
"Bwa! Bwa-bwa! " - Ucap Anak Perempuan itu
"Maaf mengganggumu, anakku hanya ingin melihatmu" - Ucap Laki-laki Itu
Aku tercengang, apa maksudnya? Laki-laki itu berjalan mendekatiku dan berdiri tepat di hadapanku, dia mendekatkan wajahnya kesalah satu telingaku.
"Berhati-hatilah dengan Alvaro, dia monster. Jangan sampai kamu jadi sasarannya" - Bisiknya
Aku langsung menjauhkan wajahku darinya, kenapa dia berkata seperti itu? Apakah dia mengenal Alvaro? Aku langsung menjauhkan telingaku darinya, siapa laki-laki ini?! Bahkan aku belum mengetahui siapa namanya.
Laki-laki asing itu melempar senyumannya sebelum dia beranjak pergi, aku masih terdiam di pintu masuk hingga seseorang menepuk salah satu pundakku yang berhasil membuatku terkejut dan dengan refleks aku menjauh darinya. Aku menatap seseorang yang sedang berdiri tepat di sampingku dengan tatapan takut, aku tidak bisa melihat lebih jelas sosok yang ada di hadapanku ini karena di sini pencahayaannya kurang.
"Putriku? Kenapa kamu di sini?" - Tanyanya
Terdengar dari suaranya, sosok yang berdiri di sisiku adalah Ayahku. Aku menghela nafas sebelum melarikan diri dari ayahku, aku menoleh ke belakang dan mendapati ayahku masih berdiri di dekat pintu masuk. Aku berlari memasuki kamarku dan mengunci pintunya, aku mengatur nafasku karena lelah berlari.
Aku terciduk oleh ayahku, pasti ayah akan mengomeliku karena keluar kamar di tengah malam. Terdengar suara ketukan pintu yang membuatku panik, Aku langsung melompat ke atas kasur dan menyelimuti seluruh tubuhku. Aku mencoba untuk mengabaikan suara ketukan pintu itu, ayah berusaha untuk bertemu denganku. Aku tidak ingin membukakan pintu karena aku belum siap untuk dimarahi oleh ayah, beberapa kali terdengar namaku dipanggil sari luar kamar. Aku berpura-pura tidak mendengar panggilan itu dan berusaha untuk tidur.
Tak lama kemudian, suara ketukan dan panggilan itu menghilang dan aku bisa tidur dengan tenang. Keesokan paginya, aku dibangunkan dengan suara ketukan pintu kamarku. Dengan keadaan setengah sadar, aku membuka pintu dan terlihat seorang pria tua berdiri tepat di hadapanku dengan tatapan yang seperti sedang menginterogasiku. Aku tercengang dan segera menundukkan pandanganku.
"Cepatlah bersiap dan turun ke bawah, asa yang harus kita bicarakan!" - Ucap Ayah dengan nada tinggi
"Iya, ayah. Aku akan segera bersiap" - Ucapku
Ayah segera beranjak pergi dari hadapanku, Aku menutup pintu dan menghela nafas kasar. Ayah membuatku merinding, Aku tidak bisa membantah jika ayah telah memasang raut wajah menakutkan seperti tadi. Aku segera bersiap, setelah selesai aku berlari kecil turun ke bawah. Tak lupa aku mempersiapkan mental untuk berhadapan dengan ayah. Kini, aku telah duduk berhadapan dengan ayahku. Sedari tadi ayah hanya diam sembari mengamati gerak-gerikku, membuatku semakin merinding. Aku ingin segera pergi dari sini!
"kamu tahu, kenapa ayah memanggilmu kemari?" - Tanya Ayah
"A-aku tahu, Aku telah melakukan kesalahan. Maafkan aku" - Jawabku
"Sekarang ayah minta kejujuran darimu, siapa yang kamu bawa masuk tadi malam?" - Tanya Ayah
Aku tercengang dengan pertanyaan yang baru saja ayah lontarkan padaku, padahal Aku telah berusaha untuk menghindar dari jangkauan CCTV dan menutup mulut para penjaga. Ayah memang tidak bisa dihindari, karena beliau adalah penguasa gedung ini. Ayah selalu memantau semua pergerakanku selama aku berada di gedung ini, hal itu membuatku merasa risih. Aku terdiam, tak berani untuk menjawab pertanyaan dari ayahku. Jika aku mengatakan yang sejujurnya, maka Alvaro akan dalam bahaya.
