MY BOSS IN LOVE

MY BOSS IN LOVE
MBIL 16



Diruang kerja Nadira mempersiapkan meeting online dengan para karyawan untuk William, mereka berdiskusi mengenai proyek proyek yang sudah disiapkan dari jauh jauh hari.


"Dalam satu minggu semuanya sudah selesai jadi kerjakan semuanya dengan maksimal."


"Baik tuan muda," ucap perwakilan direktur yang memimpin meeting di kantor.


Nadira memutuskan video call dengan kantor, ia menyandarkan kepalanya tanpa menatap Nadira.


Tring..tring


Spontan manik hitam William melirik ke arah ponsel Nadira dan nama yang tertulis adalah Rendy, pria itu menarik nafas dalam dalam sembari menatap Nadira.


"Kencan buta mu masih berlanjut dengannya?" Tanya William.


Nadira ikut melirik ke arah pandangan pria itu, ia pun agak terkejut karena Rendy baru menghubunginya lagi setelah beberapa hari.


"Hmm saya rasa begitu tuan muda."


"CK!!"


William membuang kasar pulpen ditangannya ke arah meja lalu pergi dari ruang kerja.


"Tuan muda dokumennya belum ditanda tangani," ucap Nadira sembari mendekati William membawa dokumen.


"Tangan ku lemas kau mau apa!"


Nadira melihat tangan William yang ia rasa baik baik saja, ada apa sebenarnya dengan pria itu batinnya.


"Baiklah dokumennya akan di antar dua hari lagi jadi tidak masalah ah ya tuan muda nyonya Becca mengatur jadwal anda hari ini untuk menemui seseorang," kata Nadira.


"Kau saja gantikan aku menemuinya aku sedang tidak ingin menemui siapapun," ucap William sembari berjalan ke ruang tamu.


Bagaimana cara membujuknya agar bertemu dengan gadis itu, batin Nadira.


"Tuan muda ini urusan yang sangat penting jadi anda harus pergi."


"Sepenting apa?"


"Sangat penting."


"Berapa persen?"


Aih kenapa dia terus merepotkan ku dengan pertanyaan seperti ini, batin Nadira.


"99,9%"


"Kau temani aku pergi," kata William.


Apa? Astaga apa kata perempuan itu nanti jika aku ikut kencan buta, batin Nadira.


"Maaf tuan muda hari ini saya merasa tidak enak badan dan sedikit pusing, apa boleh tidak ikut untuk kali ini saja?"


Nadira berpura pura terlihat lemah dan membuat William berdiri mendekati gadis itu.


"Ayo."


William menggandeng pergelangan tangan Nadira ke arah pintu.


"Ke-kemana tuan muda?"


"Rumah sakit kau bilang tidak enak badan kan? Aku tidak ingin pegawai ku sakit sakitan," jawab William datar.


"Ti-tidak sebenarnya saya hanya perlu beristirahat sedikit setelah itu pasti akan baik baik saja."


William melepas pergelangan tangan Nadira dan menyuruhnya mengikuti langkah pria itu.


"Tidur di kamar tamu," titahnya.


"Ah tidak tuan muda saya akan ikut anda ke pertemuan itu saya takut anda tidak datang," kata Nadira dan masih dengan akting lemasnya.


"Aku akan datang," ucap William datar.


"Benarkah?"


Spontan mimik gadis itu sumringah namun langsung ia ubah dan kembali merasa sakit.


"Baik tuan muda saya akan mengirim alamat reservasi nya."


Nadira memasuki kamar dan menutup pintu, ia sedikit senang William mau bertemu dengan seorang gadis dan kemungkinan besar dia akan marah ketika kembali nanti namun apa salahnya mencoba.


Nadira senang namun disisi lain ada rasa yang tidak karuan dalam dirinya melihat William pergi menemui seorang gadis, mungkin hanya firasatnya saja yang sudah biasa dengan pria itu.


"Istirahat lah aku akan membawa obat jadi jangan pulang sebelum aku kembali," kata William.


"Baik tuan muda."


Nadira mengucapkan kalimat itu dengan volume sangat kecil untungnya William masih mendengar suara itu.