
"Ma William pulang dulu."
"Take care honey."
William mengangguk sembari membalas pelukan mamanya.
"Nadira jaga William baik baik ya," ucap nyonya Becca.
"Baik nyonya."
Wanita paruh baya itu berpaling memeluk Nadira, ia menganggap Nadira sudah seperti anak perempuannya karena Nadira sudah bekerja hampir 7 tahun dengan keluarga William.
"Jaga diri kalian ya."
Mereka seperti pasangan yang relakan orang tuanya untuk tinggal bersama. William masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Nadira lalu keduanya menjauhi mansion.
Nyonya Becca meratapi kepergian mobil yang dikendarai putranya itu, ia berharap di umur William yang hampir mencapai kepala tiga mau memikirkan dirinya sendiri.
Dalam perjalanan pulang William membuka sedikit kaca mobil lalu menghirup udara pagi yang masih belum ternoda oleh polusi.
"Hari ini Minggu kan?" Tanyanya pada Nadira.
"Benar tuan."
"Kenapa kau tidak pulang ke rumahmu."
Pertanyaan konyol, batin Nadira.
Gadis itu tidak ingin menjawab pertanyaan yang sudah ada jawabannya.
"Kenapa kau diam."
"Saya antar anda pulang baru saya pulang ke rumah."
William mengangkat bahu tidak mau tahu urusan Nadira begitu juga Nadira yang tidak ingin tahu.
Biasanya satu kali sebulan Nadira akan pulang ke rumah orangtuanya untuk bertemu dengan keluarga namun minggu ini harus tertunda.
"Kau jangan pulang ya," kata William.
Nada bicaranya sedikit terdengar memohon dan tidak biasanya ia menggunakan nada itu saat berbicara.
"Anda baik baik saja tuan muda?" Tanya Nadira.
William berpikir kembali kenapa ia berbicara seperti itu pada Nadira.
"Tidak lupakan saja."
William langsung menyenderkan kepala dan mengutak-atik ponselnya untuk mengalihkan perhatian.
"Tuan muda boleh saya bicara?" Tanya Nadira.
"Bicara saja."
"Sepertinya saya akan mengajukan cuti panjang."
"Apa!!"
William langsung menjatuhkan ponselnya karena terkejut dengan berita yang begitu tiba tiba, entah kenapa perasaannya tidak rela jika wanita itu harus menjauh darinya mungkin karena mereka sudah bekerjasama selama 7 tahun menerpa hujan badai dunia bisnis.
"Alasannya?"
"Urusan pribadi," jawab Nadira.
Wajah sang pemilik cahaya benar benar redup mendengar permintaan Nadira yang tidak masuk akal, cuti panjang bukan waktu yang sebentar bisa saja setelah itu Nadira nyaman tidak bekerja dan kemampuannya juga berkurang
"Pikirkan nanti saja," kata William lalu mengambil ponselnya dibawah kursi mobil.
Apa aku membuatnya terlalu lelah bekerja? Kenapa dia ingin cuti, batin William.
Apa dia ingin mencari pekerjaan yang lebih santai?
Sepertinya aku tidak terlalu kejam padanya.
Pertanyaan itu terus berputar di otak William namun tidak ia katakan pada Nadira, pikirannya buntu hingga tak sadar sudah sampai di depan apartment bahkan Nadira memanggilnya beberapa kali namun tidak di dengar oleh pria itu.
"Tuan muda!"
"Ya?"
Nadira meninggikan volume suaranya baru William menanggapi secara spontan.
"Anda tidak sakit kan? Kenapa melamun seperti itu," ucap Nadira.
"Tidak aku baik baik saja."
"Baiklah kita sudah sampai di apartment anda dan saya akan kembali ke apartment sekarang."
"Aku bosan di apartment, aku ikut ke apartment mu."
"Heuh?"
Tentu Nadira terkejut mendengar ucapan William, selama 7 tahun baru kali ini ia mengajukan diri untuk datang ke apartment Nadira.
"Memangnya tuan tuan muda tidak ingin mengerjakan sesuatu?"
"Tidak."
Haishh tuan muda berikan sedikit saja ruang untuk ku agar tidak bertemu denganmu, batin Nadira.
Ia sedikit kesal namun tak bisa menolak permintaan William, terpaksa Nadira menyanggupi permintaan pria itu.
"Sesuai kesepakatan di hari libur anda bukan siapa siapa bagi saya begitu juga sebaliknya jadi ayo berpisah disini nikmati waktu libur masing-masing," kata Nadira.
Ia memutuskan untuk menolak William untuk mengganggunya di apartment.
"Aku kesepian tidak punya teman," ucap William dengan nada lirih.
Nadira mengurungkan tangannya membuka pintu mobil, gadis itu menatap William yang sedang sendu.
Apa ucapan ku terlalu berlebihan, batin Nadira.
"Tuan muda."
Keduanya sama sama hening hingga Nadira mengambil keputusan terakhir, ia memasukkan kunci kembali dan menyalakan mobil lalu berputar balik menuju apartemennya.
William tampak senang Nadira mau menuruti ucapannya namun tidak dengan Nadira yang sibuk harus bertemu dengan teman dan keluarga.