
Suara ketukan pintu membuatku panik, aku mengecek panggilan itu. Panggilan masuk dari Ayah, aku langsung menoleh ke pintu kamarku. Di sana ada bayangan seseorang yang tak lain adalah ayahku, aku langsung menarik salah satu tangan Alvaro dan menyuruhnya untuk bersembunyi di bawah meja.
“Putriku, ayo keluar sebentar!” – Ajak Ayah
“Tu-tunggu sebentar, Ayah! “ – Teriakku
Aku segera berjalan ke pintu kamar dan membukanya, terlihat raut wajah Ayah khawatir setelah melihat diriku. Ayah menangkup wajahku dan memeriksa seluruh bagian tubuhku.
“Nak, Ayah dengar dari Carel bahwa kamu terluka! Apa yang telah terjadi padamu?! “ – Tanya Ayah
“A-aku... Ayah tahu kan aku mempunyai kelainan, jadi aku... Berkelahi dengan orang, hehehe” – Jawabku
“Siapa yang mengganggu putri ayah?! Akan Ayah hukum! “ – Tegas Ayah
“Ahahaha, Ayah tidak perlu menghukumnya. Karena aku telah memberinya pelajaran! “ – Ucapku
“Anak ayah memang pemberani ya? Ayah harap kamu mandiri dan tidak takut dengan hal apa pun lagi” – Ucap Ayah
Ayah memberiku sekantong plastik berisi makanan dan juga obat-obatan, aku berterima kasih pada ayah dan beliau menyuruhku untuk beristirahat. Aku mengangguk tanda paham dan segera menutup pintu kamar tatkala ayah melangkah pergi meninggalkan kamarku, aku menghela nafas dan pandanganku tertuju ke kolong meja.
“Hei, keluarlah!” – Ucapku
Laki-laki bernama Alvaro itu segera keluar dari kolong meja dan membersihkan debu yang menempel di pakaiannya, dia mengamati sekeliling kamarku.
“Ehm, maaf. Aku sangat jarang membersihkan kamar” – Ucapku
“Tidak apa-apa, bukan masalah besar” – Ucap Alvaro
Pandangan Alvaro tertuju pada sebuah carter yang berdarah, bekas sayatan tanganku tadi. Dia mulai melangkahkan kakinya menuju carter itu, namun aku segera mencegahnya.
“A-Alvaro, abaikan saja itu! “ – Ucapku
“Kau melukai dirimu sendiri?” – Tanya Alvaro
“Ti-tidak, aku tidak melukai diriku sendiri“ – Jawabku
“Kau berbohong! Buang carter itu dan jangan sakiti dirimu sendiri” – Ucap Alvaro
“Hei, memangnya kau siapa menyuruhku begitu?! Apa yang kau tahu tentangku?!” – Bentakku
“Aku tahu semua tentangmu, Lyra. Kamu benar-benar tidak mengingatku? “ – Tanya Alvaro
...“Aku yang sakit melihatmu melukai dirimu sendiri, tolong hentikan perbuatanmu itu!”...
Aku tercengang setelah mendengar perkataannya, dia tahu segalanya tentangku? Sedari tadi dia terus menerus bertanya, apakah aku mengingatnya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, berbagai pertanyaan berhasil memenuhi isi pikiranku. Aku mengerutkan keningku, aku berusaha untuk mengingat siapa dirinya.
“Kau... Kau orang yang tak sengaja kutabrak, kan? “ – Tanyaku
“Iya, aku pernah menabrakmu saat aku sedang terburu-buru untuk pulang ke rumah. Kamu menemukan kacamataku saat aku terjatuh” – Jawabku
“Bu-bukan itu, maksudku... Dimasa lalu, apakah kamu mengingatnya? “ – Tanya Alvaro
Aku menggelengkan kepalaku, aku benar-benar tidak mengingat apa-apa tentang dirinya dimasa lalu. Alvaro kembali mengacak rambutnya tanda frustrasi, aku bingung harus apa kepadanya. Pandanganku terkalihkan pada lehernya yang memerah, tanpa sadar aku menarik salah satu tangannya dan mendekatkan wajahku pada lehernya.
