
Keesokan harinya Nadira kembali bekerja seperti biasa, ia bersiap siap dan langsung menuju apartemen William untuk mengurus pria itu.
Hari ini Nadira membawa mobil bosnya dan tidak perlu menyewa taksi, dalam perjalanan menuju apartemen gadis itu mengirup udara pagi yang segar dengan senyuman semanis mungkin untuk membangun mood yang bagus.
Brakkk!!!
Nadira langsung mengerem mendadak saat mobil menabrak sesuatu di depan, kepalanya sedikit terbentur karena terkejut melihat yang ia adalah manusia.
"Ah kau tidak apa-apa? Maafkan aku."
Nadira buru buru keluar dari mobil dan memeriksa seorang laki laki yang ia tabrak.
"Haduuh kak Dira tidak bisa hati hati apa ahh kaki ku sakit sekali," rintih pria itu.
"Rey?"
Nadira bingung melihat pria yang ia tabrak adalah adiknya sendiri dan untuk apa Rey kesana padahal rumah dan kampusnya berbeda arah.
"Untuk apa kau disini?" Tanya Nadira.
"Kakak mau bantu dulu tidak kaki terasa patah!" Jawab Rey dengan kesal.
"Ah ya ya."
Nadira memapah pria itu dan masuk kedalam mobilnya, di pagi hari ia harus menuju rumah sakit untuk memeriksa tulang kering adiknya yang ia tabrak.
Sampai di UGD Rey langsung ditangani dan alhasil kakinya harus menggunakan variteks untuk menyangga kaki.
"Untuk apa kau pagi pagi keluyuran," ucap Nadira datar.
"Mama yang suruh untuk membawa bekal pada kakak."
Nadira memang melihat tas besar di sepeda adiknya tadi.
"Hahh dasar ceroboh kenapa harus menabrakkan diri sudah tahu berbahaya," ujar Nadira ketus.
"Jika tau akan ditabrak aku juga tidak akan mau."
"Dasar anak nakal sudahlah aku harus berangkat ke kantor, taksi akan menjemputmu nanti dan pulang ke apartment sementara waktu."
"Apa aku harus sekarat dulu baru kau berhenti bekerja?" Tanya Rey tak kalah ketusnya.
"Cihh!!"
Nadira memberikan kartu debit pada Rey sehingga pria itu dengan senang hati ditinggalkan, tentu ia sangat hafal dengan pin dari kartu debit itu.
***
Sampai di apartment Nadira segera masuk kedalam unit kamar bosnya dan masuk kedalam kamar dengan buru buru Nadira membuka gorden serta merapikan beberapa buku yang berserakan.
Ceklek
"Tuan muda?"
"Kenapa terlambat?" Tanya William.
"Ah soal itu tuan maaf tadi saya menabrak seseorang saat perjalanan kemari," jawab Nadira.
"Apa!"
William segera menarik Nadira lalu memutar tubuh gadis itu, Nadira tentu bingung kenapa ia diputar seperti bola.
"Saya tidak apa apa tapi adik saya cedera," kata Nadira.
"Apa hubungannya dengan adikmu," ucap William dengan wajah khawatir.
"Saya kan menabrak adik saya tuan muda," jawab Nadira dengan entengnya.
William berhenti memutar tubuh gadis itu dan bergantian ia yang bingung kenapa Nadira menabrak adiknya sendiri.
"Adik saya membawakan bekal ke apartment tapi saya sudah tidak ada jadi dia mengejar saya dengan sepeda dan menabrak mobil anda tuan muda, anda tenang saja biaya perbaikan saya tanggulangi," tutur Nadira.
Ia khawatir William akan mengamuk jika mengetahui mobilnya lecet.
"Tidak perlu."
William mengambil ponsel dan memainkannya sebentar, meskipun Nadira tidak tahu apa yang ia lakukan tapi tetap saja ia merasa harus mengganti biaya perbaikan.
Ting!!!!
Nadira berjalan keluar kamar dan membuka pintu tapi ia masih ingat belum memesan makanan kenapa bel apartemen berbunyi.
Ceklek
"Nona silahkan tanda tangan."
Nadira mengerutkan kening dengan kertas dan pulpen yang disodorkan oleh pihak apartemen, ia sedikit membaca isi kertas tersebut.
Apa? Tuan muda membeli mobil? Batin Nadira.
"Tunggu sebentar ya."
Nadira berjalan ke kamar dan membuka pintu, ia masih melihat William duduk bermain ponsel dengan handuk yang masih nyaman di pinggangnya.
"Tuan muda membeli mobil?" Tanya Nadira.
William mengangguk dan kembali fokus pada ponselnya.
"Tuan muda mobil itu tidak banyak lecetnya jadi bisa diperbaiki."
"Sang pembawa cahaya tidak boleh menggunakan mobil lecet sudahlah kenapa kau banyak bicara lagipula itu uang ku."
"Cihh sombong," gerutu Nadira.
Tentu William tidak mendengarnya jika sampai terdengar Nadira akan tahu akibatnya.