
• Flashback Off •
“Aku tidak begitu ingat dengan kejadian kecil itu, terima kasih telah menceritakan hal ini padaku. Ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kamu mengenal ibuku dengan baik, ibuku memang sangat suka membuat kue” – Ucapnya
“Sejak aku bekerja di sini, aku belum pernah melihat keberadaan ibumu. Di mana beliau?” – Tanyaku
“Ibuku... Aku akan memberitahumu, tapi kuharap kamu bisa menerima kenyataan ini” – Jawab Lyra
“Ada apa? Kenapa? Apa yang telah terjadi dengan beliau?” – Tanyaku
“Ibuku telah meninggal 2 tahun yang lalu”
Deg! Jantungku berdegup kencang. Sosok ibu kedua dalam hidupku kini telah tiada, air mataku mengalir deras. Nafasku sesak, niatku kemari juga ingin bertemu dengan beliau. Banyak hal yang berubah dari masa laluku, mau tak mau aku harus menerima perubahan itu. Tangan kecil Lyra memegang lenganku, berusaha untuk menenangkanku. Bukannya merasa tenang, aku terkejut saat melihat luka bakar pada kedua tangannya.
“Lyra, apa-apaan ini?! Apa yang telah terjadi pada tanganmu?!” – Tanyaku dengan nada panik
“Ah, itu... Saat aku ingin mengambil foto itu, tanganku terkena api yang sedang membakar barang-barang. Aku tidak apa-apa, mungkin sebentar lagi juga akan sembuh. Jangan khawatir, abaikan saja” – Jawab Lyra santai
Sikapnya yang tenang saat terluka, ternyata masih melekat kuat pada dirinya. Aku segera mengobati lukanya sebisaku dengan beberapa obat yang tersedia di sini. Walaupun awalnya dia menolak, tapi tetap aku paksa untuk duduk diam.
• Lyrandra POV •
Aku merasa geli saat kedua tanganku dipegang oleh tangan besar milik Alvaro, aku hanya diam mengamatinya. Dia sesekali mencuri pandang ke arahku, memeriksa keadaanku dari raut wajahku. Tapi aku telah terbiasa untuk mengabaikan rasa sakit di tubuhku, tidak ada gunanya jika aku mengeluh akan rasa sakitku.
Kedua tanganku selesai diobati dan telah di lilit dengan perban, namun Alvaro masih setia menggenggam tanganku. Dia mencoba untuk menyamakan tangan kami dan mengukur tangannya dengan tanganku, Alvaro tertawa kecil dan kembali menggenggam tanganku.
“Dulu, tanganmu lebih besar daripada tanganku. Tapi sekarang, sebaliknya” – Ucap Alvaro
“Benarkah? Apakah dulu aku lebih tinggi darimu?” - Tanyaku
“Ehm, mungkin. Tapi itu masa lalu, sekarang aku lebih tinggi darimu. Kau terlihat seperti kurcaci di mataku, Hahahaha!” – Ledek Alvaro
Kami tertawa bersama, dia tidak terima saat di masa lalu jika tubuhnya lebih pendek dariku. Alvaro juga bercerita tentang dia yang sangat rajin berolahraga agar bisa melewati tinggi badanku, aku bisa membayangkan bagaimana Alvaro kecil di masa lalu setelah melihat foto masa kecil kami.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, lalu pintu di buka dan terlihat sebuah kepala yang condong masuk ke dalam. Seorang laki-laki sedang mengamati keadaan di dalam ruangan kesehatan ini dan ia dapati keberadaan kami berdua, dia bergegas masuk dan berjalan cepat menghampiriku. Laki-laki itu adalah Kak Carel, aku sedikit terkejut tatkala melihat raut wajahnya terlihat gelisah dan kedua tangannya memegang kedua pundakku.
“Lyra, cepat bersembunyilah!” – Ucap Carel
“Kenapa, kak? Wajah kakak terlihat gelisah, ada apa?” – Tanyaku
“Lyra?!” – Teriak Seseorang
Kami semua terkejut saat mendengar teriakan itu, terlihat seorang pria tua telah berdiri tepat di pintu ruang kesehatan. Kak Carel menarik tubuhku agar aku berdiri dan menyuruhku untuk bersembunyi dibalik punggungnya. Penampilan pria tua itu sangat berantakan, terlihat dari pakaiannya hingga rambutnya. Keadaannya terlihat kacau, apa yang telah terjadi pada ayah? Kedua mata ayah memerah, tatapannya setajam pisau dan dipenuhi dengan amarah. Ayah berjalan cepat masuk ke dalam dan tatapannya tak lepas dariku, seketika bulu kudukku berdiri dan tubuhku gemetaran.
