
Sedangkan Ayesha masih berada di gendonganku, dia tertidur karena lelah bermain.
Brak! Untuk kedua kalinya pintu di banting dengan keras hingga menimbulkan suara yang memekikkan telinga orang yang berada di ruangan ini. Seorang laki-laki yang tinggi berdiri di ambang pintu dengan nafas tak beraturan dan di salah satu tangannya ada sebuah kotak susu bubuk, aku merasa tak asing dengan wajah laki-laki itu. Dia berjalan ke arah Laudy dan memberikan kotak susu itu padanya.
“Terima kasih banyak, Alvan. Maaf telah merepotkanmu” – Ucap Laudy
“Tidak apa-apa, apa pun akan kulakukan demi anak-anak kita. Di mana Ayesha?” – Tanya Alvan
“Dia sedang tertidur di pangkuan Lyra” – Jawab Laudy
Tunggu, anak kita?! Apa maksudnya?! Apakah ini anak-anak mereka? Aku tidak bisa memahami silsilah keluarga mereka. Laki-laki tersebut menoleh ke arahku, aku dengar namanya Alvan. Dia berjalan ke arahku dan aku segera memberikan Ayesha padanya, dia menyambutnya dan menggendongnya.
“Kita bertemu kembali, Lyra. Terima kasih telah mengurus anakku” – Ucap Alvan
Aku tersenyum diiringi dengan anggukan kepala, aku ingat siapa laki-laki yang ada di hadapanku ini. Orang yang kutemui di malam saat hari sedang hujan, dia juga yang menyuruhku untuk berhati-hati dengan Alvaro. Mungkin Alvan hanya bercanda, menurutku Alvaro termasuk laki-laki yang baik. Dia membawa anaknya ke dalam sebuah kamar, lalu Alvan kembali keluar dari kamar setelah meletakkan Ayesha di dalam sana. Ia berjalan menuju pintu depan, namun bajunya di tarik oleh Laudy yang membuatnya memberhentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Laudy.
“Kau akan pergi ke mana lagi?” – Tanya Laudy
“Ada urusan yang harus aku urus, apakah setelah ini kamu akan pulang ke rumah?” – Tanya Laudy
“Iya, aku harus menidurkan Raisa di rumah. Aku pamit pulang semuanya!” – Pamit Laudy
“Tidak, kamu tidak boleh pulang! Berbahaya jika kamu pulang sekarang, ini sudah malam. Menginaplah di sini untuk malam ini, para bodyguard Lyra masih bertebaran di jalanan. Kamu terlihat dengan mereka karena kamu telah menghalangi mereka untuk membawa Lyra pulang, mereka pasti sedang mencarimu juga” – Sergah Alvan
“Tidak bisa, Alvan. Leona pasti kelelahan menjaga mereka yang masih di bawah umur, mereka akan dalam bahaya jika aku meninggalkan mereka terlalu lama” – Bantah Laudy
“Jika begitu, biarkan aku menginap di rumahmu. Aku akan membantumu untuk menjaga mereka semua” – Ucap Alvan
“Apa kau bercanda?! Bukankah kamu ingin pergi ke suatu tempat karena ada urusan? Selesaikanlah urusanmu terlebih dahulu” – Ucap Laudy
“Urusanku itu bisa aku tunda, yang terpenting sekarang adalah keselamatanmu dan yang lainnya. Tolong izinkan aku menginap aku menginap di rumahmu” – Pinta Alvan
“Huh, baiklah jika kau memaksa. Aku tidak ingin anak-anak yang lainnya terluka karenaku, kamu boleh menginap di rumahku hanya untuk malam ini, karena kamu juga memiliki keluarga yang harus kamu jaga. Semuanya, aku pamit pulang” – Pamit Laudy
“T-Tunggu, kak!” – Celetukku
“Ada apa, Lyra?” – Tanya Laudy
“Terima kasih banyak karena telah menolongku, aku mereka sangat kagum padamu dan aku ingin menjadi hebat sepertimu. Bisakah aku berguru padamu?” – Tanyaku malu-malu
“Tentu saja bisa, dengan senang hati aku akan mengajarimu! Kamu bisa bergabung ke LA Group, aku menanti kehadiranmu di sana. Aku harus pergi, sampai jumpa!” – Pamit Laudy
“Lyra, ayo kita pulang ke rumahku” – Ajak Alvaro
Aku mengiyakan ajakannya, kami segera berpamitan dengan Luna dan Azran. Mereka adalah sepasang kekasih yang baru saja jadian, tidak nyaman mengganggu kebersamaan mereka berdua. Biarkan mereka menikmati waktu mereka berduaan saja, dunia serasa milik berdua.
