
"Ada apa? Kenapa kalian masih berada di sini?" - Tanya Alvan
"Alvan, apakah kamu melihat Lyra di sekitar gedung ini?" - Tanyaku
"Lyra? Aku tidak melihatnya, bukankah tadi dia bersamamu?" - Tanya Alvan
"Iya, aku telah membawanya ke tempat yang aman dan aku kembali ke sini untuk bertemu dengan Pak Andrian. Namun saat aku kembali ke sana, Lyra sudah tidak ada" - Jawabku
"Berapa bodohnya kamu, Alvaro! Kau tinggalkan dia seorang diri di sana?! Sial, aku sudah memberimu kepercayaan untuk membawa Lyra pergi ke tempat yang aman! Tck, tunggu sebentar! Aku akan menelepon pacarku, mungkin dia bisa membantu" - Ucap Alvan
"Pacar?! Sejak kapan kau punya pacar?! Wah, kau mendahuluiku!" - Ucap Carel tak Terima
"Kasihan, masih jomblo ya? Hahaha, sudahlah. Kalian berdua tolong diam dan dengarkan ini" - Pinta Alvan
Percakapan di telepon...
Alvan : Hallo, sayang. Apa kabar?
??? : Berhentilah memanggilku dengan panggilan seperti itu, menjijikkan tahu! Aku akan tutup panggilan ini!
Alvan : Eh, jangan! Aku hanya bercanda, maaf ya? Aku meneleponmu karena aku membutuhkan bantuanmu
??? : Baiklah, apa yang bisa aku bantu? Langsung saja beritahu intinya karena aku sibuk mengurus adikku
Alvan : Apakah kamu masih ingat dengan putri Pak Andrian? Sekarang gadis itu menghilang, bisakah kamu membantuku untuk menemukannya?
??? : Oh, aku ingat! Gadis bernama Lyrandra itu, putri dari Pak Andrian. Aku tahu di mana dia sekarang!
Alvan : Di mana dia? Beritahu aku!
??? : Tidak semudah itu, apa imbalan yang akan aku dapatkan jika aku memberitahumu tentang keberadaan Lyra?
Alvan : Apa yang kamu inginkan? Cintaku? Hatiku? Jiwa ragaku? Aku akan memberimu apa pun yang kau inginkan, tenang saja.
??? : Hahaha, jangan berlebihan. Aku hanya bercanda, tolong belikan susu untuk adikku ya?
Alvan : Baiklah, apa pun untukmu...
Tck, sangat menyebalkan hanya mendengarkan pembicaraan omong kosong seperti ini, Alvan telah dibutakan oleh cinta. Sampai saat ini orang yang sedang ia telepon belum memberi jawaban tentang keberadaan Lyra, aku sudah tak bisa bersabar lagi. Aku langsung merebut handphone milik Alvan agar aku bisa berbicara langsung dengan gadis di telepon tersebut.
Alvaro : Woi, di mana Lyra?! Jangan berani menyembunyikan Lyra dariku!
??? : Oh, siapa ini? Terdengar dari suaranya, apakah ini Alvaro?
Alvaro : Iya, ini aku! Cepat beritahu aku, di mana Lyra!
??? : Oh, wow. Lyra sedang bersamaku, dia baik-baik saja. Kau ingin mendengar suaranya? Lyra, kemarilah! Seseorang sedang mencarimu, katakanlah sesuatu!
Lyra : Apa? Siapa yang mencariku?
??? : Pacarmu khawatir tuh, hahaha!
Benar, itu suara Lyra. Terlihat dari suaranya, dia baik-baik saja. Akhirnya aku bisa bernafas lega, aku bisa mendengar suara Lyra dari telepon tersebut hingga Alvan merebut kembali ponselnya dari tanganku.
Alvan : Laudy, sekarang kamu berada di mana?
Laudy : Di panti asuhan, datanglah kemarin jika ingin bertemu dengan Lyra, dia juga berada di sini
Alvan : Baiklah, kami akan segera ke sana
" Kau dengar, Alvaro? Dia berada di panti asuhan LA Group, segera temui dia. Aku akan menyusulmu nanti, kau pergilah lebih dulu. Carel, tolong bantu aku untuk membereskan kekacauan ini. Jangan lupa amati keadaan tuanmu jika dia telah sadarkan diri, tahanlah dia dan jangan biarkan dia kabur dari kesalahannya" - Tegas Alvan
"Alvaro, tolong titip salamku pada Lyra" - Pinta Carel
Aku mengangguk paham, aku pamit pada mereka berdua dan langsung berlari menuju panti asuhan LA Group. Perasaanku menjadi lega bercampur bahagia, aku pikir aku akan kehilangan Lyra untuk yang kedua kalinya.
