
William menepati janjinya untuk memberikan seluruh keinginan Rey bahkan ia mengganti ponselnya dengan keluaran terbaru, hari ini hari paling menyenangkan bagi Rey dan ia bersyukur William mau bertunangan dengan kakaknya yang sangat menyebalkan itu.
"Terimakasih kakak."
William mengangguk sembari menyetir mobil untuk kembali pulang.
"Haahh seandainya aku bisa mengajaknya," gumam Rey.
"Siapa?" Tanya William.
"Heuh? Mm seorang wanita dia sangat cantik kak."
"Kau menyukainya?"
"Sepertinya begitu karena saat bertemu dengannya aku seperti melayang tapi dia sedang menyukai seseorang sekarang," jawab Rey.
Ekspresinya kali ini sedikit sendu bahkan belanjaan yang ia beli tadi seperti tidak memiliki makna.
"Itu artinya cintamu bertepuk sebelah tangan."
Hahhh
Rey hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan William.
"Bukan berarti kau harus menyerah, buktikan padanya kau menyukainya dan buat dia melupakan orang yang dia sukai," ucap William dengan serius.
Rey kembali berpikir ulang dan jika dipikir pikir benar juga toh wanita yang ia sukai tidak memiliki kekasih apa salahnya mencari kesempatan.
"Benar juga baiklah aku akan berusaha untuk mengambil hatinya mulai besok ah ya aku bisa meminta saran mu kapan saja?"
"Tentu."
"Yess!!"
Rey kembali tersenyum seakan jalannya akan lurus lurus saja, William terkekeh melihat tingkah pria itu yang sedikit mirip dengan Nadira.
"Sampai."
Rey melihat kembali gedung apartment kakaknya, ia membuka pintu dan mengeluarkan banyak paper bag dengan brand brand termahal.
"Hei kakak biarkan aku saja jangan lukai tanganmu," ucap Rey saat melihat William memegang satu paper bag.
"Tidak apa lagipula ini untuk Dira," kata William.
"Baiklah."
Keduanya masuk kedalam area apartment dan berjalan menuju tempat tinggal Nadira, wajah Rey benar benar bersinar menerima semua hadiah dan kartu unlimited yang telah diberikan oleh William tadi.
Rey mempersilahkan William masuk terlebih dahulu lalu ia menutup pintu.
"Rey kau ingin mati?!"
Ujar Nadira dengan ketusnya sembari memakan mie membelakangi pintu.
"Me-memangnya apa yang kulakukan?" Tanya Rey bingung.
Seketika keringat pria itu bercucuran setelah mendengar kakaknya mulai marah dengan alasan yang ia tidak tahu.
"Kau bilang pada mama menginap disini tapi kau mengatakan padaku menginap di rumah teman mu kemana kau sebenarnya hahh!!"
Rey meneguk ludahnya saat garpu dipukul ke mangkok mie, itu sangat menyeramkan baginya seharusnya Rey tidak pulang kesana malam ini.
William baru pertama kali melihat Nadira berbicara lantang dan menakutkan seperti itu, ia cukup terkejut saat mendalami sifat Nadira diluar kantor.
"Kenapa kau diam kau benar-benar ingin mati hah!!!"
Nadira berbalik dan menodongkan garpu ke arah manik hitam Rey.
Brughh!!
Rey membuang semua paper bag ditangannya dan langsung duduk bersimpuh sedangkan Nadira membulatkan mata saat melihat ada orang lain disana dan itu adalah William pria yang ini adalah tunangannya.
"Tu-tuan...ka-kau untuk apa datang kemari?" Tanya Nadira sembari melepas todongannya.
William tersenyum tipis sembari mengangkat satu paper bag ditangannya, William memperhatikan pakaian Nadira yang hanya menggunakan kaos kuning oversize dengan celana pendek namun tertutupi oleh bajunya.
Nadira menyadari penampilannya namun ia tidak tahu harus apa jadi ia biarkan saja.
"Jawab aku selama ini kau kemana!" Cecar Nadira.
"Aiihh aku benar benar dirumah teman ku saat itu kenapa kau tidak percaya sekali padaku," ucap Rey kesal.
"Teman mu yang mana?"
"Y-yang pernah datang kemari dua tahun lalu."
Nadira memutar ingatannya untuk dua tahun yang lalu tapi ia tidak ingat teman teman Rey.
"Kau membicarakan teman mu yang mana aku tidak tahu," kata Nadira sembari menatap William karena malu tidak mengingat apapun.
"Mana mungkin kau ingat karena kau sibuk," jawab Rey lagi.
Nadira memantau gerak gerik Rey namun kali ini ia memaafkan pria itu karena salahnya sendiri tidak mengingat teman teman adiknya padahal Rey berbohong karena ia tidak pernah membawa temannya kesana.