
Lyra berjalan menghampiriku dan memberikan cincin itu padaku, dia mulai berjalan untuk keluar dari sungai. Namun aku langsung meraih salah satu lengannya dan pandanganku tak bisa lepas dari gorengan luka itu, aku bertanya-tanya pada diriku.
“Dari mana datangnya luka-luka itu?” – Gumamku
Lyra hanya tersenyum, seakan-akan dia paham tentang apa yang sedang kupikirkan.
“Sshttt! Berpura-puralah tidak melihatnya. Nanti aku dimarahi lho” – Ucapnya
Aku terdiam, Lyra menarik lenganku dan mengajakku untuk pulang karena hari semakin sore. Aku mengiyakan ajakannya dan kami pulang bersama hingga jalan memisahkan kami berdua.
• Flashback Off •
Aku yang masih polos saat itu pun mengabaikan luka-luka itu dan berpura-pura tak pernah melihat itu, seperti apa yang telah dikatakan Lyra padaku.
Rasa sakit mulai menyerang lagi, aku merebahkan tubuhku. Aku menatap langit-langit ruangan ini, mengingat beberapa kenangan bersama Lyra membuatku meneteskan air mata.
“Kenapa aku meninggalkannya?! Bodohnya aku!” – Gumamku
Kedua mataku terasa berat, aku ingin tidur. Aku mengekspresikan air mata yang sempat membasahi kasur tempat aku berbaring saat ini, aku memejamkan kedua mataku hingga aku tertidur dengan sendirinya.
Keesokan paginya, aku dikejutkan dengan kehadiran Lyra tepat di hadapanmu. Aku baru saja membuka kedua mataku, diriku langsung disuguhkan dengan wajah Lyra yang begitu dekat dengan wajahku. Refleks aku duduk dan Lyra langsung menjauh dariku, raut wajahnya terlihat gelisah. Ada apa dengannya? Aku mengangkat salah satu alisku, bingung dengan tingkah lakunya. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti orang yang sedang berbicara, kedua tangannya bergerak seakan-akan sedang menjelaskan sesuatu. Tapi aku tidak bisa memahaminya karena suaranya tidak keluar.
“Lyra, aku tidak bisa memahami apa yang kamu maksud. Bicaralah!” – Ucapku
“Ah, iya... Aku... Aduh, bagaimana cara membicarakannya ya? Baiklah Alvaro, aku minta maaf” – Ucap Lyra
“Karena apa kamu meminta maaf padaku?” – Tanyaku
“Untuk... Untuk yang kemarin, perkataanku sangat kasar dan... Cobalah lihat ini!” – Jawabku
Lyra memberikanku selembar foto usang yang sedikit terbakar di bagian ujungnya, seorang wanita sedang merangkul dua anak kecil. Mereka tersenyum bahagia, aku bisa mengenali sosok mereka.
“Alvaro, aku semakin yakin bahwa kamu adalah teman yang telah kulupakan dari masa laluku, maafkan aku. Wanita itu adalah ibuku dan kedua anak kecil itu adalah kita, tolong ceritakan kepadaku apa yang kamu ingat tentangku di masa lalu. Mungkin bisa dimulai dari bagaimana pandanganmu tentang ibuku?” – Ucapnya
Baiklah, mungkin inilah saatnya untuk bernostalgia tentang masa lalu kami. Diawali dengan helaan nafas, aku mulai menceritakan tentang apa yang masih aku ingat hingga saat ini.
Ibu Lyra adalah sosok ibu yang sangat baik, biasanya ibu Lyra akan mengajak kami untuk membuat kue bersama karena ibu Lyra seorang penjual kue. Walaupun hasil membuat kue terkadang tak memuaskan, tapi kami menikmatinya.
Pernah pada suatu hari, kami sedang membuat kue di siang menjelang sore hari. Di tengah keseruan kami, tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari ruang tamu. Kami yang saat itu masih kecil, kami merasa ketakutan dan bersembunyi dibalik punggung ibu Lyra. Suara teriakan mulai terdengar dari ruang tamu itu, tapi suara itu langsung menghilang tatkala ibu Lyra memasangkan kami sebuah headset. Lagu kesukaan kami diputar pada headset kami, ibu Lyra tersenyum dan mengajak kami keluar rumah dari pintu belakang. Setelah kami berada di halaman belakang, aku melepaskan headset dan menatap ke arah ibu Lyra yang tak berhenti tersenyum kepada kami.
