
Walaupun begitu, pandanganku tak bisa lepas dari gadis itu. Ia berjalan menghampiri para bodyguard ayah seraya mengenakan sepasang sarung tangan hitam, apa yang ingin ia lakukan? Tidak mungkin, kan dia akan melawan bodyguard ayah yang jumlahnya tak terhitung itu?!
"Menyingkirlah, gadis gila! Kau mencoba untuk menghalangi kami?! Hahaha, kau bercanda?! Seorang gadis ini mengalahkan kita?! Hahaha, Uhuk!"
Wajah sang pembicara ditendang oleh gadis itu, tubuhnya terpental. Para bodyguard lainnya dibuat terkejut oleh kekuatan gadis asing itu, mereka marah dan segera menyerang gadis itu. Ia langsung mengeluarkan sebuah tongkat besi dari balik jubah hitamnya, jubah tersebut ia lepas dan dilemparkan ke arahku hingga menutupi bagian atas tubuhku. Aku dan anak kecil ini seperti sedang bersembunyi dibalik jubah miliknya.
"Kak, mama di mana?" - Tanya Anak Kecil Itu
"Tunggu sebentar ya, mamamu sedang pergi. Sebentar lagi mamaku akan pulang" - Jawabku
Terdengar suara teriakan para bodyguard itu dan beberapa bunyi pukulan, aku langsung menutup kedua telinga anak itu. Cukup lama kami bersembunyi di balik jubah ini, apakah gadis itu masih hidup? Aku tidak berani untuk memastikannya. Hingga akhirnya tak terdengar suara apa pun di sekitarmu, hanya terdengar suara langkah kaki berjalan ke arah kami. Jubah yang berada di tubuhku segera disingkap, aku langsung menoleh ke belakang.
"Hei, kamu tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat" - Tanya Gadis Itu
"Ah, a-aku baik-baik saja. Tapi, bagaimana denganmu? Apakah kamu terluka? Maaf, aku tidak bisa membantumu" - Tanyaku dengan perasaan bersalah
"Tidak masalah, lagi pula mereka tak pandai berkelahi. Jadi itu memudahkanku untuk menyingkirkan mereka semua. Oh, apakah dia menangis? Maaf telah merepotkanmu" - Ucapnya
"Dia tidak menangis, dia anak yang manis. Aku ingin berterima kasih banyak karena telah menolongku, terima kasih banyak! Jika boleh tahu, siapa namamu?" - Tanyaku
"Namaku Laudy. Lain kali berhati-hatilah! Sebaiknya kamu pulang sekarang, karena di luar sangat berbahaya jika kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Atau mungkin aku bisa mengantarmu pulang jika kamu masih merasa takut, aku akan mengantarkanmu pulang ke rumahmu" - Tawarnya
"Oh, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, Terima kasih atas tawarannya" - Tolakku
"Hmm, kau yakin? Coba kau lihat di belakangmu? Ada kejutan untukmu" - Ucapnya
Aku langsung menoleh ke belakang, terlihat beberapa bodyguard lainnya baru saja tiba di jalan ini dan sedang berlari ke arah kami. Laudy langsung menarik salah satu tanganku dan membawaku berlari bersamanya, aku pun mengikuti ke mana ia berlari. Laudy memintaku untuk bersembunyi di sebuah tumpukan barang-barang bekas dan memberikan adik kecilnya padaku.
"Kamu tunggulah di sini. Tolong jaga dia untuk ke kedua kalinya ya, aku tidak bisa membiarkan manusia seperti mereka hidup di dunia ini" - Ucap Laudy
Dia berlari menuju para bodyguard itu, meninggalkanku dengan adiknya. Betapa pemberani gadis itu, kuharap dia baik-baik saja. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa sebuah jas milik salah satu bodyguard ayah. Laudy menunjukkan padaku sebuah pin yang melekat pada kerah jas tersebut.
