
Setelah sampai di tujuan, aku segera turun dari mobil dan berlari mendekati ibuku.
"Ibu, aku datang! Aku sangat merindukan ibu!" - Teriakku
Seperti anak kecil yang ceria pada umumnya, aku menceritakan banyak hal kepada ibu. Kak Carel berdiri tak jauh dariku, dia tidak ingin mengganggu waktu kami berdua. Bahkan aku juga menceritakan kejadian yang terjadi di lorong, saat aku berusaha untuk membunuh ayahku. Siapa pun yang mendengar kisah ini mungkin akan bergedik ngeri, tapi reaksi ibu tentu berbeda dari yang lain. Hingga hari tak terasa menjelang malam, aku memutuskan untuk segera pulang.
"Ibu, terima kasih telah mendengar kisahku. Aku harap, ibu tenang di sana. I Love You, mom" - Ucapku
Air mata yang kutahan sedari tadi kutahan akhirnya tumpah juga, rasanya aku ingin lebih lama berada di sini. Aku memeluk batu nisan yang bertulisan nama ibu di sana, ayah tak pernah mengunjungi ibu sejak ibu meninggalkan dunia ini. Kenapa ibu pergi secepat ini?! Aku ketakutan, ibu! Aku takut jika ayah akan memperlakukanku seperti dulu lagi karena aku ketahuan mencoba untuk membunuh ayahku sendiri. Aku tidak memiliki keberanian untuk membela diriku sendiri.
"Kak, ayah tidak akan membunuhku, kan? Ayah telah berjanji padaku untuk tidak memperlakukanku dengan baik, ayah akan menempati janjinya, kan?!" - Tanyaku
"Iya, Lyra. Kamu tenang saja, beliau sangat menyayangi Lyra. Jadi tidak mungkin ayahmu akan melakukan hal sekejam itu padamu" - Jawab Carel
Kami segera meninggalkan tempat pemakaman ibu dan pulang ke rumah, kematian ibu mengingatkanku pada sebuah kejadian di mana aku harus menutup mulut atas kejadian itu.
Selama di perjalanan, aku menatap kosong jalanan malam. Carel sesekali melirik ke arahku dari pantulan kaca.
"Tenang saja, Lyra. Aku akan melindungimu apa pun yang akan terjadi" - Gumam Carel
Terlintas di pikiranku tentang Alvaro, membuatku merasa bersalah tatkala mengingat Andra yang telah melukainya. Setelah sampai di tempat parkir mobil, aku segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung. Aku mempercepat langkahku menuju ruang kesehatan, akhirnya aku sampai di sana dan mendapati Alvaro sedang bersenda gurau dengan beberapa perawat yang sedang berada di dalam sana.
"Tck! Ada pengganggu. Lebih baik aku kembali ke kamar" - Keluhku
Sayangnya Alvaro lebih dulu menyadari keberadaanku dan melambaikan salah satu tangannya ke arahku, niatku untuk kembali ke kamarku seketika menghilang. Alvaro memanggil namaku dan memintaku untuk menghampirinya, orang sakit harus dibantu. Dengan keterpaksaan, aku menuruti permintaan kecilnya dan berjalan menghampiri Alvaro. Dia memintaku untuk duduk di tepi kasurnya, para perawat mulai berjalan meninggalkan kami berdua di ruang kesehatan ini. Aku ke sini karena ingin meminta maaf pada Alvaro atas apa yang telah kulakukan padanya, dia menatapku dan dari raut wajahnya seperti tahu jika aku ingin berbicara dengannya.
"Alvaro, Aku minta maaf karena telah melukaimu" - Tuturku
"Ini bukanlah salahmu, Lyra. Bukan kamu yang melukainya, tapi Andra, kan? Kenapa kamu yang harus meminta maaf?" - Tanyanya
"Andra tidak akan meminta maaf pada orang yang telah ia sakiti, jadi akulah yang akan menggantikannya meminta maaf padamu. Lagi pula kejadian saat aku tidak sengaja menusukmu, itu bukanlah ulah si Andra, melainkan dari diriku sendiri. Jadi ini salahku, maafkan aku" - Jawabku
"Ah, baiklah. Aku paham, Aku telah melihat berapa kejamnya si Andra. Aku penasaran, bagaimana bisa ada jiwa lain dalam dirimu?" - Tanyanya
Setelah mendengar jawabanku, Alvaro terlihat sedang memikirkan sesuatu. Keningnya mengerut dan sesekali memijat pelipisnya, diselingi dengan gumaman kecil. Bugh! Dia memukul kepalanya sendiri, keadaannya membuatku khawatir. Aku menepuk salah satu pundaknya, dia menoleh ke arahku.
