
Aku langsung merobek rokku tanpa melepas wig rambut panjang yang sedang kupakai, jika seperti ini pasti tidak akan ketahuan oleh Lyra. Aku mulai menghajar mereka, namun kekuatanku masih di bawah mereka.
“Sial, jika seperti ini. Aku harus menghajar mereka yang sedang menahan Lyra lebih dulu, setelah itu aku akan membawa Lyra kabur bersamaku” – Gumamku
Aku langsung berlari ke arah Lyra, namun dari samping seseorang menendangku dan berhasil membuatku terpental. Sepertinya dia tahu rencanaku, sudah lama aku tidak bertarung. Azran juga berada di sana, dialah yang menendangku tadi. Dibantu oleh orang-orang mereka, Azran berhasil menangkapku dan menegakkan tubuhku untuk berhadapan dengan Lyra.
“Lyra, lihat sini sayang. Aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik untukmu” – Ucap Azran
Srak! Azran melepas wig yang ada di kepalaku dan juga merobek jas navy yang sedang kupakai, Lyra tercengang saat melihatku dengan keadaan telanjang dada. Terlihat dari tatapan Lyra, tatapan kekecewaan. Dia langsung menundukkan pandangannya ke bawah dan mengepalkan kedua tangannya, aku tahu pasti identitas akan terbongkar.
Aku mengamuk, Azran telah merobek jas pemberian Kyra. Tidak akan kuampuni kau kali ini!! Aku berhasil melepas tubuhku dari pegangannya dan menghajarnya bertubi-tubi, kemarahanku bergejolak. Namun tetap saja, mereka bukanlah orang biasa. Mereka adalah orang-orang yang dilatih untuk membunuh, aku sebisa mungkin berusaha untuk membunuh mereka semua.
“Kalian semua tak akan kumaafkan!!!” – Teriakku
Namun karena emosi tak terkendali, aku tetap kalah. Jumlah mereka melebihi dari standar, aku tetap bertahan walau dipukuli. Ini semua demi LYRA.
...“Hahaha, semua laki-laki memang brengsek!! Kalian semua harus mati ditanganku!! Hahaha!!”...
Semua orang menoleh ke arah suara tawa seseorang, aku tercengang saat kulihat Lyra terlepas dari pegangan orang yang menahannya tadi. Ditangannya sudah ada sebatang tongkat baseball dengan lumuran darah ditongkat itu, terlihat senyuman lebar di wajahnya. Dia mengayunkan tongkat baseball dan langsung memukul orang-orang yang lewat di hadapannya.
“Karena di sini tidak ada bola baseball, kalian lah yang akan menjadi bolanya, hahaha!!” – Teriak Lyra
Tunggu, dia terlihat seperti bukan Lyra. Orang-orang yang ingin memukulku tadi, mereka berlari menuju Lyra untuk menghadapinya. Namun yang membuatku terkejut, dia berhasil mengalahkan mereka semua. Tersisa lah orang yang terkuat berdiri berjejer di hadapannya, aku hanya diam tak berkutik.
“1, 2, 3, 4... Kau yang tak pakai baju, jadi ada 5 orang. Kalian keren!! Bagaimana jika kita bermain lagi!! Aku ahli dalam bermain baseball loh! “ – Ucap Lyra bangga
Dengan cepat, dia berusaha memukul sebisa mungkin. Berbagai senjata berhasil menggores di beberapa bagian tubuh Lyra, namun aku tak mendengar rintihan kesakitan dari mulutnya. Lyra tidak memedulikan rasa sakit dan terus memukul sambil tertawa riang, dia terlihat seperti orang gila.
“Lyra!! Cukup!! Kau terluka, berhentilah memukul mereka! Mereka telah kalah, ayo kita pergi! “ – Ajakku
“Kau pengecut! Biarkan aku bersenang-senang dengan mereka, para laki-laki harus kubuat mampus malam ini, hahaha!!” – Ucap Lyra
“Tolong jangan panggil aku dengan nama “Lyra” Panggil aku dengan nama ”Andra” – Lanjut Lyra
Lyra bergerak dengan gesit, aku tak bisa melihat pergerakannya. Tiba-tiba dia sudah berdiri di hadapanku dan mendorongku hingga aku terjatuh, dia menindih tubuhku dan mencekik leherku. Membuatku sesak bernafas, aku bisa mati jika seperti ini.
