawanya ke rumah sakit.


"Mama kenapa?" khawatir Narendra yang mendengar rintihan ibunya.


Mira menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian wanita itu menatap ke arah Narendra dengan sangat serius.


"Mama mau melahirkan sayang. Cepat panggil kan bibi."


"Semoga tidak terjadi sesuatu kepada Mama," ucap Narendra dan setelah itu memanggil bibinya di dapur. "BIBI! MAMA MAU MELAHIRKAN."


"YA AMPUN NYONYA," kaget bibi tersebut dan langsung meminta supir menyiapkan mobil. Selain itu ia juga telah menelpon Adam yang masih berada di kantor.


_________


Mira berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengganjen mendengarkan instruksi dari dokter yang terus menyuruh dirinya menarik napas selalu menghabiskannya secara perlahan.


Mira mencengkeram lengan Adam dengan sangat kuat. Sementara pria itu selalu menjadi support system bagi dirinya hingga akhirnya ia pun berhasil mengeluarkan bayi yang ada di dalam perutnya.


"Owek, owek, owek," suara bayi yang langsung terdengar di telinga mereka.


Mira menatap ke arah baik itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adam dengan air mata bahagia. Akhirnya ia berhasil melahirkan anak keduanya walaupun ini cukup menyakitkan.


Perempuan itu memandang puas ke arah suaminya dan begitu pula dengan Adam yang langsung mengajukan yang menyerah beberapa kali sembari mengembuskan kata-kata cinta yang sangat luar biasa.


"Terima kasih sayang karena sudah mau berjuang untukku. Anak kita pasti akan cantik sepertimu."


Bayi tersebut dimandikan dahulu lebih dahulu oleh dokter. Mira memeluk erat dengan Adam dan sementara pria itu memeluk erat kepalanya.


Mereka seolah tidak sabar menantikan hari-hari tua mereka dengan perasaan bahagia.


"Bukannya kau sudah menyediakan nama untuknya? Jadi nama apa yang kau berikan kepadanya?" tanya Mira yang sangat penasaran kepada pria itu.


Ada masih menangis dan menikmati kebersamaannya dengan Mira terlebih dahulu. Ia harus menimalisir perasannya barulah ia bisa berbicara dengan tenang.


"Quella Anita Sari."


"Wellcome baby Quella."


________