"Hei, jangan dipikirkan perkataanku tadi. Lupakan itu dan beristirahatlah!" - Ucapku
Aku telah memberikan beban pikiran, masalah yang bersangkutan dengan Andra adalah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan Alvaro ikut campur dalam masalahku, akhirnya kami diam seribu bahasa. Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan pada Alvaro dan dia sedari tadi hanya diam sambil memikirkan sesuatu, aku juga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Dirasa tidak ada lagi yang harus aku bicarakan dengannya, aku segera bangkit dari tepi kasur. Tep! Namun salah satu tanganku ditahan oleh Alvaro, aku menoleh ke arahnya.
"Tunggu sebentar, Lyra. Bisakah kamu menceritakan padaku apa yang telah terjadi padamu? Aku mengenal dirimu yang dulu, aku telah mendapati banyak perubahan dari dirimu. Apa yang telah terjadi selama aku tidak bersamamu?" - Tanya Alvaro
"Itu bukan urusanmu, bukankah wajar jika seseorang berubah? Kita bahkan belum mengenal lebih dekat tentang satu sama lain, jadi aku memilih untuk tutup mulut untuk saat ini" - Jawabku dingin
Ah iya, aku lupa bahwa kamu telah melupakanku...
Seketika raut wajahnya menjadi murung, senyuman pahit terukir di bibirnya. Oh tidak, aku telah melukai perasaannya. Tapi aku tidak mungkin menceritakan kisah masa laluku yang ingin sekali kulupakan, walaupun aku telah berhasil melupakan sebagai kecil dari masa laluku. Tiba-tiba dia menyingkap lengan bajuku dan terlihat beberapa sayatan di sana, aku tersentak. Aku langsung menarik kasar lenganku dan segera menutupi luka sayatanku itu, aku bergegas pergi ke kamar dan meninggalkan Alvaro yang masih terdiam membeku.
• Alvaro POV •
"Huh, Alvaro... Apa yang telah kau lakukan?! Luka sayatanku itu mengingatkanku pada masa laluku saat masih bersamanya" - Gumamku
• Flashback On •
Saat itu, umur kami menginjak 9 tahun. Kami baru saja pulang dari sekolah, kami pulang berjalan melewati tepi sungai yang dangkal. Salah satu tanganku sedang memegang sebuah cincin seukuran orang dewasa, aku menunjukkan cincin itu pada Lyra.
"Wah, bagus sekali. Dari mana kamu mendapatkan cincin itu?" - Tanya Lyra
"Aku mendapatkannya di jalan saat aku berangkat ke sekolah, aku ingin memberikan cincin ini pada ibu. Pasti ibu akan merasa senang!" - Jawabku
Raut wajahku berseri-seri tatkala memikirkan reaksi bahagia dari ibuku dan Lyra setuju dengan saranku, tiba-tiba seseorang menabrakku dengan cukup keras hingga cincin yang berada di tanganku terlempar ke sungai. Aku terkejut dan segera turun ke sungai dengan diikuti oleh Lyra, untung saja sungai ini dangkal. Jadi kami masih bisa mencari keberadaan cincin itu, kami melipat kedua lengan baju kami dan memulai pencarian kami. Kami berpencar untuk mencari cincin yang hilang. Tak lama kemudian, Lyra mengangkat kedua tangannya.
"Alvaro, aku menemukannya!" - Teriaknya
Aku merasa sangat senang karena cincin itu telah ditemukan, namun aku salah fokus pada lengan Lyra. Ada beberapa goresan luka di sana, aku tercengang melihatnya.