My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 27 •




Krek! Terbuka, Alvaro mulai membuka pintu besi itu secara perlahan dan mendapatiku sedang meringkuk di pojok ruangan yang gelap dan kosong ini. Mata kami saling bertemu, Alvaro langsung berlari menghampiriku dan memelukku dengan begitu erat.


"Bagaimana dia bisa tahu jika aku berada di sini?! Bagaimana jika ayah mengetahuinya?! Alvaro dalam bahaya, dia harus pergi dari sini!" - Gumamku


Air mataku mulai mengalir, aku bersyukur jika Alvaro datang mencariku. Tapi di sisi lain, Alvaro akan dalam bahaya jika dia berusaha untuk menyelamatkanku. Alvaro melepaskan pelukannya dan mengecek keadaanku, tentu saja dia melihat bagian punggungku yang terluka. Raut wajah Alvaro terlihat kesal, dia mengepalkan kedua tangannya karena amarah yang menguasai dirinya.


"Alvaro, aku tidak apa-apa. Pergilah sebelum ayah kembali" - Ucapku


"Tidak akan, kau pikir aku akan meninggalkanmu di sini sendirian?! Tidak mungkin, bodyguard macam apa aku yang meninggalkan tuannya di sini sendirian?! Ayo, kita harus pergi dari sini!" - Ajak Alvaro


Dia berjongkok membelakangiku, dia mengisyaratkanku untuk naik ke atas punggungnya. Namun aku ragu dan menolak ajakannya, Alvaro mengajakku untuk kabur bersama, tapi aku tetap menolak ajakannya itu.


"Jangan takut, Lyra! Kau bersamaku, aku akan melindungimu apa pun yang akan terjadi karena aku adalah bodyguardmu! Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?! Apa kamu tahan dengan semua perlakuan ayahmu padamu?! Ayolah, Lyra! Kita pergi!" - Ajak Alvaro


Dengan perasaan gelisah, aku berdiri dan naik ke atas punggungnya. Alvaro menggendongku dan segera berlari membawaku keluar dari ruangan yang menjadi saksi bisu atas penderitaanku, dia memintaku untuk memeluknya lebih erat seraya memejamkan kedua mataku. Aku melakukannya, jantungku berdegup kencang dan perasaan gelisah menghantui diriku. Aku tidak bisa tenang, aku takut akan terjadi sesuatu sebelum kami bisa keluar dari gedung ini.


"Jangan buka mataku sampai aku menyuruhmu untuk membukanya!" - Ucap Alvaro


Ya, aku setia memejamkan kedua mataku. Terdengar suara beberapa laki dewasa yang berteriak menyuruh kami untuk berhenti, terdengar juga suara langkah kaki orang-orang sedang berlari. Perasaanku semakin tidak tenang, aku tidak berani untuk membuka kedua mataku.


"Lyra, bukanlah matamu sebentar dan pakailah ini!" - Ucap Alvaro


Aku membuka kedua mataku, salah satu tangan Alvaro memegang sebuah headset dan menyodorkannya ke belakang. Aku meraihnya, sebuah musik mulai terdengar sari headset yang sedang kupakai. Lagu yang menenangkan dan diputar dengan suara agak nyaring, namun keadaan di sekitarku sangat tidak menenangkan. Banyak darah memenuhi lorong itu, aku kembali menutup kedua mataku dan mencoba untuk mengabaikan apa yang sedang terjadi. Aku tidak mendengar apa pun, kecuali suara lagu yang menenangkan dan nyaring.


• ~ • ~ •


"Lyra, bangunlah! Lyra!" - Teriak Seseorang


Aku membuka kedua mataku, aku segera duduk dan dihadapkanku ada Alvaro. Aku mengamati sekeliling tempat aku berada satu ini, rumah yang asing bagiku? Aku sedang berada di mana? Ke mana perginya para bodyguard yang mengejar kami tadi? Apakah mereka masih mengejar kami? Aku kembali merasakan kegelisahan, aku tidak bisa tenang! Aku menjambak rambutku karena pusing, aku lelah!


"Lyra, tenanglah! Sekarang kamu berada di rumahku, sekarang kamu aman" - Ucap Alvaro


Alvaro mencoba untuk menenangkanku, memelukku dan mengelus lembut rambutku. Pelukan hangatnya membuatku tenang, aku sangat suka diperlakukan seperti ini saat suasana hatiku sedang buruk. Namun pikiranku kembali mengingatkanku pada sosok yang mengerikan, yang kusebut sebagai ayahku. Sepertinya aku memang harus kabur darinya, semoga pilihanku benar.


