My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 18 •




Aku telah tiba di sana, namun barang yang kucari tak kunjung kudapatkan. Carel yang mengamatiku sedari tadi segera berjalan menghampiriku, namun pandanganku masih fokus untuk mencari fotoku yang telah hilang.


“Kenapa kau kesini? Bukankah seharusnya kau pulang?” – Tanya Carel


“Aku harus menemukannya!!” – Tegasku


“Menemukannya? Menemukan apa? “ – Tanya Carel


“Fotoku, di mana fotoku!? Apa kau melihatnya?” – Tanyaku


“Foto? Foto yang mana? “ – Tanya Carel


“Foto yang pernah kutunjukkan padamu, apakah kamu melihatnya di sekitar sini? “ – Tanyaku


Carel menggelengkan kepalanya, sial! Ke mana perginya foto kesayanganku itu?! Aku mengacak rambutku, frustrasi karena sedari tadi aku belum menemukan barang yang kucari. Carel mencoba untuk membantu mencarikannya untukku, namun selang beberapa menit tetap saja fotoku tak bisa ditemukan.


“Alvaro, sudahlah. Hari semakin malam, kau butuh istirahat. Kita akan mencarinya besok” – Ucap Carel


“Tidak, aku tidak mau. Aku harus mencarinya sampai dapat, aku tidak boleh kehilangan itu” – Tegasku


“Baiklah, terserah kau saja. Aku akan pulang karena ganti shift malam ini, sampai jumpa” – Pamit Carel


Aku menganggukkan kepala dan kembali melanjutkan aktivitasku untuk mencari fotoku, tak sadar bahwa suara petir menggelegar berhasil membuatku terkejut setengah mati. Aku menatap langit, air hujan mulai membasahi bumi. Namun keadaan ini tak akan bisa mematahkan semangatku untuk mencari foto kesayanganku, aku terus mencarinya di tengah hujan deras.


...• ~ • ~ •...


...• Lyrandra POV •...


Suara petir berhasil membuatku terbangun, aku menoleh ke jendela tanpa gorden di kamarku. Hujan turun dengan deras, aku menghela nafas dan menatap keluar jendela. Sudah lama tak turun hujan, beberapa kali terdengar suara petir yang membuatku terkejut. Aku beranjak dari kasur dan menoleh keluar jendela, di bawah sana terlihat seorang laki-laki di halaman gedung. Yang membuatku tercengang adalah saat melihat seorang laki-laki sedang berjongkok di depan semak-semak, aku mengenali sosok itu.


“Alvaro? Kenapa dia ada di sini di saat turun hujan seperti ini? “ – Gumamku


Aku segera keluar dari kamar, namun kakiku tersandung hingga tubuhku terhempas ke lantai. Aku memegang kepalaku, setetes darah mengenai tanganku. Salah satu mainan milikku tergelatak dilantai dan karena mainan itu keras hingga membuatku berdarah. Aku menyingkirkan mainan itu dan segera mengambil tisu, aku mengelap keningku yang terluka dan memberinya hansaplast.


“Ini hanya luka kecil, jangan meringis kesakitan karena kamu seorang gadis yang kuat! “ – Gumamku


Aku membuka pintu secara perlahan, berharap ayah tak tahu jika aku keluar kamar di malam hari. Aku melangkah kakiku keluar dari kamar, lalu segera berlari kecil menuju pintu depan. Seorang Bodyguard terkejut melihat kehadiranku, namun aku segera menutup mulutnya dan memberi isyarat untuk diam.


“Diamlah jika kamu ingin pekerjaanmu lancar” – Bisikku


Bodyguard itu langsung menganggukkan kepalanya, larangan terbesar dari ayahku adalah aku tidak boleh keluar saat tengah malam. Namun kali ini aku melanggar larangan beliau untuk yang ke sekian kalinya, aku segera mengambil sebuah payung dan berjalan keluar dari gedung. Di sana, masih terlihat sosok laki-laki itu sedang berjongkok sambil mencengkeram rambutnya sendiri.


“Kak? Sedang apa di sini? “ – Tanyaku


Sosok itu menoleh ke arahku, yang tak lain adalah Alvaro. Dia membulatkan kedua matanya setelah melihat kehadiranku di sampingnya, aku menarik salah satu tangannya dan menariknya masuk ke dalam gedung.


