My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 11 •




Dan kali ini aku menang, mereka semua terjatuh dan sebagian pingsan tak sadarkan diri. Di tengah perkelahian, aku menyempatkan diri untuk bercerita betapa mengerikan pacarnya itu. Aku ingin membuatnya sadar bahwa pacarnya bagaikan lon**.


...• Flashback On •...


Saat itu, aku sedang bersandar di dinding seraya menunggu Lyra keluar dari WC perempuan. Terdengar suara keributan dari kerumunan para siswi yang tak jauh dariku, aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Suara mereka membuat lorong menjadi sangat berisik, mereka semua menatap ke arahku.


“Woi, ada cogan! Ayo dekatilah dia! “


“Aaaa! Dia milikku! Aku lebih dulu! “


Ternyata mereka sedang membicarakanku karena aku tahu saat mereka menunjuk-nunjuk ke arahku, membuatku risih. Seorang gadis maju lebih dulu, berjalan mendekatiku. Aku berusaha untuk mengabaikannya, namun dia menarik dasiku yang membuatku menoleh padanya. Dia tersenyum manis, membuatku ingin muntah saat melihatnya.


“Hei, boy~ kau sangat tampan. Jadilah pacarku, kau mau? “ – Tawarnya


“Memandangmu~ Hmm~ NAJIS!! Maaf, seleraku bukan lon** macam kau. Pergilah selagi aku bicara baik-baik” – Jawabku


Namun gadis itu mendekatkan tubuhnya ke arahku, membuatku ingin menghajarnya. Namun aku sadar, dia seorang gadis. Aku tidak ingin menyakiti seorang gadis, tapi sepertinya aku tidak bisa memperlakukan gadis ini dengan normal.


“Kau tahu aku, kan? Aku yang paling tercantik disekolah ini, kau yakin ingin menolak gadis secantik diriku? “ – Tanya Gadis itu


“Oh, aku tahu kau. Kamu yang mengunci Lyra di dalam gudang, kan? Bagus sekali! Bagaimana jika bergantian, kamu yang akan aku kurung digudang? Mau? “ – Tanyaku


Gadis itu tercengang, aku melemparkan senyuman manis ke arahnya. Terlihat keringat bercucuran dari dahinya, sepertinya dia mulai ketakutan. Aku menarik salah satu tangannya, namun dia langsung menepis tanganku. Sepertinya dia sadar jika aku ingin membawanya ke gudang tempat di mana dia mengunci Lyra di dalamnya. Gadis itu berjalan mundur dan berlari, namun aku menahannya dan menamparnya.


...• Flashback Off •...


Aku berjalan mendekati seorang laki-laki yang mereka sebut sebagai bos, dia adalah orang yang mengajakku berkelahi lebih dulu. Aku mencengkeram kerah bajunya dan menampar kedua pipinya, dia memohon untuk berhenti memukulinya.


“Jika kau bertanya tentang siapa yang memukul pacarmu? Itu memang aku yang melakukannya, kau tahu? Pacarmu bagaikan ****** yang suka menggoda laki-laki dan minus akhlaknya, dimohon untuk mengajari pacarmu dengan benar! Atau kedua kaki pacarmu akan aku patahkan, mengerti?!” – Ancamku


Laki-laki itu menganggukkan kepala tanda paham dan aku melepas kasar kerah bajunya, aku membersihkan pakaianku dan melempar seragam yang kupakai ke arah laki-laki itu. Untuk apa bersekolah, jika kelakuan tidak bisa diperbaiki? Aku berjalan meninggalkan mereka, namun langkah kakiku terhenti.


“Oh iya, dan satu lagi! Katakan pada pacarmu untuk tidak menindas orang lain, camkan itu! “ – Ancamku


Aku berjalan meninggalkan mereka, namun seorang pengendara motor berhenti tepat di hadapanku. Pengendara motor itu memberi isyarat untuk naik ke motornya, aku menganggukkan kepala dan segera menaiki motornya. Motornya melaju dengan cepat, membuatku hampir terjatuh.


