
"Nadira kau sudah diberitahu tante Lani?" Tanya Rendy.
"Tentang apa?" Tanya Nadira balik.
"Ah sepertinya kau belum diberitahu jadi begini orang tua ku dan orang tua mu berencana untuk makan malam dirumah mu dua hari lagi," jawab Rendy.
"Mama tidak pernah mengatakannya padaku."
Nadira tidak terlalu tertarik dengan makan malam itu karena ia pasti akan lelah kecuali harus meminta cuti satu hari pada William.
"Kau...."
Rendy bisa menebak Nadira tidak menyukai acara seperti itu dan ia merasa tidak nyaman telah memberitahu Nadira terlebih dahulu.
"Maafkan aku Nadira aku akan membatalkan makan malam itu," ucapnya.
"Ah tidak aku tidak masalah dengan makan malamnya kau tenang saja," kata Nadira.
"Kau yakin?"
Rendy menatap Nadira beberapa saat untuk meminta keyakinan padanya.
"Be-benar aku tidak masalah kau tenang saja jangan menatap ku seperti itu," kata Nadira.
Sebagai wanita normal ia malu terus menerus ditatap seperti itu oleh pria.
Kring kring kring
Ponsel berbunyi dan Nadira melihat nama pemanggil di ponselnya, gadis itu memutar manik hitamnya dengan malas tanpa berniat mengangkat panggilan.
"Siapa?" Tanya Rendy.
Nadira menatap Rendy bergantian dengan ponsel ditangannya.
"Bukan siapa-siapa."
Gadis itu membiarkan ponselnya berdering sampai selesai dan berdering sekali lagi hingga selesai sampai lima kali panggilan.
"Mungkin itu penting Nadira angkatlah," ucap Rendy yang sedikit terganggu dengan nada dering ponselnya.
Nadira mengangguk lalu membawa ponselnya menjauh dari meja makan namun masih tetap terlihat oleh Rendy.
"Iya tuan muda?"
"Kau masih sakit?" Tanya William.
"Tidak saya baik baik saja,"
"Kau butuh dokter?"
"Tidak...."
"Nadira ayo habiskan makanan mu," ucap Rendy dengan volume sedikit keras.
"Sepertinya kau tidak sendiri disana," kata William.
Nadira menggigit bibir seolah berat untuk mengatakan bahwa ada seorang pria di apartment nya namun saat mengingat berita tadi membuatnya tidak ragu.
Tut...Tut... Tut
William memutuskan sambungan yang membuat Nadira bingung maksud tujuan pria itu menghubunginya.
"Nadira?" Panggil Rendy sekali lagi.
"Ya tunggu sebentar."
Nadira kembali duduk di kursi "bos mu?" Tanya Rendy.
Nadira mengangguk sembari memakan makanannya, ia tidak mengerti kenapa kembali memakan makanan itu.
"Baiklah aku akan kembali sekarang besok hubungi aku jika kau mendapat cuti."
"Baik."
Rendy berdiri lalu berjalan menuju arah pintu dan diantar oleh Nadira, sebenarnya Rendy pria yang baik dan Nadira tidak memiliki alasan untuk menolak pilihan mamanya kali ini namun kenapa batinnya merasa berat menerima Rendy.
###
"Dira kau masih menyimpan dokumen kontrak kerjasama dengan tuan Luin?" Tanya William.
"Tunggu sebentar tuan muda."
Nadira mencari dokumen tersebut di beberapa rak dan setelah lima menit berlalu ia mendapatkannya.
"Ini dokumennya tuan muda."
"Mencari dokumen seperti ini saja susah sekali kau tidak merasa kinerja mu berkurang!" Ucap William dengan ketusnya.
"Maafkan saya tuan muda."
Seharian ini tuan muda sangat tidak puas dengan kinerja ku semuanya serba salah, batin Nadira.
Gadis itu kembali duduk dan bekerja menghadap komputernya, sebenarnya ia merasa ada jarak dengan pria itu karena tadi pagi saat Nadira datang ke apartment William sudah berangkat ke kantor.
Di kantor William terlihat sangat cuek dan tidak pernah menatap Nadira sedikitpun bahkan tidak memberi alasan kenapa dirinya berangkat tanpa konfirmasi.
Tok...tok... tok
Nadira segera membukakan pintu dan terlihat seorang gadis yang tak lain adalah Renata, ahh gadis itu tampak perfeksionis dengan style bangsawan nya.
"Nona silahkan masuk." Ucap Nadira.
"Kau pasti Nadira kan,"
"Benar nona silahkan masuk saya ambilkan minuman terlebih dahulu."
"Baiklah terimakasih Nadira."
"Anda tidak perlu sungkan nona."
Nadira membalas dengan senyuman dan membiarkan gadis itu masuk menemui William, sebelum menutup pintu untuk keduanya Nadira sempat melihat William beberapa detik namun pria itu tak memberikan ekspresi apapun.