• ~ • ~ • ~ •
Jalanan mulai sepi dan hawa malam sangat dingin, di tambah denganku yang hanya memakai baju lebar sepanjang lutut. Aku ingin cepat sampai di rumah, kenapa perjalanan ini terasa begitu panjang? Tiba-tiba pundakku terasa sedikit berat, sebuah kain tebal di pakaikan ke tubuhku. Aku menoleh ke arah Alvaro dan dia hanya menampilkan senyuman hangat untukku, senyumannya membuatku terpana.
“Malam ini udaranya terasa dingin, pakailah ini dan jangan dilepas” – Ucap Alvaro
“Oh, terima kasih. Tapi bagaimana denganmu? Pasti kamu juga merasakan kedinginan” – Ucapku
“Tidak juga, aku juga sedang memakai jaket. Jadi aku tidak merasa kedinginan, lagi pula jaket yang sedang kamu pakai itu bukanlah milikku” – Ucap Alvaro
“Bukan milikku? Lalu, milik siapa ini? Jangan bilang jika kamu memungutnya!” – Tanyaku
“Kamu bisa melihat dari logo pada bagian depan dari jubah itu, aku mencuri darinya” – Jawab Alvaro enteng
Aku melihat ke bagian depan dari jubah hitam ini, ada sebuah logo berbentuk huruf LA di sana. Aku teringat akan ajakan Laudy untuk masuk ke dalam LA Group, sepertinya jubah ini milik Laudy. Aku mengerutkan alis, berarti Alvaro telah mencuri jubah ini darinya. Aku menoleh ke arah Alvaro, raut wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Padahal dia telah melakukan sebuah kesalahan, bagaimana perasaan Laudy setelah ia tahu bahwa jubah miliknya telah di curi oleh Alvaro?
Di sisi lain, sepasang insan sedang berjalan bersama di malam hari yang indah.
“Malam ini terasa sangat dingin, kamu tidak memakai jubahmu?” – Tanya Alvan
“Jubahku telah dicuri oleh Alvaro, itu hal yang biasa. Aku akan mengambilnya nanti” – Jawab Laudy
“Kalian selalu saja bertengkar ketika kalian berdua bertemu, seperti anak kecil saja. Laudy, pakailah ini agar kamu tidak kedinginan“ – Ucap Alvan
“Terima kasih, Alvan. Tapi aku tidak perlu jaketmu ini karena aku masih kuat menahan hawa dingin ini, mungkin Raisa akan membutuhkannya” – Ucap Laudy
Laudy meraih jaket yang diberikan oleh Alvan dan memakaikannya pada tubuh kecil Raisa yang berada dalam gendongan Alvan. Alvan hanya tersenyum saat melihat sikap perhatian Laudy pada adiknya yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
“Kamu selalu mendahulukan anak-anak dalam segala hal, mereka pasti bangga memilik sosok ibu sepertimu. Kau adalah seorang ibu yang hebat!” – Puji Alvan
“Kau juga seorang ayah yang hebat dan bertanggung jawab, Alvan” - Puji Laudy
Mereka menatap satu sama lain dan saling melempar senyuman terbaik mereka, saling memberi semangat untuk tetapi bertahan hidup agar bisa menjaga keluarga mereka. Kini, aku telah sampai di halaman rumah Alvaro, ia mempersilahkanku untuk masuk lebih dulu dan aku segera masuk ke dalam rumahnya.