"Kamu tahu, aku sempat panik saat kamu tak sadarkan diri. Kau tertidur atau pingsan? Huh, tapi syukurlah kamu telah sadar. Kamu bisa mandi terlebih dahulu, lalu kita obati luka lebammu. Jangan dibiarkan luka-lukamu itu" - Ucap Alvaro


"Lyra, sifatmu tidak berubah ya? Kamu selalu bersikap keras kepala, bersikap seakan-akan kau baik-baik saja. Tapi kumohon untuk kali ini saja, biarkan aku mengobati lukamu" - Pintar Alvaro


"Aku tidak mempunyai luka, hanya kebanyakan dipunggung " - Ucapku


"Benarkah? Tapi bagaimana dengan lukamu yang ada di sini? Dihatimu, kamu tidak mungkin membiarkan luka di hatimu" - Ucap Alvaro


Untuk ke sekian kalinya, aku terdiam. Luka hati! Sepertinya hatiku telah rusak sehingga tak bisa diobati lagi, bagaimana kaca yang telah pecah. Apakah aku membutuhkan obat hati? Huh, sepertinya tidak. Buktinya aku masih sehat secara fisik, luka hati tidak memengaruhi kesehatan fisikku. Alvaro mengajakku untuk ke psikiater, aku menolak karena aku tidak gila! Aku masih sehat, lihatlah aku!


"Kau berbohong, Lyra. Mentalmu sedang sakit, mentalmu terganggu. Bukan hanya tubuh yang sehat, mentalmu juga harus sehat" - Ucap Alvaro


Mentalmu sedang sakit? Mentalku, sakit? Luka hati! Aku... Aku tidak tahu dan aku tidak peduli! Rasa takut dan gelisah yang sering menghantui diriku.


Itu semua karena ayah! Karena ayah!!


Aku ingin membersihkan diriku, Alvaro segera memberiku pakaian ganti dan menunjukkan padaku ketakutan kamar mandi. Aku berjalan ke sana dan aku melangkah masuk, melepas semua pakaian yang sedang aku kenalan dan juga perban yang melilit kedua tanganku.


Aku berdiam diri merenung di bawah shower, air terus membasahi seluruh tubuhku. Terlintas di pikiranku tentang saat di mana ayah menyakitiku, aku tidak punya ingatan lain selain ingatan buruk itu.


Sebuah kecelakaan berhasil membuatku lupa ingatan, aku melupakan segalanya. Setelah aku sadar dari koma setelah kecelakaan itu, ayah menyambut kehadiranku dengan baik dan menyayangiku sebagai seorang anak.


"Aku merindukan masa-masa indah itu, aku ingin dipeluk dan disayang" - Gumamku


Namun suasana yang menyenangkan itu tentu tak bertahan lama, ayah yang sering pulang kerja dalam keadaan mabuk membuat masa-masa indah itu hancur seketika. Aku yang satu itu ingin menyambut kepulangan ayah dari pekerjaan yang melelahkan, aku langsung dipukul dengan botol kaca yang ayah bawa saat itu hingga botol itu pecah mengenai tubuhku. Kepalaku langsung mengalir darah segar, aku langsung pingsan tak sadarkan diri. Saat aku telah sadar, ayah langsung meminta maaf padaku.


"Dengan wajah ayah yang dipenuhi dengan rasa bersalah, aku pun memaafkan ayahku. Tapi ayah mengulangi kesalahan yang sama dalam beberapa hari, aku menyesal telah memaafkannya" - Gumamku


• Flashback On •


Pernah di suatu malam, ayah pulang kerja dalam keadaan mabuk, terlihat dari dia yang membawa sebotol kosong yang memiliki aroma alkohol yang kuat. Botol itu langsung ia lemparkan ke sembarang arah, aku yang saat itu sedang membaca buku di ruang takut, aku langsung berlari menuju ke kamarku.


"Lyra, jangan lari! Kemari kau!" - Teriak Ayah


Argh, sial! Aku mempercepat langkahku sebelum ayah sempat mengejarku, aku berhasil masuk ke kamar dan mengunci pintunya.