My Bodyguard Knows My Secret

My Bodyguard Knows My Secret
• Chapter 17 •




Tapi, apa boleh buat, dia juga telah mengetahui rahasia terbesarku. Jadi dia akan dimasukkan ke dalam orang terpenting dalam hidupku, rahasiaku tidak boleh tersebar luas ke luar sana.


“Aku telah menyakiti banyak orang, bahkan termasuk orang yang aku sayang. Aku masih belum bisa mengendalikannya” – Gumamku


Aku menutup kaca jendela dan menatap kosong seisi kamarku yang terlihat berantakan, aku mulai membersihkan kamarku. Di antara beberapa barang yang berserakan, terlihat sebuah kertas putih yang berhasil menarik perhatianku. Aku segera meraih kertas itu dan membaliknya, ternyata kertas itu adalah selembar foto.


Foto sepasang insan sedang bersenda gurau di tepi jembatan. Foto yang bagus, milik siapa ini?


Aku menatap foto itu cukup lama dan terlintas di pikiranku wajah laki-laki itu mirip dengan Alvaro, sepertinya foto ini miliknya. Aku segera membuka jendela dan menoleh ke bawah, kulihat Alvaro sedang berbincang dengan Carel di halaman gedung. Aku mengurungkan niatku untuk memanggil Alvaro dan kembali menutup jendela kamarku, aku takut mengganggu perbincangan mereka berdua.


“Nanti saja aku akan mengembalikan foto ini, aku akan menyimpannya” – Gumamku


Aku menyelipkan foto itu di antara tumpukan beberapa buku dan segera beranjak tidur.


...• Alvaro POV •...


Aku turun dengan selamat dari jendela lantai 3, hampir saja aku terjatuh saat menginjak beberapa batu yang menjadi tumpuanku untuk turun. Aku menemui Carel yang sempat meneleponku tadi, aku langsung menemuinya begitu aku melihatnya berdiri tepat di samping pintu masuk.


“Carel, ada apa? “ – Tanyaku


“Cepatlah masuk dan temui Pak Andrian, beliau ingin berbicara sesuatu denganmu” – Jawab Carel


Kira-kira apa yang ingin pak Andrian bicarakan denganku, Carel memberitahuku bahwa Pak Andrian telah mengetahui semua tentang apa yang telah terjadi pada putrinya dan identitasku yang ikut terbongkar.


Aku merasa sedikit cemas jika aku akan diberhentikan dari pekerjaan ini. Aku segera berjalan masuk ke gedung dan menemui Pak Andrian yang sedang duduk santai di sofa tamu seraya menyeruput secangkir teh, aku menelan air ludahku dan mempersiapkan mentalku.


Pak Andrian tersenyum ke arahku dan mempersilahkanku untuk duduk, seharusnya beliau tidak memperlakukanku seperti ini. Aku hanya seorang Bodyguard Lyra di sini, tidak lebih. Aku langsung duduk dengan tegap dan Pak Andrian meletakkan cangkir tehnya di meja.


“Aku dengar, putriku hampir diculik ya? Apa yang kamu lakukan saat itu sehingga kau lengah dengan putriku? “ – Tanya Pak Andrian


“Saya minta maaf atas kelalaian saya, saya kehilangan jejak putri anda saat saya mengikutinya dari belakang setelah dia mengajak saya untuk bertemu di kafe. Sekali lagi, saya minta maaf” – Ucapku


“Kelalaianmu sangat fatal, bahkan putriku terluka karena kelalaianmu. Dan identitasmu juga terbongkar oleh putriku. Seharusnya saya memberhentikanmu dari pekerjaan ini sebagai mana yang tertera dalam surat perjanjian. Namun saya berpikir itu bukanlah hal yang bagus untuk putriku, kamu masuk ke kamar putriku saat aku mengunjungi kamarnya, kan? “ – Tanya Pak Andrian


Aku tercengang setelah mendengar penjelasan dari Pak Andrian, beliau tahu semua yang kulakukan dirumah ini. Ini berbahaya, bukankah aku telah melewati batas? Astaga, apa yang harus kukatakan pada Pak Andrian selaku ayahnya Lyra?


