My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 28 •




Ayah menggedor-gedor pintu kamarku diiringi dengan teriakan yang memekikkan telinga. Aku menutup kedua telingaku dan berusaha untuk tetap tenang, tubuhku gemetaran.


"Buka pintunya, sayang! Atau kudobrak paksa pintu ini! Hahaha, ayolah sayang!" - Teriak Ayah


Rasanya aku ingin berteriak, namun mulutku tertutup sangat rapat seakan-akan telah diberi lem pada mulutku. Hingga pada akhirnya tak terdengar lagi suara ketukan di pintu kamarku, bayangan kaki ayah mulai menghilang dari balik pintu. Aku berjalan perlahan menuju pintu, memutar kuncinya dan membuka pintunya. Aku mendongakkan kepalaku keluar kamar dan menoleh ke kanan dan ke kiri, aku tidak mendapati siapa pun di sekitar kamarku. Aku segera menutup pintu kamar dan sesekali menghela nafas lega, kali ini aku berhasil lolos dari amukan ayahku.


Brak! Pintu kamarku didorong dengan keras hingga terbuka lebar dan aku refleks menoleh ke arah pintu, tubuhku terdorong dan terjatuh ke lantai. Aku tertindih oleh tubuh seseorang, dan setelah itu...


• Flashback Off •


Air mataku mengalir, itu adalah kejadian terburuk yang pernah aku alami dalam hidupku. Aku meringkuk di bawah shower yang masih menyala, aku menangis cukup lama hingga seseorang mengetuk pintu kamar mandi.


"Lyra, apa kau ada di dalam?! Kenapa kamu lama sekali?!" - Teriak Alvaro


"Ah, iya! Sebentar lagi aku selesai!" - Sahutku


Aku mengusap wajahku dengan kasar dan berdiri, aku segera menyelesaikan aktivitas mandiku. Setelah membersihkan seluruh tubuhku, aku meraih pakaian yang Alvaro berikan padaku. Aku memakai baju dan celana itu, namun pakaian itu terlalu besar untuk tubuh kecilku, ukuran baju itu sepanjang lututku dan aku pun melepaskan celana yang sedang kupakai. Ya, penampilanku sekarang terlihat lebih baik.


Aku segera keluar dari kamar mandi dan mendapati Alvaro telah berdiri tepat di hadapanku, ia tertawa setelah melihat penampilanku. Tidak lucu, aku menginjak salah satu kakinya dan pergi meninggalkannya. Namun Alvaro langsung mencegahku pergi dengan memegang salah satu lenganku, aku menoleh ke arahnya dan raut wajahnya terlihat masih sedang menahan tawa.


"Aku hanya bercanda, Lyra cantik. Kamu terlihat sangat menggemaskan!" - Ucap Alvaro


"Tidak lucu, bajumu terlalu besar untukku! Apakah kamu tidak memiliki baju yang lebih kecil dari baju ini?!" - Tanyaku dengan nada tinggi


"Jangan marah, nanti cantiknya hilang. Maaf ya, bajuku yang lainnya sedang dicuci. Lagi pula aku tidak pernah memakai baju itu lagi karena ukurannya tidak sesuai denganku, sepertinya baju itu lebih sesuai ditubuhmu! Ambil saja baju itu jika kamu mau" - Jawab Alvaro


"Tapi baju ini khusus untuk laki-laki! Aku masih memiliki baju dirumah, aku hanya akan meminjam baju ini untuk sementara waktu" - Ucapku


"Berhubungan dengan rumahmu, untuk saat ini kamu jangan pergi ke sana. Berbahaya! Untuk sementara waktu, kamu tinggallah di rumahku untuk bersembunyi dari kejaran para bodyguard dan ayahmu" - Jelas Alvaro


"Tapi, bagaimana keadaan kak Carel di sana?! Apakah dia akan baik-baik saja?! Bagaimana jika ayah mencoba untuk membunuhnya seperti saat di ruangan kesehatan itu?!" - Teriakku


"Lyra, dengarkan aku! Utamakan keselamatanmu sendiri! Carel pasti akan baik-baik saja, jangan khawatir. Sekarang, makanlah! Aku telah membuatkan makanan untukmu, aku harus pergi ke suatu tempat" - Ucap Alvaro


"Ke mana kamu akan pergi?! Kau akan meninggalkanku sendirian di sini?!" - Tanyaku


"Maaf, Lyra. Aku hanya akan pergi sebentar, tolong jaga dirimu selagi aku pergi. Aku akan segera kembali secepatnya" - Jawab Alvaro


Aku segera masuk ke rumah dan mengunci pintunya, aku berjalan ke arah dapur dan terlihat semangkok sup hangat di atas sebuah meja kecil. Aku duduk di lantai dan mulai memakan sup itu, rasanya enak. Aku langsung menghabiskan sup itu hingga tak tersisa sedikit pun di mangkuk itu.


