My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 12 •




Rina keterlaluan, aku meringis kesakitan. Pandanganku mulai kabur, namun aku sebisa mungkin menahan kesadaranku. Salah satu pipiku ditampar, membuatku kembali sadar dan kedua mataku terbelalak.


“Hei, lihatlah kelakuan pacarmu! Kau harus merasakan apa yang telah kurasakan! “ – Teriaknya seraya menunjuk salah satu pipinya yang terlihat bekas tamparan


“Lepaskan!! Sejak kapan aku punya pacar?! Aku tidak punya pacar! “ – Tegasku


“Hei, beraninya kau berbohong padaku! Kau harus kuhajar, katakan pada pacarmu! Jika dia berani menamparku lagi, maka aku tidak segan-segan untuk membunuhmu!” – Ancam Rina


Aku berusaha untuk melepaskan rambutku dari tangannya, namun nihil. Tenagaku mulai melemah, aku memejamkan kedua mataku. Bugh! Sebuah pukulan mengenai wajahku, sudah kuduga jika yang memukulku adalah seorang laki-laki pacarnya. Aku lelah, siapa pun tolong aku!


“Aku berharap, jika sisi lain dariku kambuh dan memberi mereka pelajaran” - Gumamku


...• ~ • ~ •...


Aku terbangun di sebuah ruangan yang sempit, aku mengamati sekelilingku. Aku duduk di atas kasur dan pandanganku terpaku pada seorang pria tua yang sedang berdiri tepat di depan pintu, pria itu melangkah masuk ke dalam dan langsung mencekikku.


“Dasar anak nakal! Kau berhak dihukum atas ini, kau membuat anakku terluka parah! “ – Bentak Pria Itu


“Oh, itu bukan urusanku. Lebih baik bapak menjenguk anak bapak, takutnya dia mati di sana” – Jawabku


Bapak itu mengangkat salah satu tangannya untuk memukulku, namun segera ditahan oleh seorang gadis yang tak lain adalah anaknya.


“Ayah, hentikan! Jangan memukulinya, biarkan dia beristirahat!” – Teriak gadis itu


Pria itu mendengus kesal, lalu merangkul putrinya dan berjalan keluar dari ruangan sempit ini. Aku menatap mereka dengan tatapan kosong, gadis yang kulihat tadi adalah Rina dengan berbagai perban di tubuhnya. Rina terluka parah seperti apa yang dikatakan oleh pria tua itu, aku menghela nafas.


“Kenapa mereka pergi? Apa yang baru saja aku lakukan pada mereka? “ – Gumamku


Bugh! Sebuah benda menghantam keras dari belakang kepalaku, membuatku pingsan kembali.


...• ~ • ~ •...


...• **Alvaro POV** •...


Sore hari tiba, aku berjalan menikmati suasana senja hari. Aku telah bersiap dengan memakai wig dan dandanan cantik beserta berpakaian jas navy yang Lyra berikan kemarin, Lyra pulang sekolah saat sore hari.


“Dia mengajakku berkencan sore ini, betapa senangnya diriku” – Gumamku


Aku gembira saat mendapat pesan dari Lyra siang tadi, dalam pesan itu tertulis bahwa Lyra ingin mengajakku untuk bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari sekolahnya.


Setelah sampai di kafe, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kafe. Terlihat seorang gadis dengan rambut diikat, sedang diam menundukkan pandangannya ke bawah. Tak salah lagi, sepertinya gadis itu adalah Lyra.


Aku berjalan cepat mendekati Lyra dan menyapanya, namun dia tak berkutik sama sekali. Aku memegang pundaknya dan berhasil membuat Lyra mengangkat kepalanya, aku tercengang setelah melihat keadaan wajahnya yang dipenuhi dengan hansaplast.


“Lyra?! Apa yang terjadi dengan wajahmu?!” – Tanyaku Khawatir


“Aku... Dikeluarkan dari sekolah” – Jawab Lyra Lesu


“Apa?! Tapi kenapa?! Apa yang telah kamu lakukan sehingga kamu dikeluarkan?!” – Tanyaku


...• Lyrandra POV •...


Aku kembali sadar setelah dipukul dengan keras di bagian belakang kepalaku, aku bangun dan langsung dihadapkan dengan kepala sekolah. Aku di duduk kan di sebuah kursi dengan kedua tangan dan kakiku diikat di kursi, aku mencoba untuk melepaskan ikatan itu.


