MY BOSS IN LOVE

MY BOSS IN LOVE
MBIL 16



William sampai di restoran yang sudah kirim oleh Nadira, ia masuk ke meja yang sudah di reservasi dan menunggu seseorang datang.


Beberapa kali ia menatap arloji bukan karena menghitung berapa lama ia menunggu melainkan berapa lama ia meninggalkan Nadira yang sedang sakit di apartment.


"Hallo?"


William melihat sepatu heels di atas 10 cm dengan stoking berwarna kulit, rok pendek dan kemeja pink. Warna yang sangat mencolok di mata William bahkan ia melarang Nadira menggunakan warna terang.


"Tuan David William?" Tanya gadis itu.


William mengangguk datar, gadis itu tersenyum dan langsung duduk lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Perkenalkan aku Renata putri tuan Luin," ucap gadis itu.


Pemegang separuh saham William Group, batin William.


Sejenak pria itu mengepalkan tangan dibalik sakunya, William membalas uluran tangan gadis itu dengan senyum setipis mungkin.


"Ah ya sampaikan terimakasih ku pada nona Nadira karena telah mengatur pertemuan kita, papa mengatakan pemimpin William Group sangat sibuk dan sangat tampan hmm tampaknya memang tampan," ujar Renata.


"Tuan Luin pernah mengatakan putrinya membangun bisnis di luar negeri kenapa kau disini sekarang?" Tanya William.


"Ah soal itu sebenarnya papa ingin aku segera menikah jadi mendukung pertemuan ini, dia mengatakan menikah dengan mu akan sangat menguntungkan bagi dua perusahaan," jawab Renata.


"Cihhh sangat jujur," kata William dengan nada tidak suka.


"Memang seperti itu dan aku merasa tidak keberatan selain tampan kau juga pintar bukan."


William menyatukan kedua tangannya di meja dan menatap gadis itu dalam dalam.


"Meskipun aku tidak perduli soal cinta tapi untuk menikah pilihlah pria yang mencintaimu pasti kau akan bahagia, bersamaku kau tidak akan pernah merasakan itu nona Renata," ujar William


Renata terdiam mencerna ucapan pria itu, dia sangat benar karena pernikahan bukanlah waktu yang sebentar melainkan seumur hidup sayang sekali jika tidak merasakan kebahagiaan dalam pernikahan.


"Itu bagus kau katakan pada tuan Luin kencan buta mu bersamaku cukup baik agar kau tidak dicarikan pria lain begitu juga aku dengan orang tuaku, anggap saja kita sedang bekerjasama agar tidak ada kencan buta lagi."


"Setuju!" Dengan polosnya Renata masuk kedalam perangkap William.


Tanpa bersusah payah ia bisa mengelabui Renata lagi pula gadis itu sepertinya tidak terlalu terobsesi dengan William.


"Baiklah aku akan kembali karena masih banyak pekerjaan," ucap William.


Pria itu mendekati Renata dan mendekati wajahnya seperti akan menciumnya.


"Kau ingin mencium ku?" Tanya Renata.


"Ada beberapa media diluar, aku ingin orang tua mu dan orang tua ku percaya kita cocok satu sama lain," jawab William.


Renata melirik belakang dan sedikit melihat kamera, ia langsung kembali menatap William.


"Aku harus mencium mu?" Tanya Renata.


"Tidak kau cukup diam dan biarkan media mengambil gambar dengan kedekatan kita," jawabnya.


Renata mengangguk setuju dan menambahkan sedikit polesan dengan memegang wajah pria itu agar terlihat bagus di kamera.


"Pergilah," ucap Renata.


William mengangguk sembari mengacak rambut gadis itu, sepertinya Renata masih berusia dibawahnya dan terlihat imut di mata William.


"Aku boleh datang ke kantor mu?" tanya Renata.


"Aku akan menyambutmu," jawab William sembari melambaikan tangannya.


Renata tersenyum manis sembari memakan makanannya, ia senang dengan watak William yang terus terang sepertinya pria itu cocok ia jadikan partner curhat nantinya karena ia cukup paham mengenai cinta dan ia masih butuh pencerahan bagaimana merebut hati seorang pria.