My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 22 •




Tapi bagaimana pun juga, dia tetaplah ayahku. Aku masih membutuhkan sosok ayah dalam hidupku dan sekarang pun ayah sedang berusaha memperlakukanku dengan baik, tapi traumaku akan tetap sulit untuk dihilangkan. Walaupun begitu, aku tetap menghargai usaha ayah untuk melindungiku dan berbuat baik padaku. Tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang beberapa kejadian buruk yang membuat traumaku kambuh, aku menjambak rambutku sendiri.


"Argh! Sial, aku benci ayah! Dia lah yang telah membuatku menjadi seperti ini! Aku menderita karenanya!!" - Teriakku


Aku langsung turun dari kasur dan berlari menuju pintu kamar, Carel yang melihatku yang bergerak tiba-tiba segera menahanku. Namun ia tak sempat dan aku berhasil keluar dari kamar


"MATI! MATI!! Dia harus mati!! Bunuh!! Bunuh dia!!"


Aku tiba di sebuah lorong dan tidak ada siapa pun di sini, kecuali aku dan sesosok pria yang berdiri tak jauh darimu. Tubuhnya membelakangiku, terlihat pria itu sedang sibuk menelepon seseorang. Sosok pria itu adalah ayahku, perlahan aku mengeluarkan cutter yang tak pernah lepas dariku. Keinginanku untuk membunuh pria yang berada di hadapanmu ini semakin kuat, dia harus di bunuh!! Aku mengarahkan pisau cutter itu ke depan dan berlari ke arah pria brengsek itu. Jleb! Kedua mataku terbelalak, jantungku berdegup kencang setelah berhasil menusuk pisau cutter milikku pada tubuh manusia.


Tapi mengapa sosok Alvaro yang ada di hadapanku?!


Darah mulai mengalir dari perutnya, refleks aku mencabut pisau cutter milikku dan melemparnya ke sembarang arah. Kedua tanganku gemetaran, aku berteriak ketakutan. Aku takut! Aku duduk bersimpuh di hadapan Alvaro, Aku menangis histeris. Wajah Alvaro terlihat sedang menahan rasa sakit di bagian perutnya yang tak sengaja Aku tusuk, Alvaro berusaha untuk duduk dan memeluk tubuhku yang gemetar ketakutan.


"Aku tidak sengaja! Aku tidak sengaja! Maafkan aku!" - Teriakku


"T-tidak apa-apa, Lyra" - Ucap Alvaro


Para bodyguard mulai menghampiri kami, suara berisik dari sekitarku membuatku semakin ketakutan. Pelukan terlepas dari tubuhku, tubuh Alvaro di bawa semakin menjauh dariku. Tiba-tiba kedua mataku di tutup dengan sebuah kain hitam, kedua kaki dan tanganku di tahan oleh para bodyguard. Mulutku dibuka dan aku bisa merasakan beberapa butir obat dimasukkan ke dalam mulutku.


"Ditelan, Lyra! Ditelan!" - Teriak Seseorang


Aku masih bisa mengenal suara seseorang itu, suara itu berasal dari Kak Carel. Aku pun segera meneguk obat-obatan yang aku tak tahu obat apa yang baru saja Aku telan, rasa kantuk mulai menyerang dan aku tertidur. Di sisi lain, Pak Andrian terlihat syok dengan apa yang baru saja ia lihat dan beliau segera di bawa ke kamarnya. Setelah mengantar beliau ke kamar, para bodyguard mulai meninggal kamar Pak Andrian tatkala Carel datang setelah mengantar Lyra ke kamarnya. Kini tersisa Pak Andrian dan Carel di kamar itu. Beliau sedari tadi hanya duduk di tepi kasur seraya sesekali mengacak rambutnya, frustrasi dengan hidupnya sendiri.


