
Keesokan harinya.
Enam orang sudah berdiri dibawah kaki gunung dengan perlengkapan masingmasing, tuan Fei dengan istrinya, Gerry dengan sekertarisnya, William pun dengan sekertarisnya.
Tuan Fei terlihat bahagia melihat gunung Helens dan tugas Nadira adalah membuat mood tuan Fei tidak berubah hingga ke puncak gunung nanti.
"Tuan Fei anda siap?" Tanya William.
"Tentu."
"Baiklah mari kita mulai perjalanan ini dengan menyenangkan."
Keenamnya mulai berjalan, tentu tuan Fei yang mendahului karena ia memiliki banyak pengalaman tentang mendaki gunung.
"Menurutmu dia mampu mendaki gunung?" Tanya Gerry pada sekertarisnya Lisa.
"Entahlah," jawab Lisa.
"Aku sih tidak yakin lihat saja tubuhnya kurus begitu."
Keduanya terus berbisik bisik karena mereka berjalan paling belakang, hal itu membuat telinga William sakit dan memberikan tatapan tajam ke belakang. Gerry adalah sepupunya jadi William tidak ingin bersifat formal pada pria itu dan jika bukan karena keluarga mungkin Gerry sudah menjadi gembel di jalanan.
"Tuan muda kenapa anda menyuruh saya tidak membawa makanan, kita memerlukan itu saat pendakian," ucap Nadira.
"Ah soal itu jangan khawatir Nadira aku sudah membawanya di tas." Saut Gerry
Nadira melihat ke belakang namun tas yang dibawa oleh Gerry hanya berukuran dua makanan ringan begitu juga dengan Lisa.
"Hei jangan meremehkan isi tas ku, lihat ini!"
Gerry membuka tasnya dan memperlihatkan isi tas tersebut, kedua mata Nadira membesar saat melihat teas Gerry penuh dengan uang.
Aku lupa aku bekerja dengan siapa, batin Nadira.
"Semua kebutuhan mu beli di atas saja agar tidak cepat lelah," ucap William.
"William dulu aku sering mendaki gunung dengan papa mu," kata tuan Fei.
William mengangguk pelan sembari mendengarkan cerita tuan Fei, ia menyetujui perjalanan itu bukan semata-mata karena bisnis melainkan tuan Fei adalah sahabat mendiang papanya.
"Papa mu sangat mirip denganmu, dia tidak akan membawa apapun dan lebih memilih untuk membeli makanan di atas."
"Haahh aku sangat ingat sekali dulu papa mu membawa mama mu kemari persis seperti kau membawa sekertaris mu,"
Nadira menatap William begitu juga sebaliknya.
"Padahal aku berharap kau membawa pasangan mu."
Aku juga berharap begitu tuan Fei, batin Nadira.
Tring... tring
Nadira mengambil ponselnya dari saku, beruntung sinyal tidak hilang dan ia melihat nama Monica di ponselnya.
"Ada apa nona?"
"Nona? Kau sedang di kantor?" Tanya Monica balik.
"Saya sedang mendaki gunung bersama tuan muda dan tuan Fei," jawab Nadira.
"Ah ya baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi bersenang senang lah."
"Anda ingin bicara dengan tuan William?" Tanya Nadira.
"Ahh tidak tidak kalian lanjutkan saja bye bye."
Monica langsung memutuskan sambungan, ia tidak akan betah mendengar bicara formal Nadira jika William bersamanya.
"Nona Monica."
"Ahh ya bagaimana keadaannya aku tidak pernah menemuinya lagi," ucap William.
"Sepertinya nona sedikit patah hati mendengar berita kencan buta anda dengan nona Renata,"
Aku juga tidak terlalu menyukainya entah mengapa, batin Nadira.
"Dia akan terbiasa dengan hal itu nanti."
Tring...tring
Ponsel Nadira kembali berdering dan membuat tuan Fei berhenti lalu menatap gadis itu.
"Tuan William sepertinya sekertaris mu sangat sibuk," ucap tuan Fei dengan nada sindiran.
"Maafkan saya tuan."
Nadira menjauh dari rombongan untuk mengangkat panggilan kedua namun kali ini berasal dari Rendy.
"Halo ada apa?" Tanya Nadira.
"Maaf aku baru melihat pesan mu bagaimana kau bisa membatalkan rencana kita untuk makan malam bersama keluarga Nadira?"
"Ahh soal itu maafkan aku Rendy karena ini urusan yang sangat penting untuk kantor, saat pulang nanti aku akan menyuruh mama datang ke apartment dan mengatur rencana ulang," jawab Nadira.
"Baiklah Nadira hati hati disana kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi."
"Baiklah."
Nadira memutuskan sambungan dan segera kembali ke kantor, ia melihat William seolah bertanya siapa yang menghubunginya tadi.
"Dari teman saya tuan."
"Rendy Rendy itu?"
"Benar."
"Cihhh!!"
William langsung berjalan meninggalkan Nadira sendirian, ia memilih berjalan bersama tuan Fei dan nyonya Fei.
"Rendy kekasihmu?" Tanya Gerry.
"Tidak dia pria yang tunjuk untuk kencan buta denganku."
"Pantas saja William kesal," gumam Gerry dengan senyum licik di bibirnya.
"Kesal?"
"Ahh kau belum tahu ya? Baiklah aku tidak akan memberitahu jika belum saatnya." Ucap Gerry.
"Kau tau Lisa?" Tanya Nadira.
"Tidak Nadira aku tidak tahu apa maksudnya," jawab Lisa.
"Beritahu aku," tuntut Nadira pada Gerry.
"Kau berani membayar ku berapa?" Tanya Gerry sembari terkekeh.
"Ishhh!!!"
Nadira mencubit lengan pria itu dan membuatnya kembali tertawa hingga terdengar ditelinga William.