MY BOSS IN LOVE

MY BOSS IN LOVE
MY BOSS IN LOVE 9



"tuan muda anda yakin ingin ke apartment saya?" Tanya Nadira.


"Tentu memangnya aku bercanda," jawab William sembari memperhatikan iPad ditangannya.


Kurasa ini sedikit berlebihan, kapan aku memiliki waktu tanpa dirinya, batin Nadira.


Beberapa puluh menit berlalu Nadira dan William sampai di basemen, keduanya keluar dari mobil dan langsung menuju unit rumah Nadira.


Ceklek


William masuk terlebih dahulu seperti tuan rumah tapi Nadira mendiamkannya, William melihat suasana apartment yang cukup rapi dan bersih.


Tentu apartment nya model sederhana bukan seperti apartment milik William yang megah dan luas.


Tring...tring


Nadira segera mengambil ponsel saat mendengar deringan disaku, ia sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya dihari libur begini.


"Iya ma?"


"Nadira ada seseorang menunggumu di restoran samping apartment mu coba lihatlah."


"Ma Nadira kan sudah bilang dari awal tidak mau," keluh Nadira.


Mimik kesal Nadira terpampang jelas di depan William saat ini.


"Astaga Nadira Fakhira sudah berapa usiamu sekarang apa kau akan tetap bekerja terus menerus hingga tua?


"Iya ma tapi tidak dengan cara ini juga."


Kali ini Nadira tampak benar benar kesal hingga membuat William duduk dan berpura-pura bermain ponsel.


"Sudahlah kau temui saja orangnya dia sangat tampan kau pasti menyukainya."


Nadira memutuskan sambungan dengan kesal tanpa menyadari ada William disana.


"Aiishh mama ini!"


Nadira membuang ponselnya ke sofa dan baru menyadari ada William disana, pria itu tampak terkejut melihat sifat lain dari Nadira tadi.


"Ah tuan muda maaf saya ada urusan di bawah sebentar."


"Pergi saja."


Nadira mengangguk lalu keluar dari apartment, gadis itu tampak buru buru agar masalahnya cepat selesai lagipula ada William di apartment tidak mungkin ia meninggalkan bosnya dalam waktu yang lama.


Saat memasuki restoran gadis itu melihat beberapa nomor meja hingga menemukan seorang pria dengan gelas kopi, pria itu memang tampan dari segala sisi hingga membuat Nadira hampir terkecoh.


"Tuan Rendy?"


Wajah simetris dengan lesung pipi membuat pria itu terlihat sangat manis ditambah kuliah putih dengan balutan jas abu-abu membuat pria itu benar benar tampan.


"Ah ya kau datang juga panggil Rendy saja," jawabnya.


Keduanya bersalaman lalu Nadira duduk, ia akan duduk hanya lima menit meskipun pria itu tampan tapi pastinya membosankan.


"Kau Nadira bukan?"


"Benar."


"Ah ya sebenarnya aku tidak ingin datang ke pertemuan ini tapi ibuku benar benar memaksa jadi apa boleh buat aku ikut saja keinginannya."


"Ya mama ku juga," ucap Nadira lesu.


"Aku berpikir kita akan selesai dalam lima menit tapi kita ceritakan first date yang menyenangkan pada orang tua masing-masing."


Sepertinya pria ini cukup sering kencan buta, dia bahkan mengetahui taktik ku mengelabui mama, batin Nadira.


"Aku setuju."


Rendy tersenyum manis setelah Nadira menyetujui keinginannya, lesung pipi pria itu membuat senyumannya seperti gula bahkan gadis di meja sebelah mengatakan Nadira beruntung memiliki pasangan setampan itu.


"Kau bekerja di William Group?" Tanya Rendy.


"Ah ya mama pasti sudah memberitahumu," jawab Nadira datar sembari menyeruput minumannya.


Rendy hanya memberikan kode dengan matanya bahwa ia melihat name tag Nadira yang masih tertempel di pakaian gadis itu.


"Astaga maaf aku lupa mencabutnya."


"Tidak apa-apa tapi sekarang aku mengerti kenapa orang tuamu sampai mencarikan pria, kau pasti sibuk dengan urusan kantor."


"Begitulah."


Nadira mengangkat bahu namun ia membernarkan ucapan pria itu bahkan sekarang bosnya berada di apartment.


Saat Rendy mengetahui Nadira bekerja sebagai sekertaris CEO William Group keduanya tidak pernah membicarakan pribadi masing-masing layaknya kencan buta melainkan membahas tender dan bisnis.