My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 15 •




Setelah membaringkan Lyra di kasurnya, aku segera menutup pintu. Takut Pak Andrian akan mencidukku karena masuk ke kamar putrinya, aku akan segera keluar setelah urusanku selesai. Aku mengambil kotak P3K yang kuambil dari lemari Lyra, aku membuka kotak itu dan segera mengeluarkan beberapa perban dan obat merah untuk Lyra. Aku mengamati setiap luka ditubuhnya dan berusaha untuk mengobati lukanya dengan perlahan.


“Maaf, Lyra. Aku izin untuk membuka bajumu, ada luka di bagian punggungmu” – Bisikku


Dengan perlahan, aku mengangkat badan Lyra dan melepas pakaiannya. Saat melihat tubuhnya, membuatku syok. Banyak luka ditubuhnya, luka akibat perkelahian hebat tadi terlihat jelas di antara bekas luka lainnya. Yang membuatku penasaran dengannya adalah di bagian lengan kedua tangannya selalu terlilit perban.


“Dia sepertinya sedang menutupi sesuatu dari balik perban itu, bolehkah aku membukanya? “ – Gumamku


Tanpa pikir panjang, aku mulai membuka lilitan pada lengan Lyra. Tepat di bagian urat nadi, di sana ada banyak bekas luka sayatan. Membuatku tak tahan menahan air mata setelah melihat bagaimana keadaan gadis kesayanganku yang kutinggalkan selama ini.


“Hiks, Lyra?! Apa yang telah kau lakukan?! Bagaimana bisa kamu melukai dirimu sendiri!!” – Ucapku


Aku memeluk tubuhnya, namun aku segera melepaskan tubuhnya. Aku teringat akan tugasku, aku mengobati luka Lyra dan segera memakaikan pakaiannya tadi yang sempat aku lepas. Kemudian aku beralih ke telapak tangannya, menggenggamnya dengan erat sambil memukul kepalaku sendiri.


“Maaf, maafkan aku! Aku bukan laki-laki yang bertanggung jawab, padahal aku sudah berjanji padamu untuk membalas perbuatan baikmu padaku” - Tuturku


Tidak, ini tidak bisa kubiarkan. Aku mengelus rambut indahnya dan mengecup keningnya. Lyra mulai menggeliat, menandakan ia mulai sadar. Aku berusaha untuk tetap tenang dan masih menggenggam tangan kecilnya, membuatnya mulai membuka kedua matanya.


“Kali ini aku tidak akan berbohong lagi dan akan berkata jujur padanya. Aku akan membiarkannya melihat sosok asliku, walaupun tadi dia telah melihatnya. Aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya” – Gumamku


Lyra menatap ke arahku, dia mengerutkan alisnya. Lyra segera duduk dan menggosok kedua matanya, lalu kedua matanya terbelalak setelah melihat keberadaanku.


“Aaaa!! Ke-keluar kau!! Ke-keluar kau dari sini!! Jangan dekati aku! Tolong, j-jangan sakiti aku!” – Teriak Lyra


Tubuhnya gemetar hebat, membuatku panik. Namun aku tak tahu apa yang harus kulakukan, Lyra mulai melempar berbagai macam barang yang ada di sekelilingnya dan menyuruhku untuk keluar dari kamarnya. Mau tak mau, aku melakukannya dan segera beranjak dari kursi.


“Maaf telah mengganggumu, aku tidak bermaksud apa-apa padamu. Aku hanya ingin menolongmu” – Ucapku


Aku segera berlari keluar dari kamarnya, perkataan itu saja yang bisa kukatakan padanya. Untuk saat ini, aku hanya bisa bersandar dibalik pintu kamar yang tertutup dan menunggunya untuk tenang. Hatiku semakin gelisah saat mendengar suara pecahan kaca dan beberapa barang berjatuhan di dalam sana, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk saat ini.


“P-pergilah dari depan kamarku!! Menjauhlah dariku!!” – Teriak Lyra


Lyra berteriak diiringi tangisan, membuatku panik dan segera menjauh dari kamarnya seperti apa yang dia minta. Aku duduk di samping kamarnya dan beberapa kali mendorong kepalaku sendiri ke dinding, rasa bersalah dalam diriku.