Aku menoleh ke arah jendela yang berada di dapur, terlihat hari mulai senja. Aku segera mencuci mangkuk yang baru saja aku gunakan, terlihat beberapa piring kotor bertumpukan memenuhi wastafel dan banyaknya pakaian kotor di satu ember penuh.


"Dasar laki-laki ini, rumahnya terlihat berantakan. Benarkah dia sedang mencuci pakaian? Jemuran pun terlihat kosong, dia tidak sedang mencuci bajunya" - Gumamku


Tanpa banyak bicara, aku langsung mencuci semua piring dan pakaiannya yang kotor. Lalu membereskan barang-barang yang berserakan di dalam rumah, akhirnya rumah ini terlihat lebih bersih dari sebelumnya. Pakaian yang telah bersih segera aku jemur di halaman rumah. Pakaian terakhir baru saja selesai aku jemur, terdengar teriakan seseorang yang membuatku terkejut.


"Ketemu! Cepat tangkap dia!" - Teriaknya dengan suara lantang


Aku menoleh ke arah asal suara teriakan itu, dari kejauhan terlihat beberapa orang berhasil hitam berlari ke arahku. Aku tidak asing dengan penampilan mereka, aku memicingkan kedua mataku. Astaga, mereka adalah bodyguard ayahku.


"Jika aku bersembunyi di rumah, maka aku tidak bisa melarikan diri jika aku tertangkap di dalam rumah. Aku harus bersembunyi di tempat lain!" - Gumamku


Aku langsung berlari ke arah yang berlawanan, berusaha untuk menjauh dari mereka. Cukup lama aku berlari dan bersembunyi, namun tetap saja mereka bisa mengetahui keberadaanku. Aku berlari masuk ke sebuah jalan kecil yang terletak di belakang rumah-rumah, aku sibuk melihat ke arah mereka sehingga aku tak melihat ada sebuah batu berukuran sebesar batako yang menghalangi jalanku. Aku pun tersandung dan terjatuh, betapa cerobohnya aku! Mereka telah sampai di hadapanmu sebelum aku sempat berdiri.


"Cukup, Lyra! Kamu tidak akan bisa lari dari kami! Kembalilah ke rumah, ayahku mengkhawatirkanmu" - Ucap salah satu bodyguard


"Dia mengkhawatirkanku?! Bohong! Ayah mencariku agar bisa menyiksaku sepuasnya! Aku lelah, biarkan aku pergi!" - Teriakku


"Ouh, ada apa ini? Drama di sore hari?" - Tanya Seseorang


Suara itu berasal dari belakangku, aku langsung menoleh dan kudapati seorang wanita berjaket hitam panjang berjalan menghampiriku. Bersamanya seorang anak kecil yang sedang ia gendong, wanita itu membantuku untuk berdiri dengan satu tangan lainnya. Kuamati wajahnya, sepertinya tidak sesuai jika aku menyebutnya sebagai wanita. Dia terlihat seperti seumuran denganku, dia seorang gadis. Gadis itu melemparkan tatapan tajam ke arah para bodyguard dan menyuruhku untuk mundur ke belakang.


"Siapa kau?! Jangan ikut campur dalam masalah kami! Pergi kau, gadis sialan!" - Teriak Mereka


"Jaga ucapan kalian, manusia sampah!" - Sahut Gadis Itu


"Kau tidak apa-apa?" - Tanyanya


"Aku tidak apa-apa" - Jawabku


"Syukurlah... Kalau begitu, bisa tolong jaga adikku sebentar. Ada sesuatu yang harus aku urus" - Ucapnya


Dia memberikan anak yang sedang ia gendong itu kepadaku, aku langsung menggendong anak itu dan dia memintaku untuk berpaling darinya.