My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 26 •




Terdengar suara laki-laki yang sedang marah dari telepon itu dan ayah hanya bisa menjawab dengan mengiyakan setiap perkataan orang yang ada di seberang sana, lalu telepon pun terputus. Ayah kembali memakai ikat pinggang nya dan merapikan penampilannya, raut wajahnya terlihat lesu dan sesekali menghela nafas.


“Kau beruntung kali ini, jangan harap kau bisa keluar dari sini!” – Bentak Ayah


Aku melihat ayah berjalan meninggalkanku di ruangan yang gelap ini, hanya ada cahaya dari ventilasi udara. Aku memeluk kedua kakiku dan menenggelamkan kepalaku di antara kedua kakiku, punggungku terasa nyeri dan perih. Aku meraba punggungku, aku bisa merasakan ada beberapa sobekan dari baju yang aku kenalan dan cairan merah mengenai tanganku. Karena kedua tanganku sedang memakai perban, darah itu lengket pada perban.


“Haha, ayah memperlakukanku dengan sangat baik!” – Tawaku


Aku tertawa saat mengingat apa yang telah ayah lakukan padaku, dia mengingkari janjinya agar berbuat baik padaku. Seketika akal sehatku hilang, aku kembali menyakiti diriku sendiri.


Di sisi lain, Alvaro telah berhasil menyelesaikan pertarungannya dengan para bodyguard. Sayangnya Alvaro tidak mendapati diriku di dalam ruangan kesehatan, dia segera menghampiri Carel yang sedang terluka dan memapahnya ke kasur. Alvaro berteriak memanggil para perawat, namun tak ada satu pun perawat yang datang. Mau tak mau, Alvaro terpaksa keluar untuk mencari keberadaan para perawat.


Setelah berkeliling cukup lama, Alvaro melihat dari balik kaca, para perawat sedang berkumpul di sebuah ruangan. Ia langsung menerobos masuk ke dalam yang membuat para perawat terkejut, dia bergegas menghampiri mereka dengan nafas tak beraturan akibat lelah berlari mencari keberadaan mereka.


“Hei, kalian! Carel sedang terluka, cepat obati dia!” – Teriak Alvaro


“Maaf, kami hanya akan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Andrian” –  Ucap salah satu perawat


“Tapi sekarang ada seseorang yang membutuhkan pertolongan! Kalian tega membiarkan seseorang terluka?! Bukankah pekerjaan kalian adalah mengobati orang yang butuh bantuan?! Kenapa kalian pilih-pilih dalam mengobati orang lain?! Aku tidak peduli! Itu tugas kalian, cepat obati Carel!” -Bentak Alvaro


“Tapi, kami – “ – Ucap perawat itu


“Bacot! Kalian mau kubunuh!” – Ancam Alvaro


Para perawat langsung menciut tatkala Alvaro mengancam mereka, mereka terlihat ketakutan dan satu persatu dari mereka segera berlari keluar dari ruangan itu. Orang yang paling terakhir keluar itu langsung ditarik oleh Alvaro, perawat itu perlahan menoleh ke arahnya. Alvaro bertanya tentang di mana keberadaanku saat ini, namun Alvaro tak kunjung mendapatkan jawaban karena orang itu berbicara terbata-bata dan menggelengkan kepala dengan cepat.


“Tck! Kalau begitu, antarkan aku ke ruangan CCTV!” – Ucap Alvaro


Perawat itu mengangguk pasrah karena Alvaro memaksanya dengan memasang tampang mengerikan yang membuat siapa pun akan merasa ketakutan, dia segera mengantarkan Alvaro ke ruangan CCTV. Setelah sampai di depan pintu, perawat itu terlihat gugup dan bergegas pamit undur diri. Seperti ada sesuatu yang menakutkan di balik pintu ini, Alvaro memegang gagang pintu dan membukanya.


Pintunya tidak terkunci dan ia langsung masuk ke dalam, namun dia di kejutkan dengan seorang laki-laki yang sedang berdiri membelakanginya. Sosok tubuh yang tak asing lagi bagi Alvaro. Laki-laki itu menyadari kedatangan Alvaro dan segera menghadapkan tubuhnya ke arah Alvaro, kedua mata Alvaro terbelalak.