“Ma-maaf, Pak. Saya berjanji –“ – Ucapku


“Tidak apa-apa, sepertinya putriku sendiri yang menyuruhmu untuk masuk karena dia membukakan pintu untukmu. Aku akan bicara dengan Lyra tentang pekerjaanmu sebagai Bodyguard pribadinya. Apakah dia menerimamu atau tidak, itu keputusan Lyra dan mau tak mau kau harus menerima keputusannya” – Jelas Pak Andrian


Aku menganggukkan kepala tanda paham, Pak Andrian mencukupkan pertemuan kami dan mempersilahkanku untuk pulang. Pak Andrian akan mengirimkanku uang ke rekeningku untuk gaji dari tugasku selama beberapa hari ini, sedari tadi aku tak bisa melupakan raut wajah kekecewaan dari Pak Andrian. Aku tahu beliau sangat kecewa padaku karena tak becus menjaga putri kesayangannya, aku terus menerus menyalahkan diriku sendiri.


“Hei, bagaimana? “ – Tanya Carel


Aku menoleh, tak aku sangka aku telah keluar dari gedung dan sedang berdiri di pintu. Aku berjalan ke arah Carel dan duduk di sampingnya, aku mengacak rambutku karena frustrasi.


“Hei, ada apa? Pak Andrian memberhentikanmu dari pekerjaanmu? “ – Tanya Carel


“Aku tidak tahu, itu tergantung bagaimana keputusan Lyra” – Jawabku


“Ya, sabar Bro! Jika memang kalian berjodoh, pasti akan bersama lagi! “ – Ucap Carel


“Itu hal yang sudah biasa, kasih sayang seorang Ayah kepada putrinya. Yang kulihat dari beliau adalah sosok ayah yang baik bagi putrinya, sehingga beliau memperkerjakan orang lain untuk menjaga putrinya karena beliau sangat sibuk” – Ucap Carel


“Kau... punya Ayah? “ – Tanyaku


“Ehm, ya... Aku punya, namun sedang tidur di tanah” – Jawab Carel


“Oh? Kita sama, mungkin sosok Ayah meninggalkan kita agar anak laki-lakinya mandiri” – Ucapku


“Kita sama? Bagaimana dengan ibumu? “ – Tanya Carel


“Ibuku sakit dan sedang dirawat dirumah sakit, aku membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit ibuku” – Jawabku


Carel tak memberi respons apa pun dan hanya terdiam, aku juga tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan lagi dengannya. Karena jam menunjukkan tengah malam, kami mencukupkan pertemuan kami malam itu dan aku segera pulang ke rumah. Setelah sampai dirumah, aku langsung merebahkan diriku di kasur. Aku merogoh saku bajuku, namun aku tak menemukan benda yang kucari.


“Eh? Di mana fotoku?! Astaga! Seingatku, aku meletakkan fotoku disaku bajuku. Bagaimana jika terjatuh? Tapi jatuh di mana? Argh! Aku harus mencarinya!” – Gumamku


Aku segera keluar dari rumah dan berjalan dengan perlahan mengamati jalan yang aku lewati untuk pulang ke rumah, aku terus mencari keberadaan fotoku. Tanpa sengaja, aku menabrak seseorang dari belakang.


“Ah, maaf!” – Ucapku


Seorang pria yang kutabrak menoleh ke arahku, ditangan pria itu ada seorang balita perempuan yang sedang ia gendong. Anak kecil perempuan itu tertawa dan melambai ke arahku, namun tatapan pria itu seperti sedang menginterogasiku.


“Oh, kau? Alvaro? Sedang apa di sini? “ – Tanyanya


“Aku sedang mencari sesuatu” – Jawabku


“Mencari apa? “ – Tanya laki-laki itu


“Bukan urusanmu, sedang apa kau di sini? “ – Tanyaku


“Bukan urusanmu” – Jawabnya


Tck, dia malah mengikuti perkataanku. Karena kesal padanya, aku mengabaikan nya dan segera mencari tujuan pertamaku datang ke jalan ini.


“Hei, Alvaro! Kau sudah lupa denganku? “ – Tanya laki-laki itu


“Ya, kau... , ketua crew gila itu” – Jawabku


“Kau sendiri aliran sesat” – Ucapnya


“Diamlah kau! Lebih baik kau bantu aku mencari fotoku yang hilang” – Pintaku


“Foto? Aku tidak melihatnya” – Jawabnya


“Argh, baiklah. Aku pergi, sampai jumpa” – Pamitku


Aku segera meninggalkan duda anak satu itu dan berjalan menuju gedung Lyra, mungkin terjatuh didaerah sana.