“Bodoh, bodoh! Apa yang telah kau lakukan?!” – Gumamku


Aku terus menyalahkan diriku sendiri, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan menunggunya di luar kamar.


...• Lyrandra POV •...


“Ava(Alvaro) !!! Kau telah membohongiku selama ini!! Aku pikir kau adalah teman yang baik! Ternyata kau sama saja dengan orang lain! Aku membencimu, Ava(Alvaro)!!” – Teriakku


Emosiku tak terkendali, aku melempar semua barang yang ada di hadapanku dan menangis histeris.


...“Hentikan semua kebohongan yang ada dihidupku, aku lelah dengan semua ini”...


Aku mengambil carter, terlihat darah kering di pisaunya. Aku tak peduli dan mengarah kan pisaunya ke tanganku. Duk! Duk! Duk! Suara itu berhasil membuatku berhenti dari aktivitas menyayatku, aku segera mempertajam pendengaranku. Suara itu terdengar dari depan kamarku, aku segera berlari ke meja belajarku dan menyalakan komputerku.


Aku melihat rekaman CCTV di depan kamarku, terlihat laki-laki yang masuk ke kamarku tadi sedang mendorong kepalanya ke dinding beberapa kali. Aku tidak bisa melihat seseorang menyakiti dirinya sendiri, aku meneguk air ludahku sendiri dan memberikan diri untuk membuka pintu kamarku.


“Sepertinya ini salahku karena telah mengusirnya, dia begitu karena aku? Dia terlihat seperti laki-laki yang baik, tapi jangan percaya pada orang lain. Apalagi seorang laki-laki, itu sangat berbahaya” – Gumamku


Aku ingin mencoba mengecek apakah dia laki-laki yang baik atau bukan, aku memegang gagang pintu. Tanganku bergetar, suara benturan kepalanya terdengar lebih jelas. Membuatku muak, aku tak bisa membiarkan seseorang menyakiti dirinya sendiri. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu dan bruk! Laki-laki itu terjatuh dan menindih tubuhku, kedua matanya terlihat berlinang air mata.


“Maafkan aku, Lyra. A-aku – “ – Lirihnya


“Ti-tidak apa-apa, bangunlah!” – Ucapku


Laki-laki itu segera berdiri dan mengulurkan salah satu tangannya kepadaku, mau tak mau aku menerima uluran tangannya dan berdiri. Aku menatapnya cukup lama hingga dia berdeham, aku langsung sadar dan segera memalingkan kan pandanganku darinya.


“Ehm, Lyra? Bisakah kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku katakan padamu” – Tanyanya


“Ya, silakan. Sebelum itu, jawab pertanyaanku. Siapa sebenarnya kamu?!” – Tanyaku


“Lyra, aku Alvaro. Apakah kamu mengingatku? “ – Tanya Alvaro


“Alvaro? Aku tidak mengingatmu. Memangnya siapa kamu, beraninya kau masuk ke kamarku tadi!? Dan kau berbohong padaku bahwa kau seorang wanita!! Kau gila! Aku membencimu!” – Bentakku


“Ly-Lyra! Dengarkan aku! A-aku – argh! “ – Ucap Alvaro


Alvaro mengacak rambutnya sendiri dan menampar salah satu pipinya. Alvaro terus memukul wajahnya sendiri, membuatku panik dan segera menghentikannya. Aku menahan kedua tangannya dan menatap wajahnya, air mata keluar dari pelupuk matanya. Dia menggenggam kedua tanganku yang berada di samping wajahnya, dia menangis.


“Hei, ada apa? Kenapa kamu menangis? “ – Tanyaku


Alvaro terus-menerus mengucapkan kata maaf dan menggenggam erat kedua tanganku, aku segera menarik kedua tanganku dari genggamannya. Aku memeluknya dan menepuk punggungnya, berusaha untuk menenangkannya.


Drrrtt! Sebuah panggilan masuk ke handphone milikku, aku langsung melepaskan pelukanku dan segera meraih handphone yang terletak di atas kasur.