"Baiklah jika kamu tidak ingin menjawab pertanyaan ayah, sebenarnya ayah telah mengetahui siapa laki-laki yang kamu bawa masuk ke dalam gedung ini. Ayah hanya ingin kejujuran darimu dan memberitahukan alasan mengapa kamu membawanya masuk, tak disangka jika putriku membawa seorang laki-laki. Jika kamu tidak ingin mengatakannya, ayah jamin kehidupan laki-laki itu tidak akan tenang!" - Ancam Ayah
"A-ayah!" - Teriakku
"Bicaralah dengan jujur!" - Tegas ayah
"Apakah kamu tahu siapa sebenarnya Alvaro itu?" - Tanya Ayah
Pertanyaan kali ini membuatku berpikir keras, aku teringat akan Alvaro yang sebenarnya sedang menyamar sebagai seorang wanita bernama Ava. Teringat akan hal itu, membuatku kesal pada ayah. Aku mengepalkan kedua tanganku, Aku menatap tajam ke arah Ayah.
"Iya, Aku tahu siapa dia yang sebenarnya! Dia yang menyamar sebagai seorang wanita bernama Ava, ayah tega membohongiku!" - Teriakku
"Tak kusangka secepat itu kamu mengetahuinya, maafkan ayah. Itu ayah lakukan demi keselamatanmu, ayah terpaksa berbohong padamu. Ayah pikir, kalian memiliki hubungan dekat di masa lalu. Jadi ayah - " - Ucap ayah terpotong
"Jadi ayah menyuruhnya untuk menjadi bodyguard Ku?! Bukankah telah kukatakan pada ayah bahwa Aku tidak butuh bodyguard! Itu hanya akan membuat nyawa seseorang terancam, ayah pasti paham akan perkataanku, kan?!" - Bentakku
"Iya, ayah paham. Tapi dia membutuhkan uang dan ayah membantu dia dengan memperkerjakannya sebagai bodyguard" - Ucap Ayah
"Jika ayah ingin membantunya, ayah bisa memberinya uang tanpa memperkerjakannya! Bukankah ayah memiliki banyak uang?! Jangan pelit untuk membantu seseorang yang sedang mengalami kesulitan! Ok, fine! Apakah ada hal lain yang ingin Ayah bicarakan denganku?!" - Tanyaku dengan nada tinggi
"Ada satu hal lagi, ini tentang memperkerjakan Alvaro sebagai bodyguardmu" - Jawab Ayah
"Ayah pasti ingin bertanya padaku, apakah Aku menerima Alvaro sebagai bodyguard Ku? Jawabannya adalah TIDAK!!" - Jawabku dengan nada setengah berteriak
"Kenapa tidak? Ayah pikir, kalian berteman akrab" - Ucap Ayah
"Justru itu yang aku inginkan, aku ingin Alvaro sebagai temanku! Bukan sebagai bodyguard!" - Tegasku
Plak! Entah mengapa salah satu tanganku bergerak dengan sendirinya dan menampar kedua pipiku, pandanganku mulai mengabur dan kepalaku terasa pusing setelah mendapatkan tamparan keras dari diriku sendiri.
• Alvaro POV •
Dikamarku, aku sedang mengamati layar laptop milikku yang sedang menampilkan keberadaan ruang tamu dan di sana ada Lyra dan Pak Andrian. Beliau sedang berusaha untuk menyadarkan Lyra yang terjatuh dan tak sadarkan diri, saat ini beliau dan aku memang sedang melakukan video call. Pak Andrian sengaja mengajakku untuk video call agar aku bisa mendengar keputusan dari Lyra secara langsung, keputusan tentang memperkerjakanku sebagai bodyguard Lyra.
"Ayah pikir kalian memiliki hubungan dekat di masa lalu - " - Ucap Pak Andrian Terpotong
Perkataan yang telah di ucapkan Pak Andrian tadi, beliau tidak sempat untuk melanjutkan perkataannya karena lebih dulu dipotong oleh Lyra. Tapi untuk sekarang, aku mengabaikan perkataan beliau dan fokus untuk mengamati keadaan Lyra yang mengkhawatirkan. Terlihat Lyra mulai sadarkan diri dan segera duduk, rambut panjangnya menutupi wajahnya.
"Sialan, dia salah dalam memilih!" - Teriak Lyra
Aku tercengang saat melihat Lyra menyerang Pak Andrian dan mencekik leher beliau dengan kedua tangannya, beliau terlihat sedang berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Lyra yang kian menguat.