“Ibu Lyra, apa itu tadi? Seperti ada suara laki-laki di dalam rumah” – Tanyaku
“Ayah Lyra terkena pecahan kaca, oleh karena itu ayah berteriak karena kesakitan” – Jawab Ibu Lyra
Ibu Lyra memasangkan kembali headset ke telingaku, ayah Lyra tak pernah menunjukkan sosoknya kepadaku dan aku pun tak pernah melihat bagaimana perawakan ayahnya Lyra. Kami terus berjalan hingga sampailah kami di sebuah taman kecil, biasanya kami menghabiskan waktu bermain di sini. Kami melepaskan headset kami tatkala ibu Lyra menepuk pundak kami dari belakang, kami menghadap ke arah ibu dan beliau berjongkok di hadapan kami.
“Kalian berdua bermainlah di sini, ibu yang akan menyelesaikan membuat kuenya. Jangan ke mana-mana sampai ibu kembali ya?” – Ucap Ibu Lyra
Kami mengangguk paham, ibu Lyra mengambil headset kami dan membawanya pulang ke rumah Lyra yang tergolong sederhana. Kami segera bermain di sana hingga kami merasa bosan, matahari telah tenggelam dan ibu Lyra belum kembali untuk menjemput kami. Kami mulai merasa ketakutan karena hanya kami berdua di taman ini, tidak ada siapa pun kecuali suara jangkrik.
“Alvaro, ibu di mana? Lyra takut” – Tanya Lyra
“Mungkin sebentar lagi ibu akan datang, kita tidak boleh takut! Harus berani!” – Jawabku dengan lantang
Walaupun aku berkata seperti itu, sebenarnya aku juga merasa takut. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang dan berani karena aku adalah anak laki-laki, namun Lyra malah berteriak seraya menunjuk ke arah sosok hitam yang sedang berjalan ke arah kami. Kami langsung berlari dan bersembunyi di arena permainan, aku ingat sekali saat itu Lyra anak yang penakut. Tangannya tak pernah lepas dari lenganku dan terus bersembunyi dibalik punggungku.
“Baa! Ketemu!”
Kami berteriak histeris, sosok hitam yang kami lihat tadi adalah ibu Lyra. Beliau tertawa kecil melihat kami yang ketakutan, kami merasa kesal karena telah ditakuti. Ibu Lyra tersenyum dan meminta maaf pada kami, rasa kesal kami langsung mereda saat ibu Lyra memberi kami kue buatan beliau. Kami segera memakan kue itu bersama, senyuman dari ibu Lyra tak pernah lepas dari bibirnya.
Senyuman dari seorang ibu selalu memberi ketenangan, namun untuk ke sekian kalinya aku salah fokus pada perban yang ada di kening kiri ibu Lyra. Seingatku tidak ada perban di sana sebelum beliau meninggalkan kami di taman sore ini, kulihat Lyra menarik baju ibunya dan membuat ibunya menoleh ke arah anaknya.
“Ibu, kenapa kening ibu ada perban? Ibu terluka?” – Tanya Lyra
“Hanya luka kecil saat membuat kue tadi, ibu tidak apa-apa” – Jawab Ibu Lyra
Ku pikir hanya aku yang menyadari akan luka yang ditutupi oleh perban itu, ternyata Lyra juga menyadari keadaan ibunya yang sedikit aneh dalam penampilan beliau. Perban itu tidak terlalu terlihat karena tertutupi oleh poni, tapi mata kami tak bisa membohongi. Namun dengan sekejap, kami mengabaikan luka di kening ibu Lyra. Kami segera menghabiskan kue buatan ibu Lyra, lalu beliau mengantarku pulang ke rumah. Saat di rumah, aku memberikan kue buatan ibu Lyra kepada ibuku.