
Ceklek
Nadira membuka pintu apartemen lalu meletakkan sepatu di rak, gadis itu membuang tas sembarangan dan menghempaskan tubuhnya dengan rasa lelah.
Baru kali ini ia merasakan tubuhnya pegal-pegal akibat pekerjaan kantor, huhh Nadira menghembuskan nafas letih.
"Rey kemana pria itu," gumam Nadira.
Ia baru menyadari adiknya yang patah kaki akibat tabrakan tadi pagi tapi tidak terlihat tanda tanda Rey berada disana.
Nadira mencari tas yang ia lempar tadi lalu menghubungi Rey.
"Kau dimana?" Tanya Nadira.
"Heuh? Aku hubungi nanti bye."
Rey langsung memutuskan sambungan tanpa permisi tapi Nadira sudah tidak bingung dengan karakter pria kecil itu.
"Terserahlah."
***
"Kau berbicara dengan keluarga mu?" Tanya Monica sembari membawakan makan malam.
"Tidak itu dari pihak asuransi," jawab Rey.
Monica mengangkat bahu dan tidak terlalu mau ikut campur urusan pria itu.
"Ayo cepat makan malam setelah itu istirahat," kata Monica.
"Hahh sepertinya aku tidak bisa makan selama beberapa hari ke depan," ucap Rey sembari menatap pergelangan tangannya.
Monica hampir lupa Rey sedang dibalut perban dan membuatnya terhalang memakan makanannya.
"Kemari."
Monica memberikan suapan untuk Rey, laki laki itu menatap wajah Monica yang teramat cantik bahkan ia bingung bagaimana menjelaskan kecantikan wanita di depannya itu.
"Kau..."
Tatapan Monica tidak sengaja bertemu dengan manik hitam Rey, wanita itu juga berpikir Rey pria yang manis tapi tidak mungkin ia menyukai pria 2 tahun dibawahnya lagipula ia apakan perasaannya pada William.
"Kenapa melamun ayo makan," kata Monica.
Perkataan itu membuat Rey sadar dan segera membuka mulutnya, tatapan pria itu tidak pernah lepas dari wajah Monica.
"Kenapa terus menatapku apa aku secantik itu?" Tanya Monica sembari terkekeh.
"Heuh? Tidak diwajah mu ada bekas mayonaise," jawab Rey.
Monica melepas piring dan melihat cermin, aish meskipun Rey bocah kecil setidaknya pria itu hanya 2 tahun dibawahnya dan tentu Monica malu.
"Tidak apa kau tetap cantik," ucap Rey lagi.
"Diam diam aku tidak ingin mendengar mu sudahlah kau makan dengan tangan kiri saja aku ingin ke kamar," kata Monica.
"Hey tunggu bagaimana aku..."
Rey tidak melanjutkan kalimatnya karena Monica sudah menutup rapat pintu kamar, ia menghela nafas lalu menghabiskan makanan dengan tangan kiri namun senyum pria itu terbit secerah sinar bulan di malam hari.
***
Tok...tok... tok
Nadira membuka pintu apartemen untuk melihat siapa yang mengetuk pintu dan ternyata itu adalah Alex.
"Aku membawa makanan bisa aku masuk?" Tanyanya.
"Kau mencoba menyogok ku dengan makanan?" Tanya Nadira balik.
"Tentu saja."
Nadira terkekeh sembari menggelengkan kepala lalu mempersilahkan Alex masuk kedalam apartment nya.
"Kemarilah aku membawa banyak makanan kebetulan Monica juga akan mampir kemari," kata Alex.
"Benarkah?"
Nadira membantu Alex menyiapkan makanan karena mendengar Monica akan datang, sebenarnya mereka bisa dikatakan dekat satu sama lain tapi itu diluar urusan kantor bahkan dalam acara pesta seperti kemarin mereka harus terlihat formal.
Tok...tok...tok
"Itu pasti Monica aku akan membukakan pintu," ucap Alex.
Nadira mengangguk dan melanjutkan menyiapkan makanan.
"Nadiraa," sapa Monica sembari memeluk gadis itu dari belakang.
"Kau tidak memberitahu ku kau pulang dari luar negeri aku cukup kecewa denganmu," kata Nadira dengan acuh.
"Aih kau tidak mengerti aku juga buru buru itupun karena William datang ke pesta kemarin," jawab Monica.
"Sudahlah jangan ributkan masalah yang sudah terjadi mari makan," saut Alex yang sudah duduk di kursi.
Kedua gadis itu mengangguk lalu mulai memakan makanan masing-masing, mereka terlihat cukup akrab di belakang William karena Nadira sering memberikan informasi mengenai William pada Monica jadi mereka dapat dikatakan bersahabat.