
Pandanganku tak bisa lepas dari kantong besar yang bergerak sendiri, sebuah tangan keluar dari kantong itu. Membuatku hampir pingsan, aku berteriak histeris. Seseorang keluar dari kantong tersebut dan berjalan ke arahku, sosoknya yang tak jelas karena tak ada lampu di dalam gudang. Hanya bermodal cahaya dari ventilasi udara, aku mencoba untuk tenang dan langsung memeluk kedua kakiku.
“To-tolong, menjauhlah! Jangan mendekat! “ – Teriakku
Aku tak berani menatap siapa sosok itu, aku memperkuat pelukanku pada kedua kakiku. Tubuhku gemetar, aku merasa sangat ketakutan. Sebuah tangan menyentuhku dengan lembut, terasa pelukan hangat di tubuhku.
...“Tenanglah, jangan menangis. Kamu tidak perlu takut, aku ada di sini bersamamu”...
Perlahan, aku mencoba untuk mengangkat kepalaku. Sosok tadi sedang memelukku, siapa dia? Perlahan sosok itu mulai melepas pelukannya dan menatap wajahku, aku tercengang setelah melihat wajah sosok asing ini.
“Ka-kau?! Kenapa kau bisa di sini?! Pergilah!! Jangan dekati aku! “ – Teriakku
“Sshttt! Jangan berisik, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Jadi tenanglah” – Ucapnya
Laki-laki remaja itu meletakkan jari telunjuknya di mulutku, mengisyaratkan kepadaku untuk diam. Dia menangkup wajahku dan menatapku lekat, membuatku merinding. Dia tersenyum ramah dan mencoba menghapus sesuatu dari wajahku.
“Ada apa dengan wajah cantikmu?” – Tanyanya
Aku terkejut dan langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku merasa malu karena aku teringat bahwa wajahku telah dicoret-coret oleh Rina beserta teman-temannya. Namun, laki-laki itu melepaskan kedua tanganku dari wajahku dan menarikku untuk berdiri. Dia menarikku untuk mengikutinya ke pintu gudang, kulihat dia mencoba untuk membuka pintunya.
“Argh! Sial, mereka keterlaluan sekali! Akan kubunuh mereka jika aku bertemu dengan manusia jahanam itu! “ – Ucapnya
“Ehm... Tolong jangan membunuh mereka, kamu akan dapat masalah besar” – Ucapku
“Ah, aku hanya bercanda. Jangan dibawa serius, tunggu sebentar ya? “ – Ucapnya
Dia langsung menendang pintu gudang dan pintunya langsung terbuka, aku tercengang saat melihatnya. Dia kuat sekali, hanya dengan sekali tendangan.
“Ayo kita keluar, kamu harus membersihkan makeup kamu” – Ajaknya
Aku malu, dia masih setia menggenggam erat salah satu tanganku. Membuat jantungku berdetak lebih cepat, aku berusaha menutup wajahku dengan tanganku yang satunya. Kami sampai di depan WC, dia mempersilahkanku untuk masuk ke dalam WC khusus perempuan dan dia akan menungguku di luar.
Aku menganggukkan kepala dan segera melangkah masuk ke dalam WC, seperti biasa aku harus mengecek keadaan di dalam WC. Takut jika ada murid lain yang sedang merokok atau Rina beserta teman-temannya.
“Huh, aman. Aku harus segera membersihkan wajahku, ini memalukan!” – Gumamku
Aku membasuh wajahku dan menatap wajahku dari pantulan cermin, mereka benar-benar keterlaluan. Ini bukanlah yang pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini oleh mereka, aku harus bertahan hingga lulus nanti.
“Ada sesuatu yang membuatku penasaran, laki-laki itu datang dari mana? Bukankah aku telah bertemu dengannya saat di gang sempit itu? Aku baru melihat dia disekolah ini” – Gumamku
Aku menyelesaikan aktivitasku di WC, aku segera berjalan keluar dari WC. Kulihat laki-laki itu masih setia berdiri tepat di samping pintu WC perempuan, aku menyapanya dan dia menyadari keberadaanku.
