My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 8 •




“Tolong jangan sentuh apa pun dari barang putriku, tugasmu hanya menjaga putriku. Mengerti?!” – Tegas Pak Andrian


“I-iya, Pak. Saya mengerti” – Jawabku


Aku tercengang sekaligus merasa takut, pak Andrian terlihat berbeda dari biasanya. Sepertinya beliau sangat sensitif jika seseorang menyentuh barang putrinya, apalagi jika sampai menyentuh putrinya. Mungkin nyawa orang itu tak akan selamat, jiwa seorang AYAH terkadang sangat mengerikan.


“Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini, sekarang kamu boleh pulang” – Ucap Pak Andrian


Pak Andrian segera berjalan meninggalkanku, aku terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh ayahnya, aku akan mencari tahu nanti. Aku segera keluar dari gedung, tapi tubuhku langsung ditarik oleh seseorang. Dengan cepat, aku berbalik badan dan menendang orang itu. Namun dia berhasil menangkis tendanganku.


“Astaga, aku pikir siapa tadi. Ternyata kau, Carel” – Ucapku


“Maaf, ternyata kamu hebat. Tak salah Pak Andrian memperkerjakan bocah ingusan sepertimu” – Ucap Carel


“Ada apa? Kenapa kau menarik bajuku tadi? “ – Tanyaku


“Hanya ingin menyapa, hai Ava! Malam ini kamu terlihat cantik sekali! “ – Ejek Carel


Aku melepas wigku dan melemparnya tepat di wajah Carel, dia tertawa. Dia mengambil wig yang ada di wajahnya dan memakainya di rambutnya, tak lupa dia bergaya menyesuaikan rambutnya seperti seorang wanita.


“Tuan Alvaro, maukah kamu menjadi pacarku? “ – Goda Carel


“Najis! Pergi lu, bangsat!” – Bentakku


“Aaa, tuan Alvaro tidak boleh kasar kepada wanita cantik sepertiku” – Ucap Carel


“Tapi lu kan berbatang, bodoh!” – Ucapku


“Oh, iya juga ya :v” – Ucap Carel


Dia tertawa bahagia karena telah berhasil membuatku kesal, aku hanya melempar senyuman pahit ke arahnya. Aku mengepalkan salah satu tanganku, rasanya aku ingin menonjok wajahnya. Carel menggodaku dengan cara mencolek tubuhku diiringi dengan kata-kata manis bagaikan buaya darat.


“Carel, tolong hentikan. Aku muak melihatmu yang berkelakuan seperti banci! “ – Ucapku


“Kak Carel!” – Teriak Seseorang


Carel refleks melepas wignya dan meletakkannya tepat menutupi rambut asliku, kami langsung menoleh ke arah asal suara itu. Kami mendongakkan kepala kami ke atas, seorang gadis melambaikan salah satu tangannya dari jendela dan tersenyum ke arah kami yang berada di bawah. Gadis itu adalah Lyra, sepertinya dia bangun di tengah malam.


“Kalian sedang apa?! Terlihat bermesraan dimalam yang indah ini, apakah Ava adalah pacar kakak?! “ – Tanya Lyra


What the f-!! Aku sadar saat melihat salah satu tangan Carel masih berada di atas kepalaku, aku langsung menepisnya.


“Bukan, Lyra! Kamu salah paham! “ – Jawabku


“Wah, Ava sudah punya pacar! Kapan ya aku punya pacar juga?” – Tanya Lyra


“Lyra, dia bukan pacarku! “ – Teriak Carel


“Hohoho, kakak sudah besar ya? Jangan malu-malu, hargai selagi ada! Selamat malam dan bersenang-senanglah, maaf mengganggu waktu kalian! “ – Teriak Lyra


Lyra langsung masuk ke dalam setelah mengucapkan sapaan malam untuk kami, aku dan Carel saling menatap satu sama lain. Aku langsung menendang perutnya, membuatnya meringis kesakitan.