• Lyrandra POV •
"Lyra, pacarmu sedang dalam perjalanan menuju ke sini" - Ucap Laudy
"Laudy, dia bukanlah pacarku. Dia hanya lah bodyguardku" - Bantahku
"Benarkah? Tapi dia terlihat sangat mengkhawatirkanmu, seperti rasa khawatir pada seorang kekasih. Lagi pula kalian terlihat serasi" - Goda Laudy
"Laudy, hentikan! Berhentilah menggodaku!" - Sergahku
"Uwu, wajahmu memerah tuh" - Goda Laudy
Aku berusaha untuk mengabaikan Laudy yang masih saja menertawakanku, Alvaro bukanlah pacarku. Aku menyibukkan diri dengan bermain dengan seorang anak kecil bernama Ayesha, dia anak yang imut. Dia berusia lebih muda dari adiknya Laudy, Raisa berumur 4 tahun. Ternyata anak perempuan yang sedari tadi ia gendong oleh Laudy adalah adiknya, aku pikir Raisa adalah anaknya karena Laudy memiliki aura keibuan.
Brak! Pintu utama di buka dengan keras, terlihat seorang laki-laki remaja berdiri di ambang pintu dengan nafas tak beraturan karena sehabis berlari. Dia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, mat kami saling bertemu. Laki-laki itu adalah Alvaro, dia langsung berlari ke arahku dan memelukku dengan begitu erat.
"Maaf, maafkan aku! Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian di rumah, aku minta maaf. Apakah kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?" - Tanya Alvaro
"Akhirnya sang pangeran menemukan putrinya yang hilang, tamat" - Ledek Laudy
"Kau, Laudy?! Tck, kau mengganggu saja! Lyra, apakah dia menyakitimu?" - Tanya Alvaro
"Tidak, Alvaro. Dia orang yang baik, bahkan dialah yang menolongku dari kejaran para bodyguard ayah. Aku sangat berterima kasih dan berutang budi padanya" - Jawabku
"Benarkah? Dia telah menolongmu? Jangan percaya pada orang mungkin dia menginginkan sesuatu darimu" - Ucap Alvaro
"Astagfirullah, fitnah. Jaga ucapanku itu! Aku tidak seperti itu! Jangan percaya padanya, Lyra! Dia yang jahat, kamu harus berhati-hati dengannya!" - Bantah Laudy
"Jangan dengarkan perkataannya, Lyra! Dia yang jahat, bukan aku!" - Teriak Alvaro
"Wah, kurang aja kau! Kau mengajakku berkelahi ya!!?" - Sahut Laudy
"Ayo, siapa takut!" - Ucap Alvaro
Mereka beradu mulut satu sama lain, aku hanya diam dan tak berani menyela di antara mereka. Seorang gadis menepuk pundakku, aku menoleh ke arahnya dan dia tersenyum padaku. Gadis ini bernama Luna, dia mengajakku untuk pergi menjauh dari keributan mereka berdua. Tiba-tiba seorang laki-laki datang untuk melerai mereka berdua, pukulan Alvaro hampir saja mengenai Laudy pun langsung ditahan olehnya.
"Azran, menyingkirlah! Jangan ikut campur!" - Sergah Alvaro
"Kalian kekanak-kanakan sekali, hentikan pertengkaran kalian berdua! Kalian hanya merusak suasana! Alvaro, jangan pernah memukul wanita" - Tegas Azran
"Dia lebih dulu mengajakku berkelahi!" - Ucap Alvaro
"Dia yang lebih dulu memancing emosi dengan perkataan busuknya itu!" - Teriak Laudy
"Mama, mau susu!" - Teriak Raisa
"Eh, iya sayang. Tunggu sebentar ya? Hei, Alvaro! Di mana Alvan?" - Tanya Laudy
"Alvan sedang ada urusan di perusahaan Andrian, dia sibuk" - Jawab Alvaro datar
Adik Laudy yang selalu memanggilnya dengan panggilan 'mama', membuat orang lain salah paham. Tapi menurutku panggilan itu lebih sesuai untuk Laudy dari pada dipanggil seorang kakak. Sebagai seorang ibu, dia mengingatkanku pada ibu yang sedang tidur untuk selamanya. Raisa merengek meminta susu, Laudy sebisa mungkin menenangkan Raisa dengan mengajaknya bermain.