My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 19 •




“Ya, pulanglah! Jangan sampai ayah menyadari keberadaanmu, cepatlah keluar” – Pintaku


“Tapi, aku tidak bisa pulang sebelum menemukan barang kesayanganku” – Ucap Alvaro


“Barang kesayangan? Apa itu?” – Tanyaku


“Sebuah foto, aku kehilangan sebuah foto. Mungkin saja kamu melihatnya? “ – Tanya Alvaro


“Ya, aku memang melihatnya” – Jawabku


“Benarkah? Di mana? “ – Tanya Alvaro


“Tunggulah di sini, aku akan mengambilnya untukmu” – Ucapku


Untuk yang ke sekian kalinya, aku berbolak-balik dari ruangan itu menuju kamarku. Lalu kembali lagi ke ruangan yang tersembunyi itu, aku membuka pintu dan kali ini kulihat Alvaro sedang melepas bajunya.


“Alvaro!! “ – Teriakku


“Oh? Lyra? Maaf, aku mengenakan baju terbalik, jadi aku membenarkannya” – Ucap Alvaro


Kedua mataku ter nodai, tubuhnya yang terlihat seperti orang yang rajin berolahraga. Dari belakang, tubuhnya sangat menakjubkan! Apakah bisa seorang gadis mendapatkan tubuh seperti itu? Argh! Kau sudah gila, Lyra! Tutup matamu!!


“Aku sudah selesai, sekarang kamu bisa membuka kedua matamu” – Pinta Alvaro


Aku segera membukanya, dia melemparkan senyumannya untuk yang ke sekian kalinya. Apakah anak ini sangat suka tersenyum? Senyumannya membuatku meleleh, hahaha. Aku segera menyodorkan selembar foto yang kudapat dikamar, Alvaro tersenyum lebar.


“Te-terimakasih, Lyra! Terima kasih banyak! Akhirnya aku menemukannya!” – Ucap Alvaro


“Lain kali, berhati-hatilah dengan barang milikmu. Jangan sampai hilang lagi! “ – Tegas aku


“Lyra, tentang foto ini... apakah kamu menyadari sesuatu dari foto ini? Apakah kamu mengenal sosok yang ada difoto ini? “ – Tanya Alvaro


Alvaro menyodorkan fotonya kembali kepadaku, aku meraihnya dan menatap lekat foto usang miliknya. Aku menganggukkan kepala dan Alvaro terlihat senang.


“Coba tebak, siapa yang ada di foto itu? “ – Tanya Alvaro


“Ini kamu? Ya kan? “ – Jawabku


“Lalu, di sebelahku? Anak perempuan yang berada di sampingku?” – Tanya Alvaro


“Ehm...aku... Tidak tahu siapa anak perempuan ini, dia mirip denganku. Tapi sepertinya dia bukanlah aku” – Jawabku


Raut wajah Alvaro berubah menjadi lesu, dia menatapku dengan tatapan kecewa. Apa maksud nya dengan tatapannya itu? Apa aku salah dalam menjawab pertanyaannya? Alvaro meraih foto yang sedang kupegang dan jari telunjuknya menunjuk ke foto bagian anak perempuan itu, lalu dia kembali menatapku.


“Ini kamu, Lyra. Apakah kamu sudah melupakannya? Foto ini diambil saat kita pulang dari sekolah, kamu benar-benar tidak mengingatnya?” – Tanya Alvaro


“Ma-maaf, Alvaro. Aku benar-benar tidak ingat apa pun, aku sungguh tidak mengingat siapa dirimu” – Jawabku


Kini kedua mata Alvaro berkaca-kaca, sebentar lagi akan turun air matanya. Alvaro berusaha menahan air matanya dan beberapa kali menghela nafas kasar, aku berulang kali meminta maaf padanya.


...Aku tidak berbohong padanya, aku tidak mengingat tentang Alvaro....


“Kamu adalah gadis yang sangat berharga untukku, aku tidak bisa kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Kumohon, ingatlah aku! Aku, Alvaro! “ – Ucap Alvaro


“Alvaro, tenanglah! Maafkan aku dan tolong tenanglah!” – Pintaku


“Bagaimana aku bisa tenang?! Aku telah kehilangan semuanya!! “ – Bentak Alvaro


...“AKU TELAH KEHILANGAN KAMU, LYRA!”...


