
Para bodyguard mengetahui keadaan Pak Andrian dan segera berlari menuju ruang tamu, namun mereka tak berani berbuat apa pun jika bersangkutan paut dengan putri Andrian. Lyra langsung mengeluarkan sebuah cutter dari saku bajunya dan mengarahkan cutter itu ke arah leher beliau, di sana juga terlihat Carel sedang mencoba untuk menenangkan Lyra yang sedari tadi tertawa seperti layaknya orang gila yang kehilangan akal.
"Hei, jangan mendekat! Atau nyawa pria tua bangka ini akan melayang! Hahaha, apakah saat ini adalah sebuah kesempatan untuk membunuhnya? Aku sangat ingin membunuh pria ini!" - Teriak Lyra
"Tolong jangan lakukan itu, Andra! Tenanglah, kita bisa membicarakan masalahmu baik-baik" - Sergah Carel
"Membicarakan masalahku baik-baik?! Wah, sialan kau! Kau pikir, siapa yang membuat Lyra menderita seperti sekarang ini?! Pria sialan ini harus di bunuh sebagai pertanggungjawaban darinya!" - Teriak Lyra
"Hentikan!!" - Teriakku
Semua orang yang berada di ruang tamu terdiam dan pandangan para bodyguard mengamati sekeliling mereka, akhirnya suaraku terdengar sampai ke sana. Lyra tersenyum licik, lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Pak Andrian. Lyra berjalan ke arah kamera dan meraihnya, wajah Lyra memenuhi layar laptop milikku. Dia mengetuk kamera beberapa kali dan sesekali tertawa.
"Ouh, jadi percakapan kalian terdengar oleh bocah ingusan ini? Hahaha, Andrian pintar juga ya. Namamu Alvaro, kan? Ku minta kau untuk datang kemari jika ingin nyawa pria brengsek itu selamat, aku penasaran seperti apa dirimu" - Ucap Lyra
Lyra mengarahkan kamera itu ke arah Pak Andrian dan berjalan semakin dekat dengan beliau yang masih terduduk di lantai, Lyra berjongkok di hadapan beliau dan kembali mencekik kuat leher Pak Andrian dengan satu tangannya. Para bodyguard tak bisa menolong karena beliau sendiri yang melarang untuk mendekat dan membiarkan Lyra menyiksa dirinya, aku langsung mematikan laptop milikku dan berlari keluar rumah menuju gedung Andrian. Tetap saja berbagai macam pertanyaan memenuhi isi pikiranku, sosok Lyra yang sekarang adalah sosok yang kulihat saat dia hampir membunuhku dengan cara mencekik leherku.
Sosok yang dipanggil dengan nama Andra, aku sedikit mendapatkan jawaban dari beberapa pertanyaanku. Lyra seperti memiliki jiwa lain dalam dirinya. Setelah sampai di gedung, aku langsung menerobos masuk ke dalam dan sampailah aku di ruang tamu. Keadaan di sini masih terlihat sama seperti terakhir kali aku melihatnya.
"Andra, kamu boleh menyiksaku. Kamu boleh membunuhku, jika itu bisa menebus kesalahanku pada Lyra" - Tutur Pak Andrian
"Hahaha, kau memang harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Aku akan membunuhmu dengan cara yang lembut, aku ingin menyiksamu terlebih dahulu" - Ucap Lyra
"Hentikan, Andra!" - Teriakku
Sebuah goresan berhasil mengukir leher Pak Andrian, darah mulai mengalir dari goresan luka itu. Lyra menghentikan aktivitasnya setelah menyadari keberadaanku yang sedang berdiri tepat di belakangnya, dengan cepat dia melayangkan sebuah tendangan ke arahku. Refleks aku langsung menangkis tendangannya dan melayangkan sebuah pukulan ke arahnya yang membuat Lyra menjauhkan dirinya dariku, tinju milikku tak berhasil mengenainya. Terukir senyuman di bibirnya, raut wajahnya terlihat senang.