"Bagaimana jika Lyra bersungguh-sungguh akan membunuhku?! Aku belum siap untuk mati! Aku tidak mau mati, tolong selamatkan aku! Lindungi aku, Carel!" - Teriak Pak Andrian


"Tentu saja, sebisa mungkin kami akan melindungi anda" - Ucap Carel


"Argh! Aku harus membunuh anak itu agar hidupku lebih tenang! " - Teriak Pak Andrian


"Tenang, Pak! Tolong jangan lakukan hal gila semacam itu!" - Sergah Carel


"Hehehe, setidaknya aku akan tambah kaya, kan?! Dan kau lihat sendiri, Lyra semakin hari semakin liar! Ku pikir dengan mempertemukan Lyra dengan Alvaro akan membuatnya menjadi dirinya yang dulu! Selama Andra berada di tubuh Lyra, aku tidak akan bisa membunuhnya!" - Keluh Pak Andrian


"Pak, sadarlah! Jangan membunuh anak bapak sendiri!" - Sergah Carel


"Hei, keparat! Sadar dirilah! Kau berada dipihak siapa?! Aku bisa saja membunuh keluargamu, jika aku mau! Camkan itu, Carel!" - Ancam Pak Andrian


"Alvaro, kutunggu kisah masa lalumu dengan Lyra" - Gumam Carel


Lalu Carel melangkah meninggalkan ruangan kesehatan dan pergi ke teras gedung untuk menghirup udara, beberapa kali dia menghela nafas karena lelah akan pekerjaannya.


Saat itu, aku berada di sebuah jembatan panjang tak berujung. Di hadapanku ada seorang laki-laki remaja sedang menatapku dengan tatapan kesal, aku tahu mengapa dia menatapku seperti itu.


"Tck! Kau gagal! Tidak bisakah kau menguatkan tekadmu untuk membunuhnya?! Kau hanya perlu membunuhnya, kamu harus melakukan hal itu dengan lebih serius!" - Bentaknya


"Kau pikir, itu hal yang mudah untuk kulakukan?! Tidak, aku bukan sepertimu! Dan dia tetaplah ayahku, aku tidak mungkin membunuh ayahku sendiri!" - Teriakku


"Kamu masih menganggap bahwa dia adalah ayahmu?! Jangan bercanda, Lyra! Setelah apa yang telah dia lakukan padamu, kau masih menyebutkan dirinya sebagai ayahmu?! Sadarlah, Lyra! Tidak mungkin seorang ayah melakukan hal sekeji itu pada anaknya sendiri!" - Bentaknya


Lalu, apakah kamu lupa dengan apa yang telah terjadi dengan ibumu?!


Aku terbangun dari mimpi burukku, nafasku tak beraturan dan keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku. Tubuhku gemetar, aku memijat kedua kakiku dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Aku menenggelamkan kepalaku di antara kedua kakiku, untuk ke sekian kalinya dia datang ke dalam mimpiku. Pertanyaan terakhirnya membuatku ketakutan, aku tidak ingin mengingat akan hal itu.


"Aku merindukan ibu" - Gumamku


Terdengar suara pintu kamar dibuka, aku menyingkirkan selimut dari tubuhku dan menoleh ke arah pintu. Kak Carel melangkah memasuki kamarku, aku segera memeluknya tatkala dia berdiri di samping ranjangku. Kak Carel membalas pelukanku dan sesekali mengelus lembut pucuk kepalaku.


"Apakah kamu mengalami mimpi buruk?" - Tanya Carel


"Iya, dia mendatangiku lagi. Dia mengingatkanku pada ibu, bisakah kita mengunjungi ibu?" - Tanyaku


"Tentu, kapan kita akan pergi ke sana?" - Tanya Carel


"Aku ingin pergi sekarang juga!" - Jawabku


"Tapi, bagaimana dengan keadaanmu? Kamu baru saja mengalami mimpi buruk" - Ucap Carel


"Aku tidak apa-apa dan aku baik-baik saja. Jika ada kak Carel bersamaku, aku merasa lebih baik" - Ucapku


Aku melepaskan pelukanku, kak Carel tersenyum padaku dan itu membuatku merasa tenang. Aku segera bersiap dan pergi ke tempat tujuan dengan menggunakan mobil yang dikemudi oleh Kak Carel.