Bodyguard yang berada di sana hanya bisa diam membeku, mereka aku suruh untuk berpura-pura tidak melihatku. Aku membawa Alvaro masuk ke sebuah ruangan yang tak dijangkau CCTV, aku duduk kan Alvaro di sebuah kursi kayu dan memberinya handuk.


“Kenapa kamu ada di sini? Bukankah saat ini sedang turun hujan? Apa yang kamu lakukan di luar sana? “ – Tanyaku


Namun Alvaro hanya diam, dia menundukkan pandangannya menatap ke lantai. Apa yang sedang ia pikirkan? Aku menepuk kedua pundaknya dan berhasil membuatnya mendongakkan kepalanya menghadap ke arahku, wajahnya pucat pasi.


Namun Alvaro hanya diam membisu, dia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa dibaca, apa yang telah merasuki dirinya?


Tiba-tiba Alvaro bersin, dia melepaskan genggamannya dari kedua tanganku


“Alvaro, tunggulah di sini dan jangan ke mana-mana! Aku akan segera kembali dengan membawa pakaian dan obat untukmu” – Pintaku


Namun Alvaro langsung menahanku dengan memegang salah satu tanganku, aku menepis tangannya dan segera berlari ke lantai atas. Aku segera masuk ke kamarku dan segera mengambil barang yang kubutuhkah.


“Sedang apa kamu? Kenapa belum tidur? “ – Tanyanya


Deg! Aku terkejut akan suara berat dari seorang laki-laki tua yang tak lain adalah Ayahku, namun aku mengabaikannya dan menatap ke arahnya dengan tatapan kosong.


“Bukan urusanmu, ayah. Lebih baik ayah tidur dan biarkan aku membersihkan kamarku” – Ucapku


“Putriku, lebih baik kamu membersihkan kamar di pagi hari. Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur, nanti kamu bisa sakit” – Pinta Ayah


“Sakit? Jangan peduli padaku, ayah tidurlah! Jangan menggangguku! “ – Betakku


Raut wajah Ayah seperti terkejut, untuk ke sekian kalinya aku membentak ayah. Ayah hanya tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan kamarku yang masih terbuka lebar, aku memukul kepalaku.


...Argh! Kalau bukan karena kejadian itu, aku tidak mungkin akan bersikap kasar kepada Ayah...


Aku menyeka air mataku yang sempat keluar sedikit, aku segera membawa beberapa barang yang kubutuhkah dan berjalan cepat menuju ruangan yang sedang Alvaro tempati. Aku masuk secara perlahan dan kulihat Alvaro meringkuk dipojok ruangan, dia menyadari keberadaanku dan tersenyum tipis ke arahku.


“Alvaro, cepat diganti bajumu! Bajumu basah, kamu bisa masuk angin” – Ucapku


Alvaro berdiri dan meraih pakaian yang aku berikan kepadanya, dia segera melepas pakaiannya. Aku langsung menutup kedua mataku, cih! Mataku ter nodai.


“Al-Alvaro! Apa yang kau lakukan?!” – Tanyaku


“Oh? Maaf, Lyra. Aku- “ – Ucap Alvaro


“Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Aku akan berbalik badan dan aku tidak melihat apa pun~” – Ucapku


Aku berbalik badan agar tidak melihatnya yang sedang melepas pakaiannya, terdengar suara cekikikan darinya.


Aku segera menoleh ke belakang, kudapati Alvaro telah berdiri tepat di belangku. Dia tersenyum diiringi dengan tawa kecil, dia menertawakanku?! Karena kesal, aku menyikut perut Alvaro hingga ia meringis kesakitan sambil memegang perutnya, namun dia kembali menatapku.


“Kenapa kamu memukulku? Apa salahku? “ – Tanya Alvaro


“Salahmu karena telah menertawakanku!!” – Jawabku


“Maaf, karena kamu terlihat menggemaskan. Aku jadi tertawa melihat tingkah lakumu” – Ucap Alvaro


Blushing, argh! Dia mencoba untuk menggodaku?! Dasar buaya darat, aku mengabaikannya dan segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Kamu akan meninggalkanku sendirian di sini? “ – Tanya Alvaro