"Apakah kamu yang bernama Alvaro itu? Sungguh menakjubkan, seharusnya kau melawan saat aku mencekik lehermu pada malam itu" - Ucapnya
"Bahkan aku bisa saja membunuhmu jika aku mau, tapi aku tidak mau karena khawatir dengan tubuh Lyra yang tersakiti " - Ucap Alvaro
"Kau menyukai Lyra, ya? Menarik! Sekarang bersujudlah di hadapanku jika kau bersungguh-sungguh menyukai Lyra. Aku ingin mengetesmu, Alvaro" - Ucapnya
Seketika suasana menjadi hening, semua mata tertuju padaku. Mau tak mau aku harus melakukannya agar dia berhenti bertingkah dengan menuruti kemauannya. Aku pun bersujud di hadapannya, tanpa aku sadari bahwa dia mengangkat salah satu kakinya dan menginjak kepalaku. Darah mulai mengucur dari keningku karena terbentur lantai berkeramik, aku berusaha untuk menahan rasa sakit akibat injakannya. Kenapa dia sekejam ini?! Andra dan Lyra sangat bertolak belakang.
"Masih sadarkan diri? Wah, kau lolos! Aku merasa heran mengapa Lyra hanya menjadikanmu sebagai temannya, kau lebih cocok menjadi bodyguard Lyra. Aku penasaran, laki-laki seperti apa dirimu ini?" - Ucapnya
"Sadarlah! Kau lemah jika kau pingsan! Masa bodyguard Lyra selemah ini?!" - Bentaknya
Tenaganya kuat hampir menyamai laki-laki pada umumnya, aku tidak berani untuk melawannya karena dia memakai tubuh Lyra. Terlihat dari namanya, dapat kusimpulkan bahwa Andra adalah seorang laki-laki. Aku memahami itu sekarang, dia yang pandai berkelahi mengingatkanku pada Lyra di masa lalu. Tapi Lyra tidak sekasar ini jika dibandingkan dengan dirinya yang dulu, Aku merindukan sosok Lyra di masa lalu. Bugh! Sebuah tongkat dipukul pada bagian belakang leher Lyra hingga dia langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Maaf, pak Andrian. Andra terlalu kasar sehingga melukai orang lain, dia harus dihentikan. Maafkan saya karena telah memukulnya" - Tutur Carel
Carel lah yang membuat Lyra pingsan dan di saat yang bersamaan, aku mulai kehilangan kesadaran dan pingsan.
• ~ • ~ •
• Lyrandra POV •
Aku mulai membuka kedua mataku, kesadaranku kembali. Aku bangun dengan rasa sakit di bagian belakang leherku, aku mencoba untuk duduk dan memijat bagian belakang leherku. Rasa sakit ini tak asing lagi bagiku, untuk ke sekian kalinya aku kehilangan kesadaranku. Tak lama kemudian, Carel datang menghampiriku dengan membawa secangkir teh hangat dan dia menyodorkannya padaku.
"Minumlah, tenangkan dirimu" - Ucap Carel
"Kak Carel, apakah aku kambuh lagi?" - Tanyaku
"Ehm, ya. Tidak apa-apa, Lyra" - Jawab Carel
"Apa saja yang telah Andra lakukan? Apakah dia melukai seseorang?" - Tanyaku
Raut wajah Carel terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku, namun aku terus mendesaknya agar dia mau mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang telah terjadi selama kesadaranku hilang. Diawali dengan helaan nafas, Carel mulai menceritakan apa saja yang telah terjadi. Aku sangat terkejut setelah mendengar jawaban darinya, korban kali ini adalah Alvaro dan ayahku. Anda memang sangat membenci ayahku, aku paham akan hal itu. Tidak heran jika dia mencoba untuk melukai ayahku, tapi kenapa Alvaro harus ikut campur dalam kejadian itu?!
"Lyra, apakah kamu masih membenci ayahmu?" - Tanya Carel
"A-aku...aku berusaha untuk tidak membenci ayah. Tapi karena trauma, aku belum bisa tidak membenci ayahku" - Jawabku
"Tidak apa-apa, Lyra. Ayahmu bisa memaklumi rasa kebencianmu pada beliau, bahkan ayahmu rela mati jika itu bisa menebus kesalahan beliau" - Ucap Carel
Aku terdiam, ayah memang pernah berbuat jahat padaku.