
"Hueekk!!"
"Kau sedikit merepotkan ku hari ini Nadira," keluh William saat Nadira memuntahkan isi perutnya karena mabuk.
"Tuan muda mari saya bantu."
William mengangguk dan menyerahkan Nadira pada pelayan, gadis itu dibawa ke kamar yang biasa ia tempati saat menginap dirumahnya.
"Nadira mabuk?" Tanya nyonya Becca.
"Iya ma tumben tumbenan Nadira tumbang biasanya tidak."
"Mungkin Nadira sedang hamil." Celetuk Monica.
"Bicara apa kau dia bukan gadis seperti itu," jawab William datar.
Pria itu tidak suka Nadira dijelek-jelekkan orang lain sekalipun nyonya Becca dan untungnya nyonya Becca tidak memiliki sifat seperti itu.
"Sudah sudah jangan ribut disini tidak baik sekarang kalian lanjutkan pestanya mama akan mengurus Nadira."
"Okay Tante."
"Have fun."
Nyonya Becca menyusul pelayan kedalam kamar dan menutup pintu karena Nadira akan digantikan pakaiannya.
"Ayo tuan William kita kembali kesana."
"Kau lanjutkan saja pestanya gantikan aku menyambut tamu aku lelah dan ingin istirahat."
Raut wajah Monica tampak cemberut William memutuskan untuk meninggalkan acara sebelum selesai.
William tidak bisa tanpa Nadira dan ia memutuskan untuk pergi meskipun acara belum berakhir lagipula baginya tidak ada untung mengikuti acara-acara tidak jelas itu.
"Baiklah."
Monica beranjak meninggalkan William dan pria itu kembali ke kamarnya untuk beristirahat. William memilih untuk pergi ke ruang pribadinya yang menenangkan dan membaca buku disana.
Hahhh!!
William menghela nafas setelah masuk kedalam ruang kerjanya, ia sudah lama tidak berkunjung kesana dan susunan buku masih tampak sama seperti semula.
William menatap beberapa pajangan foto keluarga disana dan ia selalu teringat pada mendiang papanya yang telah meninggal karena stroke.
Pria itu tidak terlalu memikirkan papanya dan memilih untuk membaca buku, ia menghidupkan kedap suara agar tidak mendengar suara bising diluar.
***
Keesokan hari Nadira terbangun dari tidurnya, sayup sayup ia melihat langit langit kamar dan ia sudah hafal berada dimana.
Huuhhh!!
Nadira melihat pakaiannya sudah diganti dengan baju tidur, ia menghela nafas sekali lagi lalu turun dari kasur yang tidak ingin ia tinggalkan.
Nadira membuka gorden dan melihat beberapa tukang kebun sedang menyiram tanaman, ia menyunggingkan senyum tipis yang membuat mereka nyaman pada Nadira.
Setelah melihat tanaman hijau dipagi hari Nadira keluar dari kamarnya lalu menuju kamar utama dimana William tidur.
Ceklek
Ia tidak butuh izin siapapun untuk masuk kedalam kamar itu, Nadira tidak melihat siapapun dikamar itu dan keluar untuk bertanya pada siapapun diluar.
"Maaf kau melihat tuan muda keluar dari kamarnya?" Tanya Nadira pada seorang pelayan.
"Tidak nona sepertinya tuan muda tidak keluar sejak tadi malam."
Nadira memberi senyum seperti biasa lalu menutup pintu, ia sudah tahu jawabannya dan tidak perlu pusing dimana pria itu berada.
Nadira mendekati pintu ruang kerja dan menekan beberapa pin untuk membuka pintu tak butuh waktu lama pintu terbuka.
Gadis itu melihat William sedang tertidur dengan lelap di sofa, segera ia mengambil beberapa buku yang berserakan dan merapikannya kembali.
"Selamat pagi tuan muda," ucap Nadira.
"Ya."
Nadira hafal kebiasaan pria itu, William bisa menanggapi ucapan seseorang meskipun ia sedang tertidur.
"Selamat pagi tuan muda anda harus bangun sarapan," kata Nadira sekali lagi.
"Ya baiklah."
Meskipun ia menjawab namun matanya masih tetap tertutup rapat, Nadira tidak percaya jika William benar benar sudah bangun.
"Tuan muda...."
"Dira kau cerewet sekali!"
Nadira langsung melipat kedua bibirnya setelah William menegaskan perkataan, sepertinya perasaan William sedang tidak baik saat ini.
"Baik tuan muda saya akan menyiapkan pakaian untuk anda."
"Tidak aku ingin pulang," ucap William dan langsung membuka mata.
"Tapi tuan...."
William beranjak dari sofa lalu berjalan keluar dari ruang kerja, Nadira menyusulnya dan menyamakan langkah mereka.
"Tuan muda ingin pulang dengan pakaian seperti ini?" Tanya Nadira.
"Menurutmu?"
"Baik tuan muda kita akan pulang."
"Dengan pakaian seperti ini?" Tanya William balik sembari menatap Nadira dari atas sampai bawah.
Nadira pun menatap dirinya dengan baju tidur, ia menggaruk kepala kebingungan bagaimana menanggapi pertanyaan William.
"Atau tuan muda kembali sopir?"
"Tidak!" Tolak William.
"Lalu..."
"Ku beri waktu 5 menit untuk ganti pakaian."
"Li-lima menit tuan muda?"
"Sudah mulai dari sekarang."
Tanpa aba aba Nadira berlari menuruni anak tangga dan mengambil pakaiannya yang telah dibersihkan oleh pelayan.
"Hei Dira hati hati kenapa berlari."
"Ah nyonya saya akan menjawabnya nanti."
Nadira kembali berlari memasuki kamar yang ia tempati tadi malam dan segera mengganti pakaiannya.