
Tak lupa aku menyempatkan diri untuk berpamitan dengan ayah dan menyalami tangan ayah, tanganku sempat mengalami tremor saat bersentuhan dengan tangan ayah.
“Nak, kamu tidak apa-apa?” – Tanya Ayah
“A-aku tidak apa-apa, aku pamit! Sampai jumpa, ayah! “ – Pamitku
Raut wajah ayah berubah menjadi khawatir, aku segera berlari menaiki motor yang telah disediakan. Aku menatap tajam ke arah ayah, aku harap ayah tidak melakukan hal yang sama.
“Tolong jangan kirim Bodyguard ke sekolahku! Jika ayah melakukan itu, aku akan membenci ayah! Camkan itu!” – Teriakku
Carel segera menyalakan motor yang sedang kunaiki dan kami mulai meninggalkan halaman gedung, aku bergumam-gumam sendiri di sepanjang perjalanan.
“Lyra, ada apa? Dari tadi kamu bergumam sendiri “ – Tanya Carel
“Tidak apa-apa. Hari ini kak Carel terlihat tampan” – Jawabku
“Hahaha, kamu bisa aja. Bagaimana hubunganmu dengan Ava? Pertemanan kalian baik-baik saja, kan? “ – Tanya Carel
“Ehm, baik. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dengan Ava. Dia aneh! “ – Jawabku
“Aneh? Apa yang membuatmu berpikir bahwa dia aneh? “ – Tanya Carel
“Tingkah lakunya seperti laki-laki, apa kakak tidak berpikir bahwa dia aneh? “ – Tanyaku
“Tidak, dia normal. Seperti kebanyakan wanita, mungkin karena dia tomboy” – Jawab Carel
“Betul juga! Kalau sudah pacaran, biasanya seseorang tak peduli dengan kekurangan pasangannya, aku baru mengingat akan hal itu” – Ucapku
“Lyra, dia bukan pacarku” – Ucap Carel
“Kakak bohong! Tadi malam aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri” – Ucapku
Carel hanya tertawa mendengar perkataanku, ternyata kak Car telah tumbuh dewasa. Aku akan mengajak Ava makan bersama setelah aku pulang sekolah nanti, sekaligus aku ingin bertanya sesuatu kepadanya.
Setelah beberapa menit, kami sampai di halaman sekolah. Aku segera turun dari motor dan menyalami tangan kak Carel, melihatnya dengan pakaian kasual seperti itu membuatku tertawa. Carel memang kuminta untuk berpura-pura menjadi bapakku, dan aku juga yang menyuruh Carel mengantarku dengan menaiki motor.
“Hati-hati ya, nak! Sekolah yang rajin! “ – Ucap Carel
“Iya, ayah! Sampai jumpa! “ – Pamitku
Aku segera masuk ke dalam gedung sekolah, Carel tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan dari seseorang yang berdiri tak jauh dari Carel, dia langsung menoleh ke arah asal suara itu.
“Hihihi, sosok ayah idaman” – Ucap Seseorang itu
Seorang laki-laki remaja memakai jaket yang menutupi wajahnya, laki-laki itu segera membuka jaketnya dan menampakkan wajahnya.
“Dasar bocah ingusan! Kenapa kau ada di sini? Bukankah pagi ini kau diliburkan untuk bekerja? “ – Tanya Carel
“Ya, aku tahu. Jadi aku iseng kemari karena melihat kalian berdua menaiki motor, kenapa kalian tidak naik mobil saja?” – Tanya Alvaro
“Karena Lyra tidak ingin kekayaannya terekspos ke murid sekolah, dia ingin terlihat sederhana” – Jawab Carel
“Dan kau disuruh jadi bapaknya? Kalian terlihat sangat lucu! Hahaha! “ – Ucap Alvaro
Alvaro menjulurkan lidah tanda mengejek ke arah Carel, namun dia hanya menghela nafas. Dia berusaha sabar terhadap Alvaro dan tetap bersikap profesional sebagai seorang Bodyguard, lalu Carel segera menyalakan mesin motornya dan melaju cepat meninggalkan Alvaro.
Namun Carel sempat memberikan jari tengah untuk Alvaro sebagai tanda perpisahan, dia hanya tertawa karena berhasil menjahili Carel. Alvaro menatap punggung Carel yang semakin hilang dari pandangannya, lalu ia menoleh ke arah gedung sekolah Lyra.
