
Ceklek
Monica membuka membuka apartment, ia berharap pria itu tidak mengacaukan rumahnya karena kelaparan namun saat memasuki ruangan ternyata sepi.
"Kemana dia," gumam Monica.
Unit apartment Monica cukup luas ia mencari ke beberapa ruangan tidak ditemukan sedikitpun jejak Rey disana.
"Hahh sepertinya dia pulang kerumahnya."
Monica meletakkan tas dan sepatunya lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.
"Astaga!!"
Monica terkejut melihat Rey tertidur pulas di atas meja memangku wajahnya dengan tangan kiri.
"Hey bangun!"
Monica menggerakkan badan pria itu dan membuat Rey terbangun, penglihatannya belum terlalu stabil sehingga melihat Monica tidak jelas.
"Aku sudah menyiapkan makan malam ayo makan," ajak Rey.
"Heuh?"
Monica melihat beberapa piring dengan makan malam cukup mewah, sekali lagi Monica menatap wajah manis pria itu.
"Kau menyiapkannya sendiri?" Tanyanya.
"Ah tidak aku membeli makanan di restoran dekat apartment, aku takut kau belum makan malam."
Rey dengan semangat membukakan kursi untuk Monica, tingkah manis itu membuat Monica sedikit bergetar dan membuat jantungnya berdegup kencang.
"Ayo makan aku lihat di dapur kau banyak menyimpan resep masakan Chinese jadi aku membeli makanan Chinese."
Seandainya William seperti ini pasti aku sangat bahagia, batin Monica.
"Ada apa? Kau tidak menyukai makanan ini?" Tanya Rey.
"Tidak tidak semua ini memang makanan kesukaan ku."
"Kalau begitu makanlah ah ya aku akan menyuapi mu sedikit."
"Tidak perlu tanganmu sedang terluka."
"Aku berlatih menggunakan sendok sejak siang tadi dan sekarang sudah lancar lihat ini."
Tatapan wanita itu tidak lepas dari Rey yang sedang berantusias menyuapinya.
"Kau tau aku cukup kesulitan membawa makanan ini ke apartment tapi lihat aku berhasil kan?"
Rey kembali menyuapi Monica namun kali ini tatapan mereka bertemu satu sama lain hingga beberapa detik, Monica benar benar perempuan idaman Rey meski usianya lebih tua dua tahun.
"Ee..mm itu aku akan makan sendiri," ucap Monica saat menyadari tatapan mereka sudah terlalu lama.
"Baiklah," Rey memberikan sendok dengan senyum termanisnya.
Astaga aku bisa gila jika tinggal terlalu lama dengan pria ini aku tidak mungkin menyukainya, batin Monica.
Jika aku tinggal sedikit lebih lama disini pasti aku akan mendapatkan hatinya, batin Rey.
####
Pagi hari Nadira sudah di apartment William, gadis itu membuka pintu kamar bosnya lalu membuka gorden seperti biasa.
"Selamat pagi tuan muda sudah waktunya bangun," ucap Nadira.
"Aku tidak ingin bekerja hari ini," kata William lalu memeluk bantalnya dan tidur dengan nyaman.
Nadira mengerutkan kening lalu mendekati kasur untuk memastikan William tidak sakit.
Dia baik baik saja tapi kenapa tidak ingin ke kantor, batin Nadira.
"Tuan muda bukankah hari ini ada pertemuan dengan klien?"
"Batalkan saja Dira jangan banyak bertanya aku mengantuk."
"Tapi..."
William menutup tubuhnya dengan selimut tebal Nadira mengangguk lalu keluar dari kamar pria itu. Nadira membatalkan semua jadwal untuk William.
"Ada apa dengannya kenapa suasana hatinya sangat buruk." Gumam Nadira sembari menuangkan susu hangat kedalam gelas.
Entah apa penyebabnya Nadira tetap melayani William, ia meletakkan susu di atas meja lalu kembali kedalam kamar pria itu.
"Tuan muda sebenarnya apa yang terjadi kenapa anda tidak ke kantor? Apa anda sedang sakit?" Tanya Nadira.
"Hari ini bekerja dari rumah saja kau juga tetap disini jangan pergi," jawab William.
"Baik tuan muda saya tunggu di ruang kerja," kata Nadira.