“Aku tidak bisa memaafkan diriku, maafkan aku karena telah meninggalkanmu” – Lanjut Alvaro


Alvaro jatuh tersungkur dilantai, dia terus menerus memukul lantai dan suara tangisnya masih terdengar. Ruangan yang kedap suara ini membuatku merinding setelah mendengar suara darinya, dia berulang kali mengatakan kata maaf dan diiringi dengan memukul kepalanya sendiri.


“Alvaro, berhenti!! Jangan menyakiti dirimu sendiri!! Aku minta maaf belum bisa mengingatmu! Aku sungguh minta maaf, Alvaro! Sekarang, kamu tenanglah! Jangan seperti ini” – Pintaku


“Mungkin kita bisa membuka lembaran yang baru? Dan aku akan terus mencoba untuk mengingatmu” - Tawarku


Seseorang yang menganggapku berharga dalam hidupnya, aku tidak akan menyia-nyiakan orang seperti dia. Aku akan membantunya, apa pun yang akan terjadi. Aku membantu Alvaro untuk duduk, aku tatap lekat wajahnya. Aku pikir laki-laki adalah sosok yang tak pernah menangis, namun perkiraanku salah. Maafkan aku, aku masih merasa takut dengan  laki-laki yang pernah kutemui dalam hidupku. Alvaro menarikku ke dalam pelukannya, suara sesenggukan masih terdengar darinya.


“Seharusnya aku yang minta maaf padamu, Lyra. Aku minta maaf, jika saja aku tidak meninggalkanmu... Mungkin kamu tidak akan menjadi seperti ini” – Ucap Alvaro


“Hei, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Yang terjadi, biar lah terjadi. Aku tidak tahu orang seperti apa diriku dimasa lalu, tapi aku akan berusaha untuk mengingat siapa dirimu” – Ucapku


“Jangan memaksakan dirimu, Lyra. Aku akan membantumu dengan perlahan, asalkan aku tetap bersamamu” – Ucap Alvaro


Alvaro mengelus lembut rambutku dan memeluk dengan lebih erat, seperti tidak ingin lepas dari pelukan ini. Aku membalas pelukannya, pelukan hangat seorang laki-laki yang baru pertama kali kurasakan dalam hidupku.


“Alvaro, kuharap kamu bisa menerima diriku yang sekarang” – Pintaku


“Tentu saja, apa pun itu yang berhubungan denganmu. Aku akan mencoba untuk menerimamu apa adanya” – Ucap Alvaro


Dia melepas pelukannya, kami saling bertatapan satu sama lain. Aku tertawa saat melihat raut wajah lucu Alvaro setelah menangis, dia tak marah dan ikut tertawa.


“Lyra, apa yang terjadi dengan keningmu? Kamu terluka? “ – Tanya Alvaro


“Aku tak sengaja jatuh saat dikamar. Hanya luka kecil, abaikan saja” – Ucapku


“Lain kali berhati-hatilah, lihat langkahmu. Jangan sampai kamu terluka lagi, aku sakit melihatmu terluka seperti ini” – Ucap Alvaro


“Aku yang terluka, kenapa kamu yang merasa sakit? Kamu aneh, hahaha” – Ucapku


Aku menoleh ke arah jam dinding, sebentar lagi menunjukkan jam 2 malam. Aku segera mengajak Alvaro keluar dari ruangan dan mengantarnya hingga pintu depan.


“Lewat lah jalan yang tidak ada CCTV, bahaya jika kamu ketahuan” – Ucapku


“Tenang saja, aku sudah ahli dalam hal seperti itu” – Ucap Alvaro


“Hahaha, baiklah. Berhati-hatilah, sampai jumpa! “ – Ucapku


Aku melambaikan salah satu tanganku ke arahnya, dia membalas lambaian tanganku. Sosok Alvaro mulai menghilang dari pandanganku, tentunya hari masih hujan dan aku memberikannya sebuah payung untuk pulang. Pandanganku tak sengaja bertemu dengan sepasang mata seseorang, dia sedang menggendong seorang anak perempuan. Anak perempuan itu melambaikan salah satu tangannya ke arahku, dengan refleks aku melambaikan salah satu tanganku padanya.


“Siapa itu? Apakah seorang penculik?” – Gumamku


Sosok dalam kegelapan itu mulai memajukan badannya ke depan, membuat wajah orang yang sedang menggendong anak perempuan itu terlihat. Aku tidak asing dengan wajah laki-laki itu, dia berjalan ke arahku dan anak perempuan itu tak berhenti tersenyum lebar.