
Nadira berjalan menuju dapur kantor dan membuat minuman, ia harus memastikan minuman itu sesuai dengan selera Renata.
"Astaga aku benar benar tidak menyangka nona Renata putri bangsawan itu sedang dekat dengan tuan William."
"Benar tapi mereka terlihat sangat cocok bukan lihat saja latar belakang mereka,"
"Hahh kau benar orang seperti kita mana mungkin bisa mendekati tuan William."
Itulah percakapan karyawan yang didengar oleh Nadira, perkataan mereka membuat Nadira langsung tertampar dan denyut jantung yang ia rasakan saat bertemu William menghilang seketika.
Hanya orang yang setara dengan tuan muda yang bisa mendekatinya, hahaha aku ada ada saja mana mungkin perusahaan mau rugi jika tuan muda menikah dengan gadis biasa biasa, batin Nadira.
Ia membuang jauh jauh khayalan yang baru saja ia bangun, percakapan karyawan tadi membuatnya sadar dan tidak ingin berkhayal terlalu tinggi lagi.
Ceklek
Saat kembali masuk dan membuka pintu Nadira dengan sangat jelas melihat dua orang itu duduk di kursi dengan posisi William sedang menyembunyikan wajahnya ditelinga Renata, posisi mereka sangat intim.
"Ma-maafkan saya tuan nona."
Nadira segera meletakkan minuman dan bergegas untuk keluar, William tentu bingung dengan sikap gadis itu.
"Ah Nadira kau diam saja urusan ku sudah selesai dengan William," ucap Renata.
Nadira mengehentikan langkahnya dan kembali memutar tubuh dengan senyum semanis mungkin.
"William aku akan kembali lagi nanti dan kita akan melanjutkannya," ujar Renata.
William terkekeh dan mengangguki gadis itu, Nadira merasa sesak harus mendengarkan pembicaraan keduanya.
Ceklek
Pintu tertutup rapat dan kini hanya mereka berdua di dalam ruangan tersebut, selama tujuh tahun bekerja ini adalah hari Nadira merasa canggung satu ruangan dengan William.
"Saya akan mengambil cemilan tuan muda," ucap Nadira.
William berjalan dengan langkah lebar dan menarik Nadira hingga ke meja kerja, William menatap gadis itu dalam dalam dengan tatapan sangat serius jauh sekali saat ia menatap Renata tadi.
William tidak melepas tatapannya dari Nadira hingga keduanya bertatapan, Nadira merasa telah melakukan kesalahan fatal karena tatapan William begitu mengerikan.
"Sa-saya melakukan kesalahan tuan muda?" Tanya Nadira memberanikan diri.
William diam beberapa saat lalu memegang kening gadis itu dan memegang pergelangan tangannya untuk mengajak Nadira duduk di sofa.
"Kau sudah minum obat?" Tanya William.
Nadira baru ingat kemarin ia berbohong soal badannya yang kurang sehat.
"Ah soal itu tuan muda tenang saja saya sudah sehat sepenuhnya," kata Nadira.
William mengangguk dan melepaskan pergelangan tangan Nadira, gadis itu kembali merasakan degup kencang di jantungnya saat William mengambil tindakan tadi.
"Tuan muda anda marah pada saya?" Tanya Nadira.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya William balik.
"Tadi pagi saya tidak menemukan anda di apartment saya khawatir anda marah karena suatu hal," jawab Nadira.
"Tadi pagi sekitar jam 03.00 pihak IT William Group mengabarkan ada masalah soal keamanan sistem perusahaan jadi aku berangkat lebih pagi, kemarin kau sakit aku khawatir kau belum sembuh total jadi aku tidak mengajakmu dan aku lupa memberitahu untuk tidak datang ke apartment."
Syukurlah tuan muda tidak marah padaku, batin Nadira.
"Semuanya baik baik saja sekarang tuan muda?" Tanya Nadira lagi.
"Ya kami menyelesaikannya setelah tiga jam."
Nadira mengangguk pelan, beruntung tidak terdapat masalah besar atau ia akan sibuk dengan kantor.
"Sekarang aku sedikit pusing karena kurang tidur," keluh William.
"Kemarilah tuan muda saya akan memijat anda."
Nadira menawarkan pangkuannya pada William, pria itu awalnya menatap Nadira dan terlihat enggan namun senyum manis gadis itu itu membuat William langsung menyandarkan kepalanya di pangkuan Nadira.