
Aku tersenyum dan memfokuskan pandanganku ke arah Lyra, dia begitu memesona dengan beberapa pakaian itu. Lyra terlihat bahagia saat memilih beberapa pakaian, tapi dia malah menyodorkan pakaian ke arahku.
“Coba kamu pakai ini, pasti cantik. Pakai yang ini juga, dan itu juga! “ – Ucap Lyra
“Ma-maaf, tapi aku tidak mau” – Ucapku
“Kenapa tidak mau? Kamu tidak percaya diri ya? Ayolah, kamu harus tampil berbeda! Aku bosan melihat pakaian yang kamu pakai sejak kemarin” – Omel Lyra
Lyra terus membujukku dengan wajah imut nya, membuatku tak kuat saat melihat wajahnya itu. Mau tak mau, aku menuruti permintaannya dan segera mengambil beberapa potong pakaian dari tangan Lyra, lalu berjalan menuju ruang ganti.
“Sial, kenapa malah aku yang harus mencoba semua pakaian wanita ini?!” – Gumamku
Satu jam berlalu, sejak tadi aku hanya bergonta-ganti pakaian. Dimata Lyra, tak ada pakaian yang cocok di tubuhku. Bagaimana tidak, tubuhku seperti raksasa dan aku seorang laki-laki. Tidak akan cocok dengan pakaian seperti ini, aku mengeluh kepada Lyra.
“Lyra, sudah cukup. Aku lelah” – Keluhku
“Hmm, ini yang terakhir! Pakailah ini, pasti akan cocok di tubuhmu yang tinggi bagaikan tiang listrik” – Ucap Lyra
Aku mengambil sebuah pakaian dari tangannya dan masuk ke dalam ruang ganti, ini yang terakhir. Setelah berganti pakaian, aku langsung keluar dan Kyra memberikanku tepuk tangan yang meriah.
“Pakaian itu sangat cocok ditubuhmu! Kamu terlihat seperti gadis tomboy dengan jas navy itu, kita beli jas itu! “ – Ucap Lyra
“Tapi Lyra, bukankah kamu ingin membeli baju? “ – Tanyaku
“Oh, sebenarnya aku kemari karena ingin membelikan baju untuk seseorang” – Jawab Lyra
...“Dan seseorang itu adalah kamu! Aku ingin memberikan sebuah hadiah kecil untuk TEMAN PERTAMAKU”...
Aku tercengang dengan apa yang baru saja dia katakan, teman pertama? Jadi, aku adalah teman pertamanya? Aku terharu akan ucapannya, sekaligus merasa sedih karena Lyra masih tidak mengingatku sebagai teman kecilnya. Apakah saat aku tak ada disisinya, dia tidak memiliki seorang teman?
Lyra membayar jas Navy yang sedang kupakai dengan sebuah black card miliknya, pasti uang di dalamnya sangat banyak. Bahkan bisa membiayai rumah sakit ibuku, tapi aku tidak ingin meminta karena aku bukan pengemis. Selama tubuhku masih baik-baik, aku akan terus mencari uang demi ibuku.
“Setelah ini kamu akan pergi ke mana? “ – Tanya Lyra
“Hmm, tidak tahu. Aku hanya ingin berjalan-jalan di pagi hari, berjalan-jalan tanpa tujuan. Hehehe” – Jawabku
“Bagaimana jika kamu bermain di rumahku seperti kemarin? Kamu mau? Aku kesepian di rumah, tidak punya teman” – Ucap Lyra
Mendengar hal itu, aku merasa sedih. Tak punya teman dan kesepian, seperti apa yang aku rasakan saat ini. Aku menganggukkan kepala tanda setuju dengan ajakannya, dia langsung tersenyum bahagia dan segera menarikku keluar dari toko itu.
“Aku harap senyuman itu tetap ada sampai kamu sadar akan wujud asliku sebagai laki-laki remaja” - Gumamku
Kami berjalan bersama menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari toko itu, terlihat Carel sedang berfoto dengan ponselnya. Namun Lyra malah ikut nimbrung dalam foto itu, membuat Carel terkejut.
