
“Hei, jangan main-main denganku. Akan kutebas lehermu itu! Kau Bodyguard yang menggodaku saat aku menyamar menjadi wanita, kan?! Apa hobimu menggoda orang lain?!” – Bentak Laki-laki Remaja itu
“Jangan menilai orang lain sembarangan, bocah! Aku ini Bodyguard pertama yang direkrut oleh Pak Andrian, namaku Carel ” – Jawab Carel
“Ah, Carel! Akan kuukir namamu di batu nisan! “ – Ucap Laki-laki Remaja itu
“Dasar bocah ingusan, dan siapa namamu? “ – Tanya Carel
“Alva, Alvaro” – Jawab Alvaro
Carel terdiam setelah mendengar nama laki-laki remaja itu, Alvaro adalah sebuah nama yang sering diceritakan oleh seseorang kepadanya. Ternyata orang itu telah menemukan anak ini, syukurlah.
“Hei, kau tanya apa hubunganku dengan Lyra? Hanya sebatas keluarga saja, tidak lebih” – Ucap Carel
“Keluarga?! Kau jadi apa di keluarganya? Babu? Pelakor? “ – Tanya Alvaro
“Bukan, bodoh! Pak Andrian dan Lyra telah menganggapku sebagai keluarga mereka, aku menganggap Lyra sebagai adik kandungku sendiri. Jadi tolong jangan salah paham ya, Alvaro? “ – Jawab Carel
“Bagaimana aku tidak salah paham, orang sepertimu diperbolehkan masuk ke kamarnya selain Pak Andrian dan aku. Tapi, kenapa Pak Andrian memperbolehkan aku masuk ke kamar Lyra? Bukankah kata beliau, Lyra tidak suka seseorang masuk ke dalam kamarnya? “ – Tanya Alvaro
“Karena kau spesial dimata beliau” – Jawab Carel
“Hah?! Spesial? Maksudnya?” – Tanya Alvaro
“Nanti kamu akan tahu sendiri, aku pamit kembali bekerja. Kau pulanglah!” – Usir Carel
“Hei, sepertinya kau tahu banyak tentang keluarga Lyra! Apakah aku boleh bertanya satu hal kepadamu?” – Tanya Alvaro
“Sesi tanya jawab ditutup, pergilah! Ini sudah larut malam” – Jawab Carel
Alvaro berusaha untuk membujuk Carel, namun dia menolak untuk menjawab pertanyaan dari Alvaro. Mau tak mau, Alvaro menyerah dan segera beranjak dari halaman gedung itu. Sebelum pergi, Alvaro memberikan salam perpisahan berupa jari tengah untuk Carel dan Carel hanya membalas salam Alvaro dengan senyuman manis, membuat siapa pun akan meleyot saat melihat senyuman Carel, ahay~
Disisi lain, aku bangun dari tidurku. Aku membuka kedua mataku secara perlahan, seluruh badanku terasa sakit. Aku mencoba untuk duduk, namun kepalaku kembali pusing. Aku menurunkan kedua kakiku dan mencoba untuk berdiri, namun kedua kakiku terasa begitu lemah dan aku langsung terjatuh. Kepalaku terkena rak buku, membuat beberapa buku terjatuh mengenai tubuhku.
“Sial, kenapa hari ini aku sesial ini sih?!” – Gumamku
Aku menyingkirkan beberapa buku yang mengenai kepalaku, salah satu buku terbuka dan selembar foto yang ditempelkan di dalam buku itu menarik perhatianku. Aku segera mengambil buku itu, selembar foto itu terasa asing bagiku.
“Si-siapa ini? “ – Tanyaku
...Bertanda tangan, Alvaro....
Aku menutup buku yang sedang kupegang dan melihat judul bukunya, My Bodyguard Knows My Secret. Aku tercengang, aku mendekatkan kedua mataku ke arah foto itu agar bisa melihat lebih jelas.
“Bukankah buku ini adalah buku novel yang Ava(Alvaro) baca tadi pagi? Kenapa buku ini ada dikamarku? Dan sejak kapan ada selembar foto orang asing di sini?” – Tanyaku
Berbagai macam pertanyaan terlintas di pikiranku, membuatku kembali merasakan sakit kepala. Aku merogoh laci di sebuah meja kecil dan mengambil sebotol obat, aku langsung meminumnya dan perasaanku sedikit tenang setelah meminumnya. Obat itu membuatku mengantuk, aku kembali ke ranjangku dan tidur.