“Lyra, tenanglah. Jangan memberontak dan dengarkan kepala sekolahmu” – Ucap Seseorang


Aku terkejut setelah mendengar suara itu, suara itu adalah suara ayahku. Ayah duduk tepat tak jauh dariku, ayah tersenyum tipis ke arahku. Disisi kanan kepala sekolah, telah berjejer murid-murid yang menggangguku saat dikelas tadi. Wajah mereka babak belur, mereka melemparkan tatapan tajam ke arahku. Aku hanya bisa diam dan menundukkan pandanganku ke bawah, merasa menyesal akan perbuatanku.


“Lyra, kamu tahu apa yang telah kamu lakukan? Ini bukanlah yang pertama kalinya kamu hampir membunuh seorang murid disekolah ini, kami lelah dengan tingkah lakumu. Sudah lama kami menahanmu disekolah ini karena kamu termasuk murid yang pintar, tapi untuk sekarang kami tidak tahan lagi dengan tingkah lakumu” – Ucap Kepala sekolah


“Dengan ini kami sepakat untuk mengeluarkanmu dari sekolah”


“A-apa?! Tunggu, tolong biarkan aku menjelaskan semuanya! Kenapa kalian semua langsung mengambil tindakan tanpa tahu apa alasanku melakukan itu!! Tolong dengarkan aku terlebih dahulu! “ – Teriakku


“Maaf, Lyra. Alasanmu selalu tak masuk akal, jadi kami menganggap jika kamu hanya mengada-ngada dan berhentilah berbohong! Bapak tidak mau mendengar alasan apa pun darimu, sekarang keluarlah dari sekolah ini! “ – Bentak Kepala Sekolah


Aku syok mendengar perkataan Kepala sekolah, bagaimana bisa mereka tidak memberiku waktu untuk menjelaskan semuanya!? Ini bukanlah salahku! Aku hanya, ugh! Baiklah, jika mereka menginginkan aku keluar dari sekolah ini. Tapi, bagaimana dengan ayah? Apakah ayah akan marah padaku? Aku tak berani untuk menatap mata ayah, aku merasa bersalah.


“Ayo Lyra, kita pulang. Terima kasih atas semuanya para guru dan saya minta maaf dengan tingkah laku anak saya” – Ajak Ayah


Ayah melepaskan ikatan di kedua tangan dan kakiku, ayah membantuku berdiri dan kami segera berjalan menuju pintu keluar. Setelah kami berada di lorong, aku tak henti mengatakan kata maaf kepada ayah.


“Nak, kamu tidak perlu meminta maaf terus menerus. Ini bukanlah salahmu, sayang” – Ucap Ayah


“Maaf, aku mengecewakan ayah untuk yang ke sekian kalinya” – Ucapku


“Itu bukan masalah, ayo kita pulang” – Ajak Ayah


“Tapi Ayah, aku ingin bertemu dengan Ava sore ini di kafe” – Ucapku


“Oh, putri Ayah sudah punya teman. Baiklah, Ayah izinkan. Pergilah dan bersenang-senang lah” – Ucap Ayah


Aku segera berjalan lebih cepat meninggalkan Ayah dan pergi menuju kafe yang telah kujanjikan pada Ava(Alvaro) untuk bertemu.


...•Flashback Off •...


...• Alvaro POV •...


Aku terdiam setelah mendengar cerita dari Lyra, dia memang seharusnya keluar dari sekolah itu. Aku tersenyum tipis ke arahnya, dia langsung memelukku. Aku terdiam beberapa menit, namun aku membalas untuk memeluknya. Dia mulai menangis, aku berusaha untuk menenangkannya. Melihat lukanya yang banyak di wajahnya, sepertinya dia telah menanggung semua yang ia alami dan memendamnya untuk dirinya sendiri.


...“Lyra, berjanjilah padaku untuk tidak memendam sendiri semua yang kamu alami. Aku ada di sini untukmu”...


Setelah aku mengatakan itu, suara tangis Lyra semakin kencang. Membuat para pelanggan lain merasa terganggu oleh suara tangisannya.


Aku ingin mengajaknya pergi, namun sepertinya akan merusak suasana hatinya. Aku berbisik kepadanya agar suara tangisannya dikecilkan, dia mendengarkanku dan mulai sekuat tenaga memberhentikan tangisannya. Dia melepas pelukannya dan terlihat ingusnya yang masuk keluar dari hidungnya, aku ingin tertawa saat melihat wajah lucunya.