“Bagaimana hasil fotonya? Bagus, kan? Karena ada aku, semua foto akan menjadi bagus! “ – Ucap Lyra Bangga
“Hahaha, iya. Kamu yang paling keren saat berfoto, nona Ava tidak mau ikut berfoto juga? “ – Tawar Carel
Secara tiba-tiba, Lyra menarik salah satu tanganku dan diriku masuk ke dalam foto. Aku terpaksa ikut berfoto bersama mereka karena mereka berdua terlihat bersenang-senang, aku tidak mau kalah. Kami tertawa bersama hanya karena sebuah foto, ini akan menjadi kenang-kenangan yang indah.
Setelah sampai di rumah, Lyra langsung mengajakku untuk duduk di ruangan tamu. Sementara dia pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu dan ingin menunjukkannya kepadaku, aku merasa senang.
“Kali ini apa lagi yang akan ia berikan padaku ya? “ – Gumamku
Aku terlalu senang sehingga aku tak sadar bahwa Lyra telah berdiri di hadapanku dengan tatapan serius, raut wajahku seketika berubah. Kenapa dia menatapku seperti itu? Apakah aku telah melakukan kesalahan? Lyra duduk tepat berhadapan denganku dan meletakkan sebuah buku novel dengan kasar di atas meja, lalu membuka bukunya.
“Ini apa?!” – Tanya Lyra
“Sendok? “ – Jawabku
“Hei, aku serius! Aku sedang bertanya padamu, apakah foto ini milikmu? “ – Tanya Lyra
Lyra menatapku dengan tatapan serius yang berhasil membuat bulu kudukku berdiri, aku meraih foto tersebut dan menatap foto itu dengan saksama. Ini foto yang sengaja aku letakkan dibuku novel itu, aku pikir dia akan mengingatku setelah melihat foto ini. Tapi sepertinya cara ini tidak berhasil, bagaimana caranya agar dia bisa mengingatku kembali?
“Itu milikmu atau bukan? “ – Tanya Lyra
“Oh, ini milikku. Terima kasih telah menemukannya, semalaman aku mencari foto ini” – Jawabku
“Huh, syukurlah. Sepertinya foto itu sangat berharga, simpanlah dengan baik” – Ucap Lyra
“Tentu saja, bagaimana bisa aku menghilangkan selembar foto dengan sejuta kenangan?” - Gumamku
...“Foto kita berdua, aku harap kamu bisa mengingat kenangan kita bersama”...
Air mataku tak sengaja jatuh membasahi foto itu, membuat Lyra panik. Dia langsung mendekatiku dan langsung memelukku, Lyra berpikir bahwa aku menangis karena foto ini.
...“Tapi lebih tepatnya aku menangis karena KAMU, Lyra!”...
“Aku harus bersabar dan mencari tahu tentang apa yang telah terjadi denganmu, Lyra. Aku ingin dirimu yang dulu” – Gumamku
Pelukan hangat yang telah lama tidak kurasakan akhirnya kembali, aku membalas pelukan hangatnya. Pelukan inilah yang membuatku bangkit kembali untuk menghadapi dunia yang kejam ini.
Tak terasa malam pun tiba, waktuku dihabiskan hanya untuk menemani Lyra hingga dia tertidur karena kelelahan. Seperti biasa, aku menggendong Lyra ke kamarnya. Setelah membaringkan Lyra di kasurnya, salah satu kakiku tak sengaja menginjak beberapa pil obat yang terletak di bawah meja kecilnya. Aku mengambil obat itu dan mengamatinya, ada banyak pil yang terjatuh.
“Apa ini? “ – Tanyaku
“Jangan sentuh barang Lyra dan cepatlah keluar dari sana” – Ucap seseorang
Aku langsung menoleh, terlihat Pak Andrian berdiri tepat di depan pintu kamar Lyra dengan raut wajah datar. Aku langsung meletakkan pil obat itu dan berjalan cepat keluar dari kamar Lyra.
Aku menyapa Pak Andrian dengan sapaan hangat, namun respons dari beliau tidak memuaskan dan masih setia memasang wajah datar kepadaku. Sepertinya aku telah melakukan suatu kesalahan, aku harus segera meminta maaf kepada beliau.
“Maaf, pak Andrian. Saya tak sengaja menyentuh barang putri anda, sekali lagi saya minta maaf” – Ucapku