...• Alvaro POV •...
Setelah aku diusir oleh Carel, aku kembali ke rumah dengan perasaan gelisah. Aku memikirkan bagaimana aku akan bertemu dengan Lyra besok? Aku tahu aku akan menyamar menjadi seorang wanita, tapi perasaan gelisahku membuatku tak ingin bertemu dengannya. Ditambah saat Lyra memandangku dengan tatapan jijik, seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar.
“Aku harus mencari tahu sendiri, mengapa Lyra tidak mengingatku sama sekali?! Aku merindukan dirinya yang dulu! “ – Ucapku
Tring! Sebuah pesan masuk ke handphone milikku, aku segera membuka isi pesannya. Pesan itu berhasil membuatku tersenyum tipis, aku segera membalasnya dengan singkat.
...“Besok kembalilah bekerja, tetaplah berpenampilan seperti seorang wanita”...
Aku menghela nafas, kapan aku akan terus berpenampilan seperti itu saat bersama dengan Lyra? Tapi jika aku benar-benar menunjukkan penampilan asliku sebagai seorang laki-laki remaja, apakah dia akan tambah membenciku? Lyra sekarang sedang dalam fase membenciku, aku tidak mungkin mendekatinya dengan penampilan asliku.
Keesokan paginya, aku segera bersiap dan berpenampilan sesuai yang diajarkan oleh mbak salon kemarin tentang cara berdandan ala wanita muda, lambat laun aku bisa jatuh cinta dengan diriku sendiri.
“Cakep amat gua, pantes cowok-cowok pada demen liatin gua. Anying lah! Gua enggak mau ngegay! “ – Ucapku
Apa pun akan aku lakukan demi bisa mendapatkan uang, sekaligus untuk menemui Lyra. Aku sangat penasaran dengan sikap Lyra yang selama ini aku amati, sikapnya sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Aku akan bertanya pada Carel, mungkin dia tahu sesuatu.
Aku segera keluar dari rumah dan berjalan menuju gedung, semua mata tertuju padaku dan hal itu membuatku risih. Apakah secantik itu diriku? Aku segera mempercepat langkah, namun secara tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“Hallo, kamu cantik sekali hari ini. Bolehlah aku meminta nomor teleponmu? “ – Tanya Orang itu
“Najis! “ – Jawabku
Aku langsung menampar salah satu pipinya dan berjalan lebih cepat meninggalkan orang aneh itu, orang-orang sekitarku mulai memperhatikanku. Aku berusaha mengabaikan pandangan mereka, secara tiba-tiba seseorang yang kukenal melambaikan salah satu tangannya ke arahku.
“Alvaro, kemarilah!” – Teriaknya
“Oh, Carel? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” – Tanyaku
“Menemani Lyra berbelanja, cepatlah masuk ke toko itu dan temui Lyra” – Jawab Caleb
“Hei, kau bukan bosku. Kenapa kau menyuruhku? “ – Tanyaku
“Ini perintah dari Pak Andrian, lebih baik turuti saja daripada kau dipecat oleh beliau” – Ucap Caleb
Aku menoleh ke arah sebuah toko yang ditunjuk olehnya, sebuah toko pakaian khusus wanita. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya, memalukan! Aku terpaksa harus masuk ke dalam sana. Tapi demi bisa bertemu dengan Lyra, aku akan masuk ke dalam sana.
Setelah masuk ke dalam toko itu, para pegawai melirik ke arahku karena bunyi bel pintu berbunyi menandakan seseorang masuk ke toko ini. Mata para pegawai terbelalak saat melihat kedatanganku, begitu juga dengan Lyra yang menyadari kedatanganku dan dia langsung menghampiriku.
“Ava(Alvaro) , kebetulan kita bertemu di sini! Aku merasa senang, ayo temani aku berbelanja! “ – Ajak Lyra
Aku menganggukkan kepala, aku sempat panik setelah masuk ke toko ini. Bagaimana jika Lyra curiga denganku, padahal aku sudah mempersiapkan jawaban basi untuknya. Namun berbeda dengan dugaanku, dia malah mengajakku untuk berbelanja bersama.
“Ava(Alvaro) ! Menurutmu, bagaimana dengan pakaian ini? Atau mungkin yang ini? “ – Tanya Lyra