“Alvan?! Apa yang sedang kau lakukan di sini?!” – Tanya Alvaro


“Kau bekerja pada Pak Andrian?!” – Tanya Alvaro


“Ya, bisa dibilang begitu. Tapi setelah aku bekerja beberapa hari di sini, aku mendapati banyak aktivitas yang janggal bagiku. Kau pasti ingin menyelamatkan Lyra, ambil kunci ini! Kau pasti akan membutuhkan itu” – Ucap Alvan seraya melemparkan kunci itu pada Alvaro


“Sebuah kunci? Untuk apa?” – Tanya Alvaro


“Gadis itu sedang dikurung oleh Ayahnya sendiri di sebuah ruangan berpintu besi yang berada dilantai paling atas, berhati-hatilah karena ada begitu banyak bodyguard di lantai itu. Kau bisa membereskan para bodyguard lebih dulu agar lebih mudah untuk menyelamatkan Lyra, jangan lupa kumpulkan mayat mereka di sebuah ruangan. Jika kamu telah bertemu dengan gadis itu, katakan padanya untuk segera membunuh ayahnya” – Ucap Alvan


Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, namun ayahnya telah merusak cinta itu dan menyakiti perasaan anak perempuannya sendiri. Beliau tidak pantas disebut sebagai seorang ayah...


“Aku juga memiliki seorang anak perempuan, aku tidak ingin menjadi seorang ayah seperti beliau. Tolong katakan pada pak Andrian bahwa aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini, aku lelah dengan semua ini” – Tutur Alvan


Alvaro terdiam, Alvan berjalan ke sisi kiri Alvaro dan menepuk pundaknya.


Semoga berhasil, Alvaro!


Lalu Alvan melangkahkan kaki keluar dari ruang keamanan, Alvaro menatap kunci yang berada di telapak tangannya dan menggenggam kunci itu dengan erat. Kedua katanya mengamati seisi ruangan CCTV ini, pandangannya tertuju pada sebuah peta yang ditempelkan ke dinding. Alvaro mengamati denah peta tersebut, denah gedung ini. Namun Alvaro mendapati sebuah kejanggalan dalam peta itu, sebuah ruangan yang baru saja ia ketahui. Ruangan yang diberi nama ‘Ruangan Andra'


“Ruangan Andra? Sejak kapan ada ruangan ini di gedung Pak Andrian? Kenapa aku tidak mengetahui akan hal ini? Selama ini aku mengelilingi gedung ini, namun aku baru mengetahui ada nama ruangan seperti itu di sini” – Gumam Alvaro


Alvaro segera mengabaikan ruangan asing itu karena ada yang lebih penting dari pada itu, dia segera mencabut kertas peta itu dan menyimpannya di kantong celananya. Ia segera keluar dari ruangan CCTV dan menutup rapat pintunya, Alvaro berlari menuju lift untuk pergi ke lantai atas. Setiap liftnya berhenti yang menandakan akan ada orang yang ingin masuk, Alvaro akan langsung memukulnya dan membuat seseorang itu tak sadarkan diri.


“Untung saja aku telah mematikan seluruh CCTV di gedung ini, jadi aku aman untuk beraksi” – Gumam Alvaro


Sampailah ia di lantai teratas, tempat tujuan Alvaro. Pintu lift terbuka, terlihat sebuah lorong yang panjang dan sedikit gelap karena sedikitnya jumlah lampu dan banyaknya lorong lainnya di lantai ini. Alvaro langsung keluar dari lift dan berjalan perlahan seraya berjaga-jaga jika ada para bodyguard, ia mengamati letak denah peta yang sempat ia ambil tadi.


Setiap bodyguard yang ia temui akan langsung dibuat pingsan, lalu menyeret tubuh mereka pada sebuah ruangan yang telah di siapkan oleh Alvaro, yaitu gudang.


“Akhirnya, aku menemukannya. Tunggu aku, Lyra” – Gumam Alvaro


Kini Alvaro telah berdiri di depan sebuah pintu besi, ia memasukkan kunci dan mencoba untuk membuka pintu tersebut.