“Oh, sudah selesai? Apa ada yang terluka? “ – Tanyanya
“Tidak ada, terima kasih telah menolongku” – Jawabku
“A-Alvaro, namaku Lyra. Salam kenal” – Ucapku
“Lyra, nama yang cantik seperti pemilik namanya”
Blushing, wajahku seketika terasa panas. Senyumannya membuatku meleleh, siapa sebenarnya laki-laki ini?! Bisa gila aku jika terus bersamanya, aku mengalihkan pandanganku darinya. Namun tangan lembut menyentuh rahangku dan membuat wajahku menatap ke arahnya, kedua mataku membelalak.
“Hei, ada apa? Kenapa wajahmu memerah? “ – Tanya Alvaro
Wajahku tambah memerah, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Berharap dia mengabaikan wajahku, terdengar suara gelak tawa darinya yang membuatku semakin malu.
“Hei, kau! Anak nakal, siapa kau?! Berani-beraninya kau masuk ke sekolah ini! Keluar kau dari sekolah kami! “ – Teriak Seseorang
“Argh, sial! Aku pergi, sampai jumpa! “ – Pamit Alvaro
Aku langsung menyingkirkan kedua tanganku dari wajahku dan menatap ke depan, kulihat Alvaro berlari jauh meninggalkanku. Satpam sekolah berlari mengejarnya, apakah aku tak salah dengar? Alvaro bukan murid sekolah ini? Sudah kuduga, laki-laki itu memang terlihat seperti berandalan yang tampan.
“Astaga, Lyra! Apa yang kau katakan, dia tidak tampan, kak Carel lebih tampan daripada dia!” – Gumamku
Aku berjalan menuju kelas, mencoba untuk mengabaikan apa yang telah terjadi. Setelah masuk ke kelas, kulihat meja kursiku telah dicoret-coret dengan spidol permanen. Tertulis kata-kata kasar beserta ejekan yang ditujukan kepadaku, sebisa mungkin aku menghilang tulisan spidol itu dari mejaku.
“Aku tidak kuat, sebenarnya aku lelah dengan semua ini. Bagaimana jika aku pindah sekolah? Apakah ayah mau mengabulkan permintaanku? “ - Gumamku
...• Alvaro POV •...
Disisi lain, aku berusaha untuk terus berlari menghindari satpam sekolah ini. Aku berusaha untuk sembunyi, namun selalu diketahui oleh satpam itu. Sepertinya dia bukan satpam biasa, mau tak mau aku harus keluar dari sekolah ini. Aku langsung melompati pagar sekolah dan terus berlari menjauh dari sekolah.
“Pergilah dan jangan datang kembali! Dasar anak nakal, akan kulaporkan kau kepada sekolahmu!” – Teriak Satpam itu
“Maaf, pak. Aku tak punya sekolah, aku bukan anak sekolah. Hehehe! “ – Sahutku
Aku berhenti di tengah jalan, aku menoleh ke belakang. Aku pikir satpam itu akan mengejarku, ternyata tidak. Aku mengatur nafasku, jika boleh aku ingin menghajar bapak itu. Namun aku harus hormat pada yang lebih tua, lagi pula ini salahku karena masuk ke sekolah orang lain tanpa izin. Di tengah perjalanan, seseorang dengan sengaja menabrakku. Namun aku tetap mempertahankan tubuhku dan menatapnya dengan tatapan tajam, orang itu segera meminta maaf dengan wajah mengejek dan tak ikhlas.
“Kenapa sengaja menabrakku? Mau apa kau?! Ngajak gelud? “ – Tanyaku
“Hehehe, kamu ternyata peka juga ya? Kamu kan yang memukul pacarku?! Jawab aku! “ – Tanyanya
Laki-laki itu mencengkeram kerah bajuku dengan kuat dan menatapku dengan tatapan penuh kebencian, teman-teman lainnya mengelilingiku dan bersiap dengan membawa berbagai macam senjata. Aku tersenyum tipis dan memegang tangannya yang sedang mencengkeram kerah bajuku, aku langsung membanting tubuhnya.
“Bukan urusanku, bodoh! “ – Ucapku
Teman-temannya tercengang melihat laki-laki yang kubanting itu meringis kesakitan, mereka tak tinggal diam dan langsung berlari ke arahku untuk memukulku. Namun, dengan cepat aku menangkis pukulan mereka. Dan kali ini aku menang, mereka semua terjatuh dan sebagian pingsan tak sadarkan diri.