“Ini semua karena kau, Lyra salah paham dengan kita! Huh, wig menyebalkan! Sampai kapan aku harus berpenampilan seperti ini?!” – Tanyaku


“Sakit tahu! Untung saja aku buru-buru mengembalikan wigmu, berterima kasih lah padaku bocah ingusan! Jika tidak, mungkin identitasmu akan terungkap” – Ucap Carel


“Ini siapa?” – Tanya Carel


“Bukan urusanmu! Cepat kembalikan! “ – Ucapku


“Oh! Pasti yang ada difoto ini adalah kamu dan Lyra saat masih kecil! Menggemaskan sekali kalian berdua, aku hampir tak mengenali 2 anak kecil yang ada difoto ini. Aku pernah melihat foto ini” – Ucap Carel


“Tu-tunggu, kau pernah melihat foto ini sebelumnya? “ – Tanyaku


“Ya, aku pernah melihat foto ini diruang kerja Pak Andrian” – Jawab Carel


“A-apa?! Tapi, foto itu hanya dimiliki olehku dan Lyra! Tidak ada siapa pun yang memiliki foto itu!” – Tegasku


Carel terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Argh! Sial, sepertinya memang benar jika Pak Andrian sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


...• Lyrandra POV •...


Disisi lain, tepatnya di dalam kamarku. Aku meringkuk tepat di bawah meja. Apa yang kulihat barusan, apakah itu benar-benar laki-laki yang kutemui di gang sempit itu?! Tidak mungkin, bagaimana bisa dia berada di sini? Bahkan pakaian yang ia kenakan sama dengan pakaian yang Ava pakai, apa mungkin dia...


“Argh, tidak mungkin! Ava(Alvaro) kan perempuan yang cantik, tidak mungkin dia seorang laki-laki” – Gumamku


Sepertinya aku salah lihat, mungkin Ava memakai wig karena rambutnya pendek seperti laki-laki. Tapi, jika dia benar seorang laki-laki. Ini bahaya, aku harus menjaga jarak dengan laki-laki. Tiba-tiba, terdengar bisikan-bisikan yang mengganggu pikiranku.


“Hei, kamu gadis yang manis. Ayo bermain sebentar denganku”


“Gadis cantik, kau harus diberi hukuman”


“Tidak!!! Menjauhlah! “ – Teriakku


Nafasku menggebu-gebu, dadaku mulai terasa sesak. Aku mengamati sekitarku, tidak ada orang lain dikamarku. Lagi-lagi sebuah khayalan belaka, suara-suara itu membuatku gila. Kepalaku mulai terasa pusing, aku memukul dadaku yang terasa sesak.


“Obat!? Di mana obatku!!?” – Ucapku


Aku merogoh laci meja tempat aku meletakkan semua obatku, aku buru-buru membuka botol obat dan minum dengan tergesa-gesa hingga aku tersedak. Aku memukul dadaku dan juga kepalaku, kepalaku terasa sangat pusing.


“Hentikan! Hiks... Hentikan! “ – Ucapku


Air mataku mengalir deras dari kedua mataku, jangan sampai aku kambuh lagi. Aku mengambil carter dan menyayat tanganku sendiri hingga aku pingsan tak sadarkan diri, ini lah caraku agar merasa tenang.


...• ~ • ~ •...


Suara ketukan pintu membuatku terbangun, aku membuka kedua mataku dan samar-samar kulihat bayangan kaki dari balik pintu. Dengan sekuat tenaga, aku bangkit dan mencoba untuk duduk.


“Putriku, bangunlah! Bersiaplah untuk pergi ke sekolah” – Ucap Seseorang Dari balik pintu


“Iya, ayah. Aku akan segera bersiap” – Jawabku


Suara langkah dan bayangan kaki ayah lambat laun menghilang dari balik pintu, aku menghela nafas berat. Aku menatap tanganku yang terluka akibat kusayat malam tadi. Aku segera berdiri dan mengambil perban untuk menutupi luka sayatanku, aku tidak ingin membuat orang lain cemas.


“Untuk saat ini, aku akan menjaga jarak dengan Ava(Alvaro) . Dia adalah teman pertamaku, aku harus menyelidiki latar belakangnya” – Ucapku


Aku segera mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah, aku keluar dari kamar dan disapa hangat oleh ayah. Aku hanya menganggukkan kepala dan segera menghabiskan sarapan pagiku, lalu berjalan keluar gedung yang sering disebut RUMAH olehku.