“Carel, menyingkirlah! Aku harus bicara dengan Lyra!” – Bentak Ayah
“Pak, tahan emosi anda!” – Sergah Carel
“Kau tidak berhak untuk menghalangiku! Minggir, aku tidak bisa menahannya lagi!!” – Bentak Ayah
“Saya tidak akan – “ – Sergah Carel
Jleb! Terdengar suara tusukan dari balik punggung Carel, dia langsung jatuh di lantai. Darah mulai mengucur dari perut Kak Carel, kedua mataku terbelalak dan aku menutup mulutku dengan kedua tanganku karena syok melihatnya. Ayahku yang telah menusuknya, pisau yang berlumuran darah itu langsung ia jatuhkan. Kemudian salah satu tangannya menarik rambutku, aku memberontak minta dilepaskan. Alvaro tidak tinggal diam, dia berusaha untuk melepaskanku dari ayah.
Namun para bodyguard segera menahan Alvaro agar tidak mendekatiku, Alvaro berusaha untuk melepaskan dirinya dari pegangan para bodyguard. Jumlah mereka semakin bertambah hingga memenuhi ruang kesehatan, di saat yang bersamaan ayah menarik kasar rambutku dan menyeretku keluar dari sana.
Ada beberapa bodyguard sedang berdiri di ujung ruangan, aku berteriak meminta tolong pada mereka. Namun mereka hanya diam dan memalingkan muka, seakan-akan mereka tidak melihat apa-apa. Aku terus memberontak, hingga sampailah aku di depan sebuah pintu besi. Aku langsung diam membeku dan aku merasakan tubuhku gemetaran, aku tidak ingin masuk ke dalam sana.
“Ayah, aku mohon! Jangan masukkan aku ke dalam sana! Lepaskan aku! Ku mohon, jangan lagi! Apa salahku?!” – Tanyaku dengan suara tinggi
“Aku lelah denganmu, anak sialan! Kau mencoba untuk membunuhku, kan?! Kau tidak akan bisa melakukan itu, kau harus kuberi pelajaran! Cepat masuk!” – Bentak Ayah
Pintu mulai terbuka, tubuhku di dorong ke dalam hingga aku terjatuh. Ayah melangkah masuk ke dalam seraya melepas ikat pinggang miliknya, tak lupa ia mengunci pintu besi itu dari dalam. Dia berjalan menghampiriku, aku meringkuk ketakutan.
Rambut panjangku kembali ditarik dengan kasar dan punggungku di cambuk dengan ikat pinggang itu, diiringi dengan umpatan kasar dan makian yang ditujukan padaku. Tentu saja aku menangis histeris karena rasa sakit akibat cambukkan yang sangat keras dari ayah, aku tidak kuat lagi.
“Dasar anak nakal, apa yang kau ambil tadi, hah?! Foto ibumu?! Lupakan dia, brengsek! Kubakar semua fotonya, awas saja jika kau mencari foto ibumu lagi!” – Bentak Ayah
Ayah memang sangat membenci ibu, aku tidak tahu alasan yang jelas mengapa ayah begitu membenci ibu. Yang kutahu hanya lah ayah menyuruhku untuk melupakan ibuku, bahkan ayah tidak pernah mengunjungi tempat peristirahatan ibu.
Walaupun aku sempat mengalami lupa ingatan, tapi aku tetap berusaha untuk mengingat masa laluku yang terlupakan. Tapi saat aku berusaha mengingat kembali, yang timbul di ingatanku hanya lah kenangan buruk dan sangat sedikit aku bisa mengingat kenangan yang indah. Termasuk ingatan tentang ibu yang bisa kuingat lewat beberapa lembar foto kebersamaan kami, tapi semua foto kenangan itu telah hangus terbakar oleh Ayah.
“Tolong hentikan, sakit!” – Keluhku
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari saku celana milik ayah, dia langsung berhenti mencambukku dan merogoh saku celananya dan segera menjawab telepon itu.