“Carel! Tolong jangan cepat-cepat! Memangnya kita mau ke mana?!” – Tanyaku


“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, temani aku ke Cafe! “ – Ajak Carel


Kami berhenti di sebuah Cafe yang cukup ramai, ada beberapa pelanggan di dalamnya. Aku segera turun dari motor dan Carel memarkirkan motornya, lalu mengajakku untuk masuk ke dalam. Langkah kami mulai memasuki Cafe, semua mata tertuju pada kami. Lebih tepatnya ke arah Carel, dia langsung tebar pesona.


“Kak Carel datang! Bagaimana kabar kakak? Kakak, mau pesan apa?” – Tanya beberapa pelayan


“Dasar anak setan, kau mengajakku kesini untuk tebar pesona dengan para gadis ini?” – Tanyaku


Aku memutar bola mata malas, Carel menyapa semua karyawan di Cafe ini. Kami duduk di salah satu meja yang kosong, kami duduk berhadapan. Carel mengaitkan jari-jemarinya di atas meja, sepertinya dia akan membicarakan sesuatu yang serius.


“Aku akan bertanya satu hal, apa yang kau lakukan disekolah Lyra sewaktu aku pergi? “ – Tanya Carel


“Eh?! Kau tahu dari mana?! Jangan bilang kau menguntitku ya?!” – Tanyaku


“Hei, kau ini Bodyguard baru. Jadi aku harus memantau setiap pergerakanmu, jawab pertanyaanku tadi! “ – Tegas Carel


“A-aku hanya iseng masuk ke sekolah Lyra dan bertemu dengan gadis cantik, itu saja” – Jawabku


“Lalu? “ – Tanya Carel menatapku tak percaya


“Lalu... Aku dikejar oleh satpam dan bertengkar di luar gedung sekolah” – Jawabku


“Kau berbohong, kamu bertemu dengan Lyra kan? “ – Tanya Carel


“Aku tidak berbohong, aku serius! Aku bertemu gadis cantik bernama Lyra! “ – Tegasku


Carel memijat pelipisnya, lelah dengan tingkah laku Bodyguard baru bernama Alvaro ini. Aku hanya menundukkan pandanganku, apakah aku telah melakukan suatu kesalahan?


“Hei! Kau tahu jika ayahnya bersusah payah untuk mengirim Bodyguard ke sekolah Lyra, namun Lyra selalu mengetahui rencana ayahnya. Lyra mengancam ayahnya jika beliau mengirimkan Bodyguard ke sekolahnya, maka beliau akan dibenci oleh Lyra. Pak Andrian tidak ingin dibenci oleh anak kesayangannya” – Jelas Carel


“Oh, tapi Lyra tidak tahu jika aku seorang Bodyguard kan? Bukankah selama ini aku masih menyamar sebagai seorang wanita? “ – Tanyaku


“Ya, tapi sebaiknya kau jangan masuk ke sekolah Lyra untuk yang kedua kalinya. Bagaimana jika Lyra mengetahui identitasmu, tamat lah riwayatmu sobat” – Jawab Carel


Aku membantah larangan dari Carel, dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam gedung sekolah itu. Aku menceritakan semua yang kualami saat berada disekolah itu, namun respons Carel sangat tidak memuaskan.


“Jangan mengada-ngada, Lyra anak yang baik dan pintar. Tidak mungkin dia digertak, dia bercerita kepadaku bahwa dia selalu bermain akting bersama teman-temannya. Perlu kau tahu, Lyra masuk jurusan Teater “ – Ucap Caleb


“Karena itu dia pintar berakting di hadapanmu, jika dia berkata bahwa dia baik-baik saja. Itu semua bohong! Aku melihatnya dengan mataku sendiri! Dia digertak oleh teman-temannya!” – Tegasku


“Huh, aku telah mendengar kabar ini beberapa kali. Namun aku tak berani untuk masuk ke sekolah Lyra, karena Lyra adalah orang yang sangat peka akan sekitarnya. Dan Pak Andrian juga melarang kami untuk memantau Lyra saat berada disekolah, atau berada di sekitar sekolah Lyra. Intinya jangan melakukan apa yang kukatakan tadi” – Jelas Carel


Aku menahan geram, bagaimana bisa mereka membiarkan Lyra tersiksa disekolah yang seperti neraka itu.


...• ~ • ~ •...


...• Lyrandra POV •...


Seorang gadis menarik rambutku dengan kasar dan mendorong kepalaku hingga mengenai dinding, tetesan darah mulai mengalir dari keningku.