
Alvaro menunjukkan letak kamar tidurnya untuk ke sekian kalinya, rumah kecil ini hanya memiliki satu kamar tidur saja.
“Lyra, kamu tidurlah di kamarku. Aku akan tidur di sofa tamu seraya berjaga jika ada seseorang yang mencoba untuk masuk ke sini” – Ucap Alvaro
Awalnya aku menolak karena merasa tidak enakkan kepada tuan rumah, namun Alvaro tetap memaksaku untuk tidur di kamarnya karena dia khawatir akan keselamatanku. Akhirnya aku pun pasrah akan paksaannya dan menuruti permintaannya untuk tidur di kamarnya, aku berjalan memasuki kamarnya dan tak lupa menutup pintunya. Aku mengedarkan pandanganku ke seisi kamar tersebut, mengamati setiap sudut kamar yang kecil ini. Sebelum merebahkan diriku di atas kasur, aku menyempatkan diri untuk berkeliling. Di dalam kamar ini terdapat sebuah rak kecil berisi beberapa buku dan sebuah bingkai foto yang di letakkan di sebuah meja kecil tepat di samping ranjang. Sebuah foto yang tak lagi asing bagiku, foto milik Alvaro yang pernah tertinggal di kamarku. Fotoku dan dirinya, kenangan indah yang telah aku lupakan.
“Aku berharap, ingatanku kembali pulih dan bisa mengingat semua hal yang terkait dengan masa laluku. Orang-orang yang berharga, namun sekarang aku tak ingat siapa mereka” – Gumamku
Rasa kantukku mulai menyerang, perlahan aku berjalan menuju kasur dan merebahkan diriku di atasnya, melepas lelah untuk perjalanan hari ini yang begitu melelahkan, semoga besok menjadi hari yang indah.
• ~ • ~ •
Untuk ke sekian kalinya, ia kembali dalam mimpiku. Sesosok yang menyebalkan dan sangat berbahaya, aku pun mengumpulkan keberanian untuk menghadapi sosok manusia yang sedang berdiri tak jauh dariku. Aku telah siap mendengarkan apa yang akan ia sampaikan padaku.
“Lyra, tolong balaskan dendamku padanya!” – Teriaknya
“Tidak bisa, Andra! Hentikan rencana pembalasan dendammu itu! Aku tidak akan menuruti permintaan bodohmu, walaupun kau adalah saudaraku!” – Bantahan
“Kau tega padaku, Lyra! Kau tidak tahu betapa menderitanya aku saat disiksa eh pria brengsek itu! Dia harus disiksa juga sebagaimana ia menyiksaku dulu, dia pantas untuk DIBUNUH!” – Bentak Andra
“Jika aku membunuhnya, aku yang akan kena imbasnya! Aku yang akan dipenjara atas pembunuhan itu dan mungkin aku bisa dihukum mati! Hiks, Andra... Ku mohon... Berhentilah mengganggu hidupku, berhentilah merasuki diriku! Aku bukanlah dirimu, kita ini berbeda! Tolong jangan mendatangiku lagi, hiduplah dengan tenaga di sana!” – Tangisku
“Huh, kamu memang tidak bisa diharapkan. Baiklah, aku akan pergi. Tapi, dengan satu syarat. Jika kamu bisa memenuhi permintaan terakhirku, maka aku akan pergi dari hidupmu” – Ucap Andra
“Apa permintaan terakhirmu? Jangan meminta sesuatu yang melewati batas kemampuanku, aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu jika itu bisa membuatmu menjauh dariku” – Ucapku
“Aku ingin kamu pergi ke sebuah ruangan rahasia di lantai teratas, sebuah ruangan yang terletak di sebuah ruangan tempat kamu dikurung kemarin. Kamu akan menemukan sesuatu yang sangat berharga bagiku, temukan itu!” – Pinta Andra
Lyra! Sadarlah, Lyra!!
Aku langsung membuka kedua mataku, tubuhku terasa lemas dan dipenuhi dengan keringat. Aku segera duduk dan cahaya matahari memasuki kamar, membuat pandanganku terasa menyilaukan. Kepalaku terasa pusing, sebuah tangan menangkup wajahku. Alvaro duduk di sampingmu dan membuat wajahku mengarahkan padanya. Mata kami saling bertemu, raut wajahnya terlihat gelisah. Apa yang telah terjadi?!