“MATI, MATI, MATI KAU!! BERANINYA KAU MENGKHIANATI NYA!! KAU HARUS MATI!!” - Teriaknya
Aku berusaha untuk melepas kedua tangannya dari leherku, namun dia semakin mencengkeramku dengan lebih kuat. Aku bisa mati jika kubiarkan, tapi tatapan matanya membuatku tak bisa berbuat apa-apa.
...“Tatapan membunuh, itulah yang kulihat dari kedua belah matanya yang indahnya”...
“Namaku ANDRA!! Bukan LYRA!! Panggil aku dengan nama ANDRA!!” – Tegas Lyra
“A-Andra! Tolong lepaskan tanganmu dari leherku! “ – Bentakku
...“Aku tidak akan melepaskan cengkeramanku dari lehermu sampai kau mati ditanganku”...
Dia tertawa untuk yang ke sekian kalinya, aku merasa sakit di bagian leher akibat kuku tangannya yang panjang dan menusuk leherku. Aku masih syok dengan keadaan Lyra yang berubah drastis, bukan seperti Lyra yang biasanya. Dia seperti dirasuki oleh orang lain, aku harus membuatnya sadar.
Bugh! Sebuah pukulan keras mengenai bagian belakang Lyra dan membuatnya jatuh pingsan di atas tubuhku, aku menoleh ke arah seorang pria berdiri tepat di belakang Lyra dengan sebuah tongkat baseball disalah satu tangannya. Pria itu menghela nafas berat dan melempar tongkat itu ke sembarang arah, pria itu segera menggendong Lyra dan membantuku untuk berdiri.
“Terima kasih, Carel. Jika tidak ada kau, mungkin aku sudah mati” – Ucapku
“Kamu pasti sangat syok saat melihat Lyra yang berubah drastis seperti ini, mulai sekarang kuharap kau harus berhati-hati dengan Lyra” – Ucap Carel
“Kenapa aku harus berhati-hati dengannya? Dia hanya seorang gadis” – Ucapku
“Kau yakin dia hanya seorang gadis biasa? Kau hampir mati karena dia! “ – Tegas Carel
“Tapi, kenapa dia berubah drastis seperti itu?! Apa yang telah terjadi padanya sehingga dia menjadi seperti itu?! Dia bukan Lyra yang dulu kukenal! “ – Ucapku
...“Suatu saat kau akan tahu sendiri”...
Aku memberhentikan langkahku, rasa kesal di dalam diriku semakin bergejolak. Kenapa semua orang menyembunyikan sesuatu tentang Lyra dariku?! Bukankah karena mereka tahu bahwa aku kenal dengan Lyra dimasa lalu, seharusnya mereka memberitahuku. Tiba-tiba Carel melempar sebuah jaket tepat di wajahku, aku segera mengambil jaket itu dan menatap ke arahnya.
“Hari semakin dingin, tutupi badanmu dengan jaket itu” – Ucap Carel
Aku tak sadar jika sedari aku masih telanjang dada, aku segera memakai jaket dari Carel dan berlari cepat menghampirinya. Kami berjalan bersama menuju gedung untuk mengantar Lyra pulang ke rumah. Setelah sampai di halaman di gedung, rasa gelisah mulai menyelimuti perasaanku.
“Bagaimana aku harus mengatakan hal ini kepada Pak Andrian? Apakah setelah ini beliau akan memecatku?! Argh! Sial! Aku gagal kali ini! “ – Keluhku
“Tenanglah, Pak Andrian sedang keluar. Jadi kau aman untuk saat ini, bawalah Lyra ke kamarnya dan obati lukanya. Aku masih ada pekerjaan lain, sampai jumpa” – Jawab Carel
Aku menganggukkan kepala dan segera menggendong Lyra masuk ke dalam gedung.
“Hei, Alvaro! Tolong katakan pada Lyra, aku minta maaf karena telah memukulnya” – Teriak Carel
Aku menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arahnya, aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar Lyra. Beberapa barang berserakan dilantai, membuatku susah untuk membawa Lyra ke kasurnya. Kakiku menginjak beberapa barang, membuat aku hampir berteriak karena merasa sakit.
“Gini amat perjuanganku untuk sampai di kasur Lyra! Hadeh, aku harus membereskan semua barang miliknya” – Gumamku