
"ma bisa keluar sebentar," ucap William.
Permintaan itu mengarah pada nyonya Fakhira juga, keduanya saling menatap dan menyetujui permintaan putra nya.
"Baiklah jangan lama-lama ya."
Ceklek
Setelah kamar tertutup William berjalan menuju jendela kamar yang berhadapan langsung dengan kolam renang dibawah.
"Pertunangan ini hanya diketahui oleh keluarga jika kau menolak tak apa tidak ada yang memaksa tapi aku minta jangan berhenti bekerja karena William Group sangat membutuhkanmu."
Nadira ikut berdiri dan berjalan mendekati William, tatapan mereka sama sama menghadap ke kolam berwarna biru tersebut.
"Boleh saya mengatakan sesuatu tuan muda?"
"Katakan saja."
"Nona Monica sangat menyukai anda tuan muda dan dia adalah sahabat saya bagaimana bisa saya menyetujui pertunangan ini."
"Meskipun aku tidak menikah denganmu aku tidak akan menikah dengan Monica, dia sudah ku anggap sebagai adikku karena Alex adalah sahabat baik bagi ku."
"Ku dengar Monica tinggal dengan seorang pria di apartment nya sekarang mungkin saja itu adalah kekasihnya," tambah William.
Tinggal bersama pria? Kenapa dia tidak memberitahu ku, batin Nadira.
"Sudahlah jangan bahas masalah luar aku ingin mendengar jawaban mu sekarang."
Nadira menggenggam kedua tangannya dan memainkan kuku kuku indah yang telah ia hias setiap minggunya.
"Baiklah."
William kembali menghadap kolam renang dengan senyum tipis yang seharusnya tidak ia keluarkan namun spontan saja saat mendapat jawaban dari Nadira.
"Ayo turun lanjutkan acaranya."
William menawarkan lengannya untuk digandeng oleh Nadira, gadis itu merasa canggung untuk gandengan kali ini karena statusnya berbeda dari biasa.
Saat turun ke lantai bawah semua keluarga mereka berpindah ke ruang keluarga, Nadira melihat jelas kotak cincin pertunangan di atas meja dan ia bisa menebak harga cincin itu tidak main main.
"Bagaimana sayang?" Tanya nyonya Fakhira.
Nyonya Becca terlihat sangat senang dan langsung memberikan cincin pada putranya.
"Pasangkan cincinnya pada calon istri mu."
Dari lubuk hatinya William tidak tahu harus merasa senang atau biasa biasa saja saat mendengar mamanya mengatakan calon istri.
Pria itu mengambil cincin pada kotak perhiasan berwarna biru tua tersebut lalu meraih jari manis Nadira dan memasangkan cincin padanya.
Dan sebaliknya Nadira mengambil cincin lalu memasangkan pada jari William, ia sedikit terkekeh karena tangan pria itu terasa sangat dingin.
Prok..prok...prok
Gemuruh tepuk tangan seketika terdengar saat Nadira selesai memasangkan cincin, keduanya mengambil tempat duduk terpisah karena Nadira memilih duduk disebelah mamanya.
"Ah ya untuk pernikahan kapan kalian sanggup?" Tanya nyonya Becca.
"Terserah mama saja," jawab William.
"Enam bulan lagi?" Tanya nyonya Fakhira.
"Ma itu terlalu cepat," bisik Nadira.
"Astaga tante itu terlalu lama bagaimana kalau tiga bulan lagi?" Saut Gerry.
Nadira hampir melayangkan kotak perhiasan pada Gerry yang mengatakan tiga bulan lagi, enam bulan saja sudah sangat singkat bagi Nadira.
"Kami sepakat bulan depan ma," ucap William sembari menatap Nadira dengan senyum misterius.
Nadira membulatkan mata dengan ucapan pria itu tadi, bulan depan? Bukankah itu waktu yang sangat singkat bagi mereka.
"Astaga kalian sudah merencanakannya terlebih dahulu? Mama sangat senang sekali."
Semuanya tertawa bahagia dengan keputusan akhir pernikahan pewaris William Group yang pastinya akan dilaksanakan secara besar besaran nanti.
"Nyonya Fakhira sebaiknya kau tinggal disini dan membantuku menyiapkan pernikahan," tambah nyonya Becca.
"Baiklah nyonya sepertinya kita akan sibuk satu bulan kedepan," ujar nyonya Fakhira yang disambut tawa riang pada keluarga.
Mereka berbincang soal kesibukan masing-masing hingga larut malam, saat bersama keluarga waktu seperti berjalan sangat cepat dan tak terasa beberapa dari keluarga mereka sudah kembali pulang ke rumah masing-masing.