
Nadira langsung memberikan pijatan yang membuat William sangat nyaman untuk memejamkan matanya, dalam beberapa menit pria itu tertidur pulas di pangkuan Nadira.
Saat melihat William tertidur Nadira menyentuh hidung runcing pria itu, jika dilihat saat tertidur William sangat tampan namun saat membuka mata ia pasti akan menyombongkan ketampanan itu.
"Terimakasih tuan muda anda sudah memberikan kesempatan untuk saya berada disini," ucap Nadira.
Perlahan Nadira mengangkat kepala pria itu untuk memperbaiki posisi tidurnya namun William tampak tidak nyaman untuk dibaringkan dengan benar.
"Jangan pergi," ucapnya dalam keadaan tidak sadar.
Nadira langsung mematung dan perlahan kembali mengusap puncak kepala pria itu dan membuat William kembali nyaman untuk tertidur.
"Baiklah saya akan menunggu sampai anda terbangun tuan muda."
Nadira terus melakukan hal yang sama hingga 15 menit dan membuat dirinya ikut mengantuk, gadis itu tak sadar kepalanya tidak bisa menahan beban lagi dan akhirnya tumbang menyusul William kedalam mimpi.
###
"Kakak bisa antar aku ke kampus tidak?"
"Kau masih sakit jangan dulu," jawab Monica.
"Sebentar lagi aku akan wisuda kak jadi harus menyerahkan berkas," kata Rey.
"Aku akan mengantarnya untukmu ah ya besok jadwal mu membuka alat penyangga kan."
Rey mengangguk namun sedikitpun ia merasa tidak senang.
"Kenapa kau sedih harusnya kau senang alat itu tidak mengganggumu lagi," kata Monica.
"Jika alat ini dibuka artinya aku harus segera pergi dari rumah mu," ucap Rey.
"Kita akan sering bertemu anak kecil memangnya kau tidak merindukan orang tua mu hah?"
"Hahhh."
Rey hanya menghela nafas, ia sadar tidak mungkin tinggal terlalu lama di apartment Monica pasti orang tuanya mencari pria itu apalagi Nadira yang galaknya melebihi penyihir.
"Baiklah aku berjanji akan mengajakmu jalan jalan setiap weekend jadi jangan sedih begitu," ucap Monica.
"Benarkah?" Rey mengangguk tanpa tenaga dengan ucapan manis Monica, hatinya tidak rela jika jauh dari wanita itu.
"Apa aku terlihat berbohong?"
Rey menatap wajah Monica yang sedang tersenyum manis padanya, Rey benar benar masuk kedalam buaian senyum manis itu sehingga ia tidak sadar Monica terus memanggilnya sedari tadi.
"Hei!!"
"Heuh? Ya ya aku percaya padamu."
"Aku akan mengantarmu besok pagi untuk membuka penyangga ini lalu mengantarmu pulang," kata Monica.
Sejujurnya gadis itu juga merasa dirinya sedih harus melepas seorang pria yang telah ia urus beberapa minggu ini.
"Baiklah aku akan tidur sekarang jadi kau juga beristirahat."
Rey mengangguk dan memberikan jalan pada Monica untuk lewat menuju kamarnya, pria itu menatap kepergian Monica hingga tubuhnya tak terlihat lagi.
"Hahhh!!!"
###
Disisi lain William perlahan membuka kedua matanya, sayup-sayup ia melihat langit langit ruangannya yang masih terlihat begitu gitu saja.
Ia ingat terakhir kali ada Nadira yang memangku nya namun sekarang gadis itu hilang entah kemana, Nadira tak terlihat di meja kerjanya.
Ceklek
"Anda sudah bangun tuan muda," sapa Nadira yang baru saja masuk kedalam ruangan.
"Ah ya sudah berapa menit aku tidur?" Tanya William.
"Sekitar satu jam setengah tuan muda."
"Wahh cukup lama juga."
Dalam tujuh tahun terakhir baru kali ini William merasakan tidur siang biasanya William tidak akan mengambil tindakan itu atau perusahaan tidak berjalan dengan lancar.
"Tuan muda ada yang ingin saya bicarakan dengan anda."
"Katakan."
William mengambil teh sembari memperbaiki dasinya, ia menyandarkan tubuhnya di meja sembari menyeruput teh.
"Saya baru mendapat kabar dari tuan Fei mereka akhirnya mau menandatangani kontrak besar yang sudah kita direncanakan enam bulan yang lalu tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi mereka ingin pertemuan untuk tanda tangan kontrak agak berbeda, tuan Fei menyukai gunung dan dia ingin anda menemaninya mendaki gunung St Helens."
Sejenak Nadira menatap William, ia sudah dapat menebak William tidak akan setuju.
"Saya akan mengutus direktur terbaik untuk mewakili anda tuan muda," ucap Nadira.
"Aku, kau, dan Gerry yang akan pergi."
"Tuan muda ingin pergi?" Tanya Nadira sekali lagi.
"Tentu saja karena proyek itu bagus dan layak untuk dikembangkan."
"Baik tuan muda saya akan menghubungi sekertaris tuan Gerry."
William mengangguk dan kembali duduk di kursinya sedangkan Nadira keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruangan direktur tiga yaitu Gerry.