"Apakah kamu mengetahui sebuah gedung yang memakai pin inisial A ini?" - Tanyanya
"Ouh, jadi kau adalah putri dari pak Andrian? Namamu Lyra, kan? Sekarang aku paham akan masalahmu, ayo kita pergi dari sini! Kamu memang harus melarikan diri dari rumahmu itu! Kau tenang saja, aku akan membantumu!" - Ucap Laudy
"T-tunggu, apa maksudmu?!" - Tanyaku Terkejut
"Seseorang pernah bercerita tentangmu padaku, nanti aku akan memberitahumu dengan lebih jelas. Sekarang kita harus pergi terlebih dahulu, ayo ikuti aku!" - Ajaknya
Aku sempat ragu untuk mengikutinya lagi setelah mengetahui bahwa dia tahu tentangku, siapa sebenarnya gadis ini? Seorang gadis yang mengenakan kain penutup kepala dan pakaiannya yang sangat tertutup dengan jubah hitamnya itu, ada pin bertulisan LA di bagian kerah jubahnya.
"Apakah dia berasal dari sebuah organisasi? Bagaimana jika dia berniat untuk berbuat jahat padaku? Tapi, dia telah menolongku dan kepada siapa lagi aku akan meminta pertolongan selain kepada gadis asing ini? Baiklah, aku akan coba ikuti dia" - Gumamku
Akhirnya, aku mengikuti Laudy. Aku harap, dia gadis yang baik.
• Alvaro POV •
Aku berlari menuju gedung berinisial A itu, rumah neraka bagi Lyra. Aku langsung masuk dengan bebas karena tak ada penjaga di pintu masuk, namun diriku di sambut dengan tubuh para bodyguard yang terkapar penuh darah di sepanjang lorong. Aku memutuskan untuk segera pergi ke lantai paling atas, aku ingin bertemu dengan pak Andrian karena aku telah melihat mobil milik beliau telah terparkir di halaman gedung.
Setelah sampai di lantai teratas, lift pun terbuka. Lantai ini juga di penuhi dengan darah dari tubuh para bodyguard yang tak sadarkan diri atau mungkin ada yang telah mati, tidak ada siapa pun yang masih dalam keadaan sadar. Aku berjalan melewati tubuh-tubuh para bodyguard itu seraya mengamati sekelilingku, aku mendapati sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Aku mendekati ruangan tersebut dan mengintip ke dalamnya, di dalam sana ada Pak Andrian bersama seorang laki-laki tinggi dan mereka duduk saling berhadapan.
Aku bisa mengenali sosok laki-laki tersebut dari balik punggungnya, laki-laki itu adalah Alvan dengan pakaian yang di penuhi dengan darah. Aku bisa menyimpulkan bahwa yang membuat kekacauan di sini adalah Alvan, hebat juga dia.
"Sedang apa dia di sini? Ku pikir dia segera pulang karena tidak ingin bekerja lagi di sini, apa yang sedang mereka bicarakan? Mereka terlihat sedang membicarakan hal yang serius" - Gumamku
Aku menempelkan salah satu telingaku ke pintu, berusaha untuk menguping pembicaraan mereka berdua. Nada bicara mereka yang tinggi dan diiringi dengan emosi membuatku bisa mendengar setiap perkataan mereka dengan begitu jelas.
"Kenapa kamu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini?! Apakah gaji yang kau dapatkan itu belum cukup untuk menafkahi keluargamu?! Aku bisa menambahkan gajimu menjadi 2× lipat, tolong tetaplah bekerjalah denganku!" - Pinta Pak Andrian
"Pak, kenapa anda bersikeras untuk menahan saya agar tidak berhenti dari pekerjaan ini? Pekerjaan saya hanya mengawasi keamanan hidung ini, orang lain juga bisa melakukan itu, kenapa harus saya?" - Tanya Alvan
“Karena kamu sangat kuat dan berpotensi! Aku sangat bersyukur karena telah mendapatkan orang yang spesial sepertimu, kau sangat berbakat!” – Jawab pak Andrian
“Simpan saja pujianmu itu, alasanku untuk berhenti itu juga karena anda. Bukankah anda tahu bahwa saya juga seorang ayah seperti bapak? Saya tidak tega melihat anda menyakiti anak anda sendiri!! Apakah itu adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah?! Di mana hati nuranimu, pak?!” – Tanya Alvan dengan nada tinggi