“Ada luka di lehermu, apa yang terjadi padamu sampai luka seperti ini? “ – Tanyaku
“Kamu lupa? “ – Tanya Alvaro
“Eh? Hah?! Argh!!! Tidak, m-maafkan aku!! Aku akan mengobatimu! “ – Ucapku
Argh! Untuk yang ke sekian kalinya, aku melukai orang lain. Walaupun aku tak ingat apa saja yang telah kulakukan, tapi untuk sekarang aku harus mengobati lukanya terlebih dahulu. Aku mendudukkannya di tepi kasur, aku meraih kotak P3k yang terletak di meja samping kasurku. Alvaro diam dan mengamati setiap gerak-gerikku.
“Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, nanti akan sembuh dengan sendirinya. Lyra, jangan terlalu banyak bergerak. Lukamu baru saja diobati” – Ucap Alvaro
“Oh, ya? Lukaku? Kamu yang mengobatinya? Terima kasih, sekarang biarkan aku mengobati lukamu. Luka itu karena aku, jadi aku ingin bertanggung jawab” – Ucapku
Aku segera mengobati luka di lehernya, lukanya terlihat seperti habis dicekik. Ternyata aku sebrutal itu, cukup membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri.
Kedua mata Alvaro tak berhenti menatapku, membuatku merasa sedikit tak nyaman. Aku mendorong wajahnya agar menatap ke samping, aku tahu jika perlakuanku tadi kurang sopan. Menurutku dialah yang sangat tidak sopan karena telah berani masuk ke kamar seorang gadis, aku telah selesai mengobati Alvaro dan duduk tepat di hadapannya.
“Alvaro, jujurlah! Selama ini, kamu telah membohongiku. Kamu berpura-pura sebagai seorang wanita, kenapa kamu melakukan itu? Apakah itu termasuk suruhan dari ayahku? Atau kemauanmu sendiri agar bisa mendekatiku? Aku sudah banyak bertemu berbagai macam orang yang berpura-pura dengan alasan ingin merebut hartaku, tapi kali ini aku ingin mendengar penjelasan darimu. Katakan semuanya dan jangan mencoba untuk membohongiku lagi! “ – Ancamku
Alvaro meneguk air ludahnya sendiri, dia menundukkan kepalanya. Sepertinya dia terlihat sedang berpikir, lalu dia menatap ke arahku dan mulai membuka mulutnya untuk berbicara.
“Aku minta maaf atas apa yang telah kulakukan selama ini, aku berbohong demi bisa bertemu denganmu. Aku sedang dilanda kesusahan, ayahmu datang menawarkan aku sebuah pekerjaan. Demi bertahan hidup dan mau tak mau aku melakukan pekerjaan sebagai Bodyguard pribadimu. Sejak kejadian kamu tak sengaja menabrakku itu, membuatku senang. Aku telah lama mencari keberadaanmu dan aku menemukanmu di sini” – Jawab Alvaro
...“Karena aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu. Tapi sayangnya kamu telah melupakanku”...
Untuk ke sekian kalinya, dia mengatakan bahwa aku telah melupakannya. Sebenarnya apa hubunganku dengannya sehingga dia begitu kecewa jika aku telah melupakannya? Argh, tolong jangan membuat beban pikiran lagi. Aku sudah cukup lelah menghadapi dunia yang kejam ini, secara tiba-tiba dia menggenggam kedua tanganku dan melemparkan tatapan puppy eyes miliknya. Dia memberiku kode agar aku mengingat akan dirinya, aku menghela nafas.
“Ya, jika menurutmu aku adalah orang yang berharga bagimu. Kamu bisa membantuku untuk mengingatmu kembali” – Tawarku
“Benarkah? T-terima kasih! Lyra, tolong biarkan aku berada disisimu untuk saat ini sampai kamu mengingatku kembali! “ – Ucap Alvaro
“Ya, tapi tolong jaga batasmu sebagai laki-laki” – Ucapku
Suara telepon dari handphone Alvaro berbunyi, dia segera mengangkatnya dan beberapa kali menganggukkan kepalanya.
Alvaro berpamitan untuk pergi keluar dari kamar melalui jendela, dia sempat melambaikan salah satu tangannya ke arahku sebelum ia melompat dari jendela. Aku tak habis pikir dengannya, bagaimana bisa dia melompat dari lantai 3? Manusia mungkin akan mati jika melakukan hal semacam itu, tapi kulihat Alvaro selamat dan tersenyum menatapku dari bawah.
“Dia laki-laki yang unik, sepertinya aku akan sering bertemu dengannya. Dari pada melihatnya menangis seperti bayi, lebih baik aku membantunya” – Gumamku
Membantunya untuk membuat ingatanku tentangnya pulih, sebenarnya aku tak berniat membantu laki-laki itu.