“Lyra, apa yang terjadi padamu?! Tubuhku berkeringat dingin, apakah kamu baru saja mengalami mimpi buruk? Tidak apa-apa, jangan takut” – Ucap Alvaro
Aku di sini bersamamu, Lyra
Alvaro memelukku dengan begitu erat, pelukan hangat di pagi hari yang indah. Sejak aku bersamanya, aku sering mendapatkan pelukan hangat darinya. Sangat berbeda dengan ayahku yang hanya bisa menyiksa anaknya sendiri, aku teringat akan penderitaan Andra semasa dia masih hidup di dunia yang kejam ini. Dia bercerita padaku dengan cara masuk ke dalam mimpi-mimpiku, dia mengalami penderitaan yang cukup berat. Hingga akhirnya dia meninggal dunia tanpa tahu sebab apa yang membuatnya meninggal, tapi setidaknya penderitaannya telah berakhir.
“Aku baik-baik saja, Alvaro” – Ucapku
Aku mengangguk paham, senyum tipis terukir di bibirku. Berapa berharganya seseorang yang berada di hadapanku ini, yang selalu ada di saat suka dan duka. Walaupun aku telah melupakannya, tapi dia tetap tidak meninggalkanku.
“Lyra, ayo kita sarapan” – Ajak Alvaro
Aku mengiyakan ajakannya dan Alvaro menuntunku menuju dapur. Tubuhku tak terasa lemah lagi setelah Alvaro memberiku pelukan penyemangat, aku kembali bersemangat untuk menjalani hariku dan aku juga memiliki hutang kepada Andra atas permintaan terakhirnya. Kami makan bersama dan aku tak bisa berhenti menatap wajahnya, tampan rupawan dan wajahnya begitu bersinar dengan senyum manisnya. Uhuk! Ada apa denganku?!
“Lyra, ada apa? Apakah tehnya terasa hambar? Kurang manis?” – Tanya Alvaro
“Tidak, tehnya terasa manis karena senyumanmu” – Jawabku
“Ppfftt! Apa? Coba katakan sekali lagi, aku tidak mendengarnya” – Goda Alvaro
“T-tidak, tidak apa-apa! Tehnya manis kok!” – Ucapku gugup
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku merasa malu! Terdengar suara gelak tawa dari orang yang duduk di hadapanku yang semakin membuatku tenggelam dalam perasaan maluku. Rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, aku segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Aku berniat untuk menghindari Alvaro dengan pergi ke pintu depan, namun tangan Alvaro menahanku untuk pergi ke sana. Sedangkan pintu terus-menerus di ketuk dari luar, siapa itu?
“Tunggulah di sini, biarkan aku yang membukakan pintunya” – Ucap Alvaro
Alvaro berjalan menuju pintu depan dan membuka pintu secara perlahan, terlihat seorang laki-laki berpakaian formal berdiri tepat di depan pintu. Karena penasaran dengan siapa yang datang, aku pun mengikuti Alvaro dari belakang punggungnya. Kedua mataku terbelalak tatkala melihat wajah laki-laki tersebut.
“Kak Carel!” – Panggilku
Aku langsung memeluknya, aku merindukan sosok kakak yang satu ini. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatannya setelah kejadian dia ditusuk oleh ayahku, aku melepas pelukanku dan mengamati keadaan Kak Carel. Dia terlihat baik-baik saja, syukurlah dia telah pulih kembali.
“Lyra, aku minta maaf karena tidak becus dalam menjaga keselamatanmu. Apakah kamu baik-baik saja! Apakah kamu terluka?” – Tanya Carel
“Tidak aku baik-baik saja. Bagaimana dengan luka kakak? Apakah masih terasa sakit?” – Tanyaku
“Lukaku telah sembuh, kak Carel kan kuat! Itu mah Cuma luka kecil, hahaha!” – Jawab Carel
“Alvaro, terima kasih telah menjaga Lyra” – Tambah Carel
“Tidak masalah, itu sudah menjadi tugasku sebagai bodyguardnya. Hei, kau tahu! Tapi Lyra mencoba untuk menggodaku lho!” – Goda Alvaro