“Hmm... Sudah lama aku tidak pergi ke sekolah, aku penasaran dengan sekolah Lyra” – Gumam Alvaro
Alvaro mencari tempat yang sepi, lalu melompat ke atas pagar sekolah. Langkah kakinya mulai memasuki sekolah dan dia mulai mengendap-endap masuk ke gedung sekolah, dia menyamar sebagai murid di sana dengan mencuri pakaian dari gudang sekolah.
“Seragam anak SMA, aku terlihat sangat tampan dengan seragam ini” – Gumam Alvaro
Alvaro membanggakan dirinya di hadapan cermin besar yang terletak digudang, berharap agar identitasnya sebagai murid menyasar tidak terlihat.
...• ~ • ~ •...
...• Lyrandra POV •...
Di kelas, aku sedang duduk dengan tenang di kursiku. Aku mulai menulis sesuatu dibuku tulis, mengulang pelajaran sebelum pelajaran pertama dimulai. Tuk! Sebuah pulpen mengenai kepalaku, aku meringis kesakitan. Aku segera menoleh ke belakang, namun kepalaku langsung dilempar dengan buku.
“Hahaha, lihatlah dia! Hari ini wajahnya sangat jelek, bagaimana jika kita beri dia makeup? Mungkin akan terlihat cantik” – Ucap Seorang Gadis
Gadis itu berjalan ke arahku dan mencengkeram rahangku, gadis ini bernama Rina. Dia menatapku dengan tajam, lalu menarik rambutku. Aku berusaha melepaskan tangannya dari rambutku, namun tanganku dicegah oleh teman-temannya. Rina beserta teman-temannya menarikku ke WC dan mendorongku untuk masuk ke dalamnya.
Aku terjatuh akibat dorongan dari mereka, mereka menahan kedua tangan dan kakiku. Aku berusaha memberontak, namun kaki tanganku dipukul dengan rotan hingga memar. Mau tak mau, aku hanya diam dan wajahku dicoret-coret oleh mereka.
“To-tolong hentikan” – Rintihku
“Oh, jangan begitu. Tahanlah sebentar, kamu akan terlihat cantik dengan hiasan dari Rina sang bidadari” – Ucap Rina
Air mataku mulai mengalir, Rina mencengkeram rahangku dengan lebih kuat. Mengisyaratkan agar aku tak menangis karena riasan darinya akan pudar, aku berusaha menahan air mataku sebisa mungkin.
“Sudah selesai, bagaimana teman-teman? Dia terlihat cantik, kan? “ – Tanya Rina
“Iya, dia terlihat sangat cantik! “ – Jawab Teman-temannya
Bohong! Mereka bohong, mereka membuat wajahku seperti badut. Rina mengeluarkan handphone dan memotret wajahku yang dipaksa tersenyum oleh mereka, aku menahan rasa sakit akibat pukulan teman-temannya.
“Jika aku sebarkan foto ini, pasti kamu akan semakin terkenal. Lyra sang badut, hihihi” – Tawa Rina
Rina memerintahkan mereka untuk menyeretku ke suatu tempat, mereka langsung menarik kedua tanganku dan membawaku ke gudang. Aku mencoba untuk memberontak, namun aku dipukul lagi jika aku memberontak.
Pintu gudang terbuka, namun mereka berpikir akan lebih mudah untuk memasukkanku ke dalam sana. Mereka langsung mendorongku ke dalam dan mengunciku dari luar, aku mendobrak pintu gudang.
“Tolong, buka pintunya! “ – Teriakku
“Lyra yang manis, diamlah di sana sampai jam sekolah selesai ya? Kami pergi, bye~” – Ucap Rina
Suara langkah kaki mereka mulai menghilang, aku berusaha untuk mengetuk dengan keras dan sesekali mencoba untuk mendobrak pintu gudang. Namun hasilnya nihil, tak bisa terbuka pintu gudang ini. Aku menangis dan meringkuk tepat dibalik pintu gudang, lagi-lagi aku digertak oleh mereka.
Grusuk! Terdengar suara sesuatu bergerak dari kantong besar yang terletak tak jauh dariku, aku merinding ketakutan. Aku mencoba untuk berdiri dan bertumpu pada pintu, aku mulai menggedor pintu gudang beberapa kali.
“To-